Kubeli Suamimu

Kubeli Suamimu
Istri Sombong


__ADS_3

Setelah perdebatan dengan istri selesai, di isinilah Iqbal sekarang berada.


Tadinya Iqbal mau pesan ojol saja kerumah ibunya. karena tidak enak menikmati harta istrinya.


Namun Syakila kekueh agar suaminya mau membawa mobilnya. karena udara malam sangat amat teramat dingin. dan Syakila tidak ingin suaminya itu jatuh sakit. belum lagi ibu mertua nya pasti akan mengatakan jika menantunya itu pelit.


Tadinya juga Syakila mau ikut jenguk mertuanya. namun Iqbal tidak tega jika selalu menyaksikan sang istri di olok olok oleh ibunya. dan Iqbal pun mengatakan jika lebih baik istrinya itu istirahat saja. dan ahirnya Syakila menurut


"Ibu.." panggil Iqbal dan langsung membuka pintu.


Iqbal terkejut saat melihat ibunya tengah ngobrol asyik dengan seorang wanita. siapa lagi kalo bukan Ratih


"Iqbal, ahirnya kau datang juga." sambut ibunya


"ibu bilang, ibu sedang sakit." tanya Iqbal menuntut kejujuran sang ibu.


"ibu tidak apa apa. ibu hanya merindukan kamu." jawabnya


padahal tadi Syakila begitu hawatir saat mendengar ibu mertuanya tidak enak badan. namun malah ibunya itu membohongi anak dan menantunya.


"ibu,, besok besok jangan beralasan jika ibu sakit ya. kasian istriku sangat hawatir. Iqbal juga sangat hawatir Bu." ujar Iqbal


"Halah.. lebay banget istrimu itu. pakai sok sok hawatir dengan ibu. padahal dia sudah menjadikan suaminya itu pelayan dirumah nya sendiri." Kata Bu Rohmi dengan nada sinis


"ibu itu salah paham pada Syakila, dia itu wanita yang baik dan.."


"terus aja bela istri mu. kamu jangan cinta mati Bal. ingat dia yang sudah memaksa Imel untuk menjualmu." geram Bu Rohmi yang semakin nyolot.


"ibu..."


"Sudahlah Bal. mengalah saja sama ibu. lagian orang yang di bicarakan juga tidak ada disini kan" sela Ratih. Berusaha menengahi kedua orang beda usia yang tengah berdebat.


Hhhhm... Iqbal mendengkus dengan kasar. lalu menatap Ratih yang masih memijit ibunya.


"mbak Ratih, sejak kapan dekat sama ibu?" tanya Iqbal tiba tiba.


Ratih tergagap dengan lontaran pertanyaan dari Iqbal. pasalnya selama ini Ratih tidak pernah sedekat ini. paling hanya menanyakan kabar orang tua Iqbal saja.

__ADS_1


"Bal, jangan panggil mbak dong. Aku kan sudah tidak lagi menjadi bosmu, dan kamu juga bukan karyawan ku. lebih baik panggil nama saja ya." Sahut Ratih


"iya Bal, Ratih itu selalu menemani ibu loh setiap habis pulang kerja. jangan begitu lah sama Ratih," sahut ibunya


"Begitu gimana Bu? Iqbal cuma tanya sejak kapan Mbak Ratih dekat sekali sama ibu seperti ini?" tanyanya


"Sejak.. sejak bapak meninggal dan sejak kamu memutuskan untuk berhenti dari sopirku." jawab Ratih kemudian


"Iqbal, ibu kok malah lebih suka jika Ratih jadi menantu ibu. daripada istri sombongmu itu." Bu Rohmi kembali berkata yang tidak seharusnya di katakan. bagaimanapun juga Syakila sangat menyayangi mertuanya.


Saat Iqbal ingin membalas pernyataan ibunya. Ratih segera memotong nya.


"ohh iya Bal, ibu dari tadi belum makan. kita cari makan buat ibu yuk." ajak Ratih


Iqbal mengerutkan keningnya. "kenapa ibu tidak bilang jika belum makan. tau begitu tadi Iqbal belikan saat perjalanan kesini." ujar Iqbal


"tadi kan ibu belum lapar Iqbal. sekarang udah lapar. buruan gih temenin nak Ratih beli makanan." ucapnya


Iqbal menatap Ratih yang sedang melempar senyum pada Iqbal.


"biar Iqbal yang beli saja. ibu mau makanan apa? dan juga mbak Ratih." tanya Iqbal


"Sudah lah Bal, ajak saja cuma cari makan doang." ujar Bu Rohmi


percuma juga menolak jika ibunya selalu mendekatkan dan ahirnya Iqbal yang tidak bisa mendebat terus.


...••••...


"Bal, seperti nya di sana makananya sangat enak." tunjuk Ratih setelah mereka milih milih menu makanan yang ada di pinggir jalan.


"Tapi saya sudah makan mbak. di bungkus saja makan dirumah." balas Iqbal


"Kalo di bungkus entar nggak enak Iqbal, enakan itu di makan saat masih hangat." lanjutnya.


Lagi lagi Iqbal harus mengalah dengan wanita satu ini. karena percuma saja jika di bantah. wanita itu selalu saja tidak mau mengalah.


Ratih memesan satu porsi makanan karena Iqbal benar benar menolak. katanya sudah makan.

__ADS_1


Ponsel Iqbal berdering. dan dilihatnya jika yang sedang melakukan panggilan adalah Istrinya.


"Sebentar mbak, saya angkat telpon dulu." tanpa menunggu persetujuan dari Ratih, Iqbal segera menuju tempat parkir mobilnya


"Iya Hallo Sya,"


"Mas masih lama di rumah ibu?" tanya Syakila


"mas lagi cari makan buat ibu. ternyata ibu belum makan" jawabnya


"Ohh.. ya udah, aku masih menunggu mas Iqbal pulang ya." Syakila kembali memberi taunya


"Sya, tadikan mas bilang kamu untuk istirahat. istirahat dulu nggak papa, mas kan udah bawa kunci sendiri." jawab Iqbal


"oh ya udah. kalo gitu Syakila tidur dulu ya mas, hati hati di jalan mas,"


Iqbal segera menutup kembali ponselnya dan melihat Ratih sedang melambaikan tangan pada Iqbal.


"Ada apa mbak?" tanya Iqbal setelah sampai di depan Ratih.


"temani aku makan Iqbal."


"Mbak aja makan. saya sudah makan dan sudah kenyang." jawabnya


"ihh Iqbal kok gitu sih.. cobain deh kalo enak ibu beliin ini aja." ucap Ratih


"Kalo dilidah mbak Ratih enak. pasti di lidah ibu juga enak." jawab Iqbal


"Aaa... cobain ya.." Ratih berusaha menyodorkan satu sendok untuk Iqbal.


Iqbal tak Isa menolak lagi. karena Ratih sudah berhasil menempel kan pada mulutnya.


Iqbal mengunyah makanan yang Ratih siapkan. lalu mengunyahnya.


"Enak kan..?" tanya. yang di angguki oleh Iqbal


"ihh.. kayak anak kecil aja. makannya belepotan." kata Ratih. Ratih segera mbersihkan mulut Iqbal yang blepotan.

__ADS_1


"Biar saya sendiri mbak." tolaknya


"udah.. nggak papa ini sudah bersih."


__ADS_2