Kubeli Suamimu

Kubeli Suamimu
Pria kejam


__ADS_3

"tolong Sya bantuin Tante. kasian hanya kita harapan Tante saat ini." mohon Amelia


"Ma, coba nanti Syakila Carikan." jawabnya


"memangnya Tante butuh berapa ma?" tanya Syakila


"katanya sih sekitar 200 atau 300 jt gitu. tapi katanya seadanya saja, soalnya Tante punya sedikit tabungan" Jawab Amelia


"Nanti Syakila usaha Carikan mam. besok pagi Syakila transfer ke rekening Tante Widya."


"iya nak, Reno juga belum selesai bendidikanya, pasti butuh biaya banyak." tambah Amelia


"Mama mau minum apa, biar Syakila buatin." tanya Syakila


"Mama ambil sendiri saja, kamu mandi gih sekalian mama mau masak makan malam." ujar Amelia


'Ya udah, Syakila keatas dulu mam." Syakila segera naik keatas untuk membersihkan tubuhnya dari keringat.


Amelia segera kedapur, lalu membuka kulkas, siapa tau ada bahan bahan untuk di masak.


"kok nggak ada bahan sih.." gumamnya.


"Mama, mama cari apa?" tanya Iqbal. ternyata Iqbal sudah pulang.


"ini loh Bal," jawabnya


"Tadi Iqbal sudah masak mam. itu di meja. apa mama tidak menyukainya?" tanya Iqbal


"kamu masak?" tanya tidak percaya


"Iya ma. tadi Iqbal masak dengan di bantu bik Darmi." ucapnya


"pantas saja ibu marah marah." sahut Syakila.


"ohh tadi karena kamu mengerjakan pekerjaan rumah. jadinya ibumu marah gitu Bal?" tanya Amelia


"Itu hanya salah paham saja mam. kebetulan tadi saya pulang lebih awal jadi saya bermaksud memasak buat Syakila." jawab Iqbal sambil melirik Syakila


"Ya ampun Iqbal, kau itu suami yang sangat menyayangi keluarga mu ya. beruntung putri mama bertemu denganmu. coba disini sudah ada malaikat kecil pasti akan tambah bahagia ini putri mama." kata Amelia


Syakila senyum senyum sendiri mendengar gurauan sang mama. membayangkan jika benar dirinya memiliki buah hati pasti keluarga ini sangat bahagia.

__ADS_1


"Ayo Sya, Ma di cicipi masakan nya Iqbal." ucap Iqbal


...•••...


"Mas, mas sudah pingin memiliki anak belum?" tanya Syakila. saat ini mereka tengah nonton televisi di ruang keluarga.


Sang mama sudah pulang karena masih banyak urusan.


"Kalau Tuhan sudah memberi kepercayaan pada kita. mas akan terima Sya, mas sangat ingin memiliki anak " jawabnya.


"mas mau anak perempuan atau laki laki?" tanya nya


"kalo mas pingin anak perempuan aja." jawabnya


"kok perempuan sih mas."


"karena kalau anaknya laki laki. mas takut kalah saing gantengnya." jawabnya seraya memperlihatkan gigi putihnya.


"ihh.. ya nggak mas, tetap sama, sama sama kesayangan ku." jawab Syakila


"udah malam Sya, istirahat yuk. kau pasti lelah."


"Ok." jawabnya


Keluarga yang Syakila inginkannya sudah terwujud . memilki suami baik dan penyayang. ganteng, gagah dan sangat romantis di tambah lagi, asang suami tidak pernah mempermasalahkan sosialnya lagi. semua juga karena Syakila tidak pernah suka jika suaminya membahas derajat antara dirinya dan suaminya.


Menurut Syakila yang membedakan antara kaya dan miskin adalah sikap kita. sikap kita yang terlalu merasa kecil di hadapan manusia.


Berbeda dengan seorang wanita yang tengah menahan lapar. Semenjak pulang dari bulan madu yang menyakitkan, Imel belum makan apapun. sang suami sampai malam ini belum pulang. Imel mencoba mengetuk pintu untuk di bukakan.


Namun sepertinya di rumah ini tidak orang selain dirinya.


Imel mengintip luar ruangan dari lubang kunci. namun terlihat sangat gelap.


"Ya Tuhan... kenapa semuanya malah berbalik padaku. aku sama sekali tidak menjahati suami ku. tapi kenapa aku di jahati olehnya." gumamnya


Ceklekkk...


Imel segera menegakkan tubuh nya saat mendengar gagang pintu di putar.


"kau belum tidur babe?" tanya Herman.

__ADS_1


Imel terperanga saat melihat penampilan Herman. sungguh pria ini begitu sangat tampan dengan pakaian formalnya. biasanya Imel hanya melihat Herman memakai jeans dan kaos berkerah. tapi sayang... pria ini adalah pria yang kejam yang pernah Imel kenal


tapi kini pria ini memakai kemeja warna hitam dan lengannya di gulung sampai siku.


"Hai.. kenapa bengong?" tanya Herman.


Imel tergagap saat Herman membuyarkan lamunannya.


"Kenapa? kau berpikir bisa lepas dariku hmmm?" tanyanya


"Bu...bukan mas, aku lapar." jawabnya


"ohhh.. kau belum makan.. duhhh kasian sekali istriku belum makan." ujar Herman


"Ok.. ayo kita keluar. bibik sudah menyiapkan makan malam." kata Herman dengan lembut. namun Herman sangat kasar menarik menarik tangan kanannya Imel.


Herma membawa Imel kesebuah ruangan. namun bukan ruang makan yang menjadi tujuan. lebih tepatnya ruang ruang yang sangat rahasia.


"mas,, aku mau di bawa kemana?" tanya Imel dengan rasa takut.


"ikuti saja.. aku akan menunjukkan sesuatu padamu." ucapnya


Imel pun semakin takut saat melewati ruangan yang begitu penat.


"kau tau benda tajam yang menggelantung itu.?" tanya Herman seraya menampakkan senyum yang menyeramkan.


Imel menggeleng.


"kau harus tau sayang, itu adalah tempat untuk orang orang yang menghiabatiku." jawabnya


"maksud menghenti gimana mas?"


"Salah satunya berusaha melarikan diri. biasanya aku akan menghukum mereka saat ketahuan mencuri apapun milikku." jawabnya


"lihatlah sayang, kuku kuku tajam itu yang akan menggores wajahnya hingga tak berbentuk." tunjuk Herman.


tubuh Imel menegang, tenggorokan nya seolah berhenti berfungsi untuk menelan ludahnya sendiri.


"Sekarang layani aku..." Herman menyerang kembali Imel. Herman menci*m bibir Imel dengan kasar dan dalam.


lidahnya membelit lidah Imel yang masih belum membalas. Herman mengh*sap lidah Imel dengan kuatt.. Imel seolah merasakan jika lidahnya mau putus.

__ADS_1


__ADS_2