
"Anu.. Sya, itu.. suami kamu.." Diana tak tega mengatakan yang sebenarnya pada Syakila, sahabat sekaligus bosnya
"iya, mas Iqbal kenapa? mas Iqbal ada di ruangannya kan?" tanya Syakila
"Sya,, tunggu.." cegah Diana
"Iqbal.. eh pak Iqbal sedang tidak ada di ruangannya." jawabnya
"kemana?" tanya nya sambil mengerutkan keningnya
"Tadi wanita bulu itu kesini Sya, dan dia buat drama tengah kesakitan dan ahirnya suamimu yang baik itu tidak tega melihatnya. yaa sekarang suamimu masih bersama wanita bulu." jawabnya
"wanita bulu siapa?" tanya Syakila bingung.
"Itu.. mantan istrinya." jawabnya
"Imel maksudmu?"
"iya Sya, Iqbal mengantarnya kerumah sakit." jawabnya
Pedihhh.... itulah yang dirasakan oleh Syakila. menerima kenyataan jika suaminya masih peduli sama Imel
"Sya,," panggil Diana begitu lirih. lalu mengelus lengan Syakila.
"Salah aku apa sih Di,, kenapa mas Iqbal tega nglakuin ini padaku. jujur Di.. aku sakit.. sakit saat dengar mas Iqbal menolong wanita itu." ucapnya begitu lirih.
"Tenang Sya, aku yakin Iqbal hanya menolong nya saja." sahut Diana , seraya mengelus bahu Syakila.
Syakila tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Diana tau betul jika sahabatnya ini cinta mati sama Iqbal. tapi yang tak habis pikir.. kenapa Iqbal masih peduli dengan wanita itu. padahal dia tau jika istrinya itu sangat tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya.
"duduk dulu Sya, ayok aku ambilkan air putih." ucap Diana.
Syakila segera di bawa keruangan nya oleh Diana. Syakila duduk di sofa dan melihat lihat ruangan yang sudah ia lepaskan untuk suaminya sejak beberapa Minggu yang lalu.
Syakila segera menghampiri kursi panas yang dulu ia tempati. lalu segera duduk dan mengecek laci. entah kenapa Syakila ingin sekali membuka laci itu.
Setelah di buka Syakila memeriksa setiap kertas yang ada. lalu ada kwitansi dari rumah kost yang ada di pinggiran kota.
Syakila mengerutkan keningnya. lalu mencari melihat lihat lagi beberapa kwitansi. ternyata tidak hanya ada satu kwitansi pembayaran kost. ada sekitar 3 lembar.
"Syakila, ada apa ?" tanya Diana Yeng melihat raut wajah Syakila begitu memucat.
"Di,, apa selama ini mas iqbal sering keluar dari kantor di saat jam kerja?" tanyanya
Diana terlihat sedang memikirkan sesuatu. berusaha mengingat ingatnya
"Tidak Sya, yang sering aku lihat, suamimu selalu ada di kantor tiap jam kerja." jawabnya
__ADS_1
"coba kau lihat ini Di,," ujar Syakila sambil menyerahkan kwitansi yang ada di tangannya.
Diana segera mengambilnya dan melihat tgl yang tertera di sana.
"ini.. seperti nya, di tanggal ini Iqbal ada kok. malah dia meeting dari jam 9 sampai jam makan siang." jawabnya
Syakila menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"aku bingung Di, dengan keluargaku. mertuaku selalu saja menjelek jelekkan aku di depan aku sendiri. dan suamiku juga begitu." gumamnya lirih
"Syakila,, kau yang sabar ya.. aku kan jadi ikut sedih." sahutnya
Ceklekkk... pintu ruangan di buka dari luar. Iqbal tercekat saat melihat sang istri sudah duduk di sini.
"Dek,, kau disini?" tanya Iqbal
"Dari mana mas?" tanya Syakila
"Dek, kenapa kau tak bilang jika ingin kesini." kata Iqbal.
Diana segera keluar dari ruangan bosnya. karena tak ingin berada di antara pasangan yang tengah memanas.
"Mas, kau belum jawab pertanyaan ku. dari mana?" tanyanya lagi
"Dek, maaf mas tadi habis mengantar Imel kerumah sakit." jawabnya. seraya tangannya berusaha mengelus kepala sang istri
"Berapa kali harus aku bilang. jangan berhubungan lagi dengannya, kau tak menjaga perasaan ku mas." ucapnya sambil menunduk
"Jadi kau belum bisa melupakan dia mas." kata Syakila
"Siapa bilang. mas hanya menolong dek" sahutnya
"Sekarang kau bisa memilih. tetap mau menolong dia. atau hidup hanya untuk aku.. aku istri satu satunya yang harus kamu jaga perasaan nya." kata Syakila. Syakila terpaksa harus menggunakan kata kata itu. karena jujur Syakila tidak bisa jika harus melihat suaminya dekat dengan wanita manapun.
"Dek. hentikan kekonyolan ini. mana mungkin mas akan memilih satu dari dua pilihan itu. mas seorang pria yang punya hati nurani." jawabnya
"Jadi.. kau tak bisa memilih, mas. kalo begitu biarkan aku yang memilihkan." ujar Syakila
"Dek, jangan seperti anak kecil ah.. kita sudah sama sama dewasa. jadi bersikaplah dewasa." sahut Iqbal
"kau bilang aku yang kurang dewasa, mas. siapa yang berkata pada jika tidak akan lagi ada nama wanita itu.. siapa mas?" tanya Syakila lagi
"ok.. ok mas akan memilih. mas lebih memilih mempertahankan rumah tangga kita." jawabnya, seraya memeluk Syakila dari belakang.
"kau yakin? kalo begitu berjanjilah untuk tidak berurusan lagi dengan mantan istrimu." kata Syakila
"mas berjanji..." jawabnya
__ADS_1
"Sekarang aku mau tanya mas, ini apa?" tanya Syakila sambil memperlihatkan kwitansi
"Inii..." batin Iqbal.
Iqbal sebenarnya mau membuang kwitansi itu sejak beberapa Minggu yang lalu. namun karena terlalu fokus dengan pekerjaan. ahirnya Iqbal melupakannya
"jawab mas, ini apa?" tanyanya, Syakila sudah siap dengan jawaban yang Iqbal berikan. karena sudah pasti Iqbal akan menjawab dengan sangat jujur. walaupun itu akan sangat menyakitkan.
"maaf dek, selama beberapa bulan ini ini. mas masih membantu Imel mencarikan kost dan juga mas yang membayarnya." jawabnya
Degg...
pedihh.. sudah berapa kali Iqbal berkata jujur. dan kejujuran itulah membuat Syakila kembali terluka.
"sesakit inikah memiliki suami terlampau baik dan jujur. kenapa aku tidak sanggup?" batinnya
"mulai sekarang, mas tidak akan membantu lagi dek. mas janji" ujarnya
"Aku tidak yakin mas. bahkan kamu masih menyimpan nomernya." jawabnya
Syakila tau jika suaminya itu belum lupa dengan nomer Imel.
"Sya, aku sudah tidak menyimpan nomer itu, percayalah Sya."
"setidaknya kau masih hafal dengan nomernya kan mas.?" tanya Syakila
Iqbal terdiam. apapun yang di tuduhkan istrinya adalah benar. bohong jika Iqbal sudah lupa dengan nomer mantan istrinya.
"Maaf.. kau tau kan. kami sudah hidup bersama begitu lama. tentu aku masih mengingat nomer itu." jawabnya
"Mas Iqbal, ini dompet nya ketinggalan." tiba tiba Imel masuk keruangan Iqbal.
Syakila begitu terkejut saat melihat Imel yang katanya sakit. kini sudah datang dengan membawa dompet suaminya.
"Kalian.. Mas, kau bilang Imel sedang sakit. tapi kenapa terlihat jika dirinya sedang tidak merasakan sakit apapun." tanya syakila
Imel hanya menatap mereka dengan senyum licik.
"Terbukti kan, jika Mas Iqbal lebih peduli padaku. bahkan aku hanya mengeluh sakit sedikit saja. suamimu langsung terlihat panik." sahut Imel
"Imel, apa yang kau katakan.." bentak Iqbal
Sedangkan Imel hanya tersenyum menanggapi bentakan Iqbal.
"Mas," desis Syakila
"Sya, semua itu tidak benar. kau tanyakan pada Diana. jika tadi Imel mengeluh kesakitan." jawab Iqbal.
__ADS_1
...••••...
"Kalian.. cepat pergi...