Kubeli Suamimu

Kubeli Suamimu
Extra part


__ADS_3

10 tahun kemudian


"Bunda, Shanum lulus dengan nilai bagus." jerit Shanum saat sudah berada di kantor Syakila,


Syakila yang tengah duduk dengan banyak pekerjaan itu segera mendongak. Lalu menampakkan senyum mereka untuk sang buah hati.


"Boleh kan bunda, jika Shanum melanjutkan ke Dokteran." tanya Shanum


"Boleh sayang, nenek pasti sangat senang." ucap Syakila.


"Bunda, boleh Shanum cari ayah Shanum di sana?" tanya Shanum dengan wajah penuh permohonan.


Dulu Shanum memang selalu ingin bertemu dengan ayahnya, namun karena masih terlalu kecil, Syakila tidak menginginkan. Dengan alibi "besok jika kamu sudah lulus SMA"


Syakila terdiam, bukan karena ingin melarang, tapi hawatir kehadiran Shanum akan membuat keluarga ayahnya itu jadi ada masalah karena hadirnya Shanum.


"Bunda, Shanum tidak akan membuat keluarga ayah berantakan. Shanum hanya ingin bertemu dan memeluk ayah saja." ucapnya dengan wajah yang menunduk.


"Kau sudah siap?" tanya Syakila


"apapun keadaan ayah nanti, Shanum sudah siap menerima." jawab nya


"Jika memang kau sudah siap. Bunda mengijinkan. Tapi ingat, jangan sekali kali membuat keluarga ayah jadi membenci kita." ucap Syakila mengingatkan.


"Siap bunda, Shanum akan jaga itu." ucapnya.


Syakila segera mengambil kartu nama dari dalam laci. "ini alamat kantor ayah," ujar Syakila seraya menyerahkan kartu nama yang tersimpan di laci.


Semenjak saat itu, Syakila sudah tidak tau lagi kabar Iqbal. Syakila sydah benar benar memblokir segala yang berhubungan dengan mantan suaminya.


Sedangkan untuk bu Rohmi, Shanum masih sering mengunjunginya. Walau keadaanya sudah sangat tua. Entah, apa yang sudah di lakukan Ratih pada Iqbal. Setelah kejadian itu. Ratih sudah tidak pernah lagi mengunjungi ataupun menanyakan kabar bu Rohmi.


Shanum segera menerima id ayahnya. Lalu segera memeluk Syakila dengan penuh cinta.


Setelah itu Shanum segera pamit untuk pulang, karena haris memberi kabar pada sang nenek uang sudah menunggu di rumah.

__ADS_1


"Bunda, nanti sore Shanum akan mengunjungi nek Rohmi. Bunda mau titip apa?" tanya Shanum


"Tidak ada, titip salam saja." jawabnya


Shanum hanya menyunggingkan senyum lalu mengangguk. Walau begitu, Syakila tidak pernah lupa memberikan bantuan uang untuk bu Rohmi. Walau bagaimanapun bu Rohmi adalah nenek dari Putrinya.


Hidup di masa tua yang seharusnya bahagia bisa melihat anak cucunya, namun bu Rohmi tidak begitu. Bahkan sang anak sudah tidak pernah memberi kabar. Jangankan kabar, uang untuk makan saja sudah tidak pernah.


...•••...


Iqbal tengah mengoreksi semua barang masuk. Dan tak berapa Ratih juga sudah berada di ruangan Iqbal.


Perceraian yang akan di layangkan oleh Ratih itu gagal. Karena Tiara meminta untuk tidak menceraikan mamanya. Ratih tidak sanggup jika harus mengurus mamanya dan juga perusahaanya. Ahirnya karena Iqbal bukanlah pria yang kejam. Iqbal pun mengabulkan permintaan Tiara, untuk tidak menceraikan Ratih.


"Apa kau sudah mengirimi ibu uang?" tanya Iqbal.


"Sudah, seperti biasa, aku akan mengirim uang untuk ibu setiap awal bulan." jawab nya


Iqbal hanya mengangguk dan percaya. Karena yang Iqbal tau, Ratih begitu dekat dan sangat akrab dengan ibunya.


"Ibu baik dan sehat sehat saja. Dia menanyakan kapan kamu mau mengunjungi ibu?" ucapnya. Begitulah Ratih, Ratih selalu membohongi Iqbal tentang ibunya. Tentang yang Iqbal kirim untul ibunya. Karena Ratih tidak ingin bu Rohmi ikut menikmati hasil jerih payah Iqbal.


"Terima kasih, kau sudah mau peduli sama ibu." ucapnya. Iqbal sendiri tidak pernah mau menelpon ibunya. Karena ketika di telpon, maka sang ibu akan mengatakan dan membandingkan Ratih dengan Syakila. Iqbal tidak menyukai itu. Iqbal hanya ingin rumah tangganya kali ini, berlangsung baik sampai tua nanti.


"Oohh iya, besok Tiara sudah kembali dari perancis. Kita jemput Tiara di bandara ya mas." ucapnya


"iya, kita jemput Tiara." ucapnya.


Iqbal kembali melanjutkan pekerjaannya.


♤Di tempat yang berbeda♤


"Nak Roh, hari ini Shanum akan pergi ke jawa timur. Shanum mohon doanya moga selamat." ucapnya


"Iya, hati hati ya." ucapnya bu Rohmi

__ADS_1


"Shanum akan membawa ayah kesini." ucapnya


"Benarkah? Katakan jika nenek sangat merindukannya " ungkap bu Rohmi


Shanum mengangguk. "kalau begitu, Shanum pulang dulu nek. karena bunda pasti sudah menunggu." pamit Shanum


"Salam buat bunda ya Cu." pesannya


"Oohh iya, bunda juga kirim salam buat nenek." setelah mengatakan itu Shanum segera pergi, karena harus segera bersiap untuk pergi.


...♡♡...


Shanum sudah sampai di bandara dengan kedua temannya. Mereka ingin survey tempat yang ingin mereka tempati untuk beberapa tahun kedepan. Menjadi mahasiswa di sebuah universitas kedokteran adalah cita citanya sejak masih di bangku sekolah dasar.


Shanum segera berjalan bersama dengan bercanda ria.


Brughh... Shanum tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita muda. "Maaf kak, saya tidak melihat." ucap Shanum.


Gadis itu bukan menanggapi tapi malah nyelonong begitu saja.


"Ma, pa." panggil Gadis itu pada kedua orang tuanya.


"Dasar anak manja." batin Shanum.


"Yuk." ajak Fika sahabat Shanum


Mereka bertiga semakin dekat dengan wanita yang tadi bertabrakan dengan Shanum. Shanum bisa melihat dengan jelas orang tua gadis itu.


"Itu kan.. Ayah." lirihnya


"Shan, ayok." ucap Fika lalu segera menarik pergelangan tangan Shanum yang masih menyaksikan kebahagiaan gadis itu dengan orang tuanya.


Ada rasa perih di dadanya. Ketika melihat ayahnya tidak mengenali dirinya. Di tambah lagi, mengingat kesusahan bu Rohmi yang tidak pernah di kunjungi.


Ingin marah, tapi apakah ayahnya itu mengenalinya. " Ayo Shan." ucap Kiara seraya menarik pergelangan tangan Shanum

__ADS_1


"Ayah.. Tunggu.."


__ADS_2