
...••••...
Kini Iqbal dan juga Syakila sudah memasuki kawasan gedung bertingkat yang di pimpin oleh istrinya sendiri. Iqbal segera keluar dari mobil dan membuka pintu sebelah untuk istrinya. namun sebelum Iqbal melakukan itu, Syakila sudah membuka terlebih dahulu.
"kok tidak nungguin di bukain sih Sya?" tanya Iqbal
"Mas,, mas itu suamiku. bukan sopir pribadiku, jadi nggak usah lakuin itu padaku." jawabnya, Syakila segera menggandeng tangan Iqbal untuk memasuki gedung miliknya.
Ada rasa canggung pada diri Iqbal saat melihat gedung yang begitu besar. Kaikinya seperti berat untuk melangkah. Bagaimanapun juga Iqbal adalah seorang sopir dulunya. belum pernah dirinya menjadi karyawan perusahaan besar seperti milik Syakilla
"Mas,," panggil Syakila. saat menyadari suaminya hanya mematung di dekatnya
"Mas, kenapa?" tanya Syakila
"Apa mas bisa bekerja di sini. mas hanya lulusan SMA Sya." jawabnya
"Mas, kan ada aku , ada Diana juga yang akan membantu mas disini." kata Syakila menjelaskan pada suaminya. Syakila tau suaminya ini pasti merasa berkecil hati
"Ayuk." ajaknya
Iqbal segera mengikuti langkah Syakila. ada beberapa karyawan yang melihat dua pasutri ini. mereka berdua terlihat sangat serasi. Walau Iqbal hanya selisih 2 tahun dari Syakila, namun mereka terlihat begitu bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya
"Selamat pagi Bu Syakila," terdengar sapaaan dari beberapa karyawan.
Syakila hanya menanggapi dengan senyuman. Syakila memang terkenal bos yang baik. tidak pernah melakukan keputusan secara sepihak. jika ada karyawan yang berbuat kesalahan, Syakila akan mempertimbangkan kembali kinerjanya. bagaimanapun mereka sudah bekerja dengan nya begitu lama. jadi sebisa mungkin Syakila memberi yang terbaik untuk karyawan nya.
Terdengar bisik bisik dari para karyawan. yang mengatakan jika suaminya Syakila masih sangat muda dan sangat tampan. Syakila tersenyum menanggapi bisikan itu. memang benar jika Iqbal adalah pria yang tampan dan juga gagah.
...••••...
terkadang orang beranggapan sesuatu yang ia putuskan adalah suatu kebaikan. padahal tak selamanya yang iya putuskan itu adalah kebaikan. atau terkadang mereka beranggapan mungkin takdirku harus begini, harus melepas salah satunya dan mengambil sesuatu yang sangat berisiko.
__ADS_1
Takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta.
Lantaran Dia-lah yang mampu mengubah takdir seseorang. Allah akan memberikan takdir yang baik selama manusia bersungguh-sungguh dalam bertakwa.
Mungkin itulah yang ada di dalam pikiran wanita satu ini. berani mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dahulu kedepannya.
Rela melepas permata demi mengambil kerikil yang tidak ada harganya. sehingga keputusan itu membuat dirinya terhina dan juga penyesalan.
Imel melangkah dengan di gandeng suaminya. gaun pesta yang ia pakai begitu sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Dulu memang dirinya sangat berkeinginan memilik gaun semacam ini. namun sekarang .. dirinya bahkan tak berani menampakkan wajahnya di depan para rekan rekan bisnis suaminya
Imelda memakai gaun berwarna merah, dengan belahan dada yang sedikit lebar, sehingga tonjolan dada itu seakan ingin mencuat dengan bebas dari penutupnya karena ketidak muatan gaun itu membalutnya. gaun itu hanya bersangga pada tonjolan dadanya.
panjang gaun yang di pakai Imel hanya selutut dan masih ada belahan samping pada paha yang terlihat sangat tinggi.
"Wahh.. istri baru Herman nihh" celetuk seorang pria tambun dengan mata yang menyipit
"pinter juga kau milih istri. setelah melepas istri ja*ang itu kau sudah langsung mendapat gantinya." maki pria yang lain. kali ini pria yang mengatakan itu berperawakan tinggi dengan rambut yang di potong rapi. wajahnya yang sedikit menggelap membuat daya tarik tersendiri pada pria itu.
Tatapan pria itu tak lepas dari tonjolan dada milik Imel. Imel kembali menunduk saat mendapat tatapan na*su dari pria itu
"Stev, jaga tu mata. kalau ngga ingin mata mu di ambil oleh Herman." tegur Seorang pria yang lain , yang sering di sebut Edy.
Mereka kembali tergelak, Sehingga suara riuh itu mengundang perhatian dari pengunjung gedung yang mereka tempati .
Ini adalah ulang tahun Resto milik Herman. dan saat ini mereka sedang berada di salah satu ruang VVIP di restoran. Memang Herman mengundang beberapa teman, teman seperjuangan dan teman masa muda dulu
Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi perkumpulan para pria setengah tua ini.
Mata cantik itu tak lepas dari satu objek yang tak jauh dari para pria itu
__ADS_1
Wanita itu menatap Imel dengan tatapan yang tak bisa di artikan oleh siapapun
Wanita itu terlihat tengah mengejek Imel. Imel yang menyadari hal itu menjadi sedikit canggung. tentu Imel bisa menilai wanita itu tengah tersenyum. senyum yang menghina lebih tepatnya
"Mas, aku ke toilet dulu " pamit Imel
Sebelum Imel menjauh, Herman sudah menarik tangan Imel terlebih dahulu
"Ingat,,! jangan mencoba melarikan diri dariku. karena jika sampai kau lakukan kau akan tau akibatnya." ancam Herman
Imel kembali mengangguk, karena hanya itu yang bisa ia jawab.
Sampai di toilet Imel de tarik oleh tangan lembut seorang wanita
Wanita itu kembali tersenyum melihat penampilan imel.
"Siapa anda?" tanya Imel
"Kau pasti istri Hermsn? " tebak wanita itu
"Siapa anda nona? apa anda menyukai suami saya?" tanya Imel
Wanita itu tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan dari Imel.
"Ambil laki laki pecundang itu. aku tak Sudi memungutnya kembali." ucapnya. lalu segera pergi meninggalkan Imel
"katakan kau siapa?" tanya Imel yang berhasil mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Kau ingin tau siapa aku hmm?" wanita itu balik tanya
"katakan siapa kau?"
__ADS_1
"Sayang,, kau di sini?"