
...•••...
Sesampainya di rumah Iqbal segera berlari menuju kamar di mana sang istri berada.
"mas, cepet banget ngantar ibu?" tanya Syakila yang sedang memakai gaun pesta
"iya, mas hanya mengantarkan sampai depan rumah saja, tidak masuk." jawabnya
"kenapa ngga masuk?" tanya Syakilla
"Tadi ada tamu di rumah ibu. mas tidak tau siapa tamunya." jawabnya
"ini, pakaiannya sudah aku siapin." tunjuk Syakila pada pakaian pria yang ada ranjang
"ok, mas ganti baju dulu ya" pamitnya.
Gedung pernikahan
Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita.
Mungkin Itulah yang dirasakan sepasang pengantin yang berada di atas Altar. Senyum merekah menyambut tamu yang hadir. sepasang pengantin itu salah satunya adalah teman Syakila. tidak terlalu dekat namun cukup saling mengenal.
senyum nya yang merekah menandakan cinta mereka mendapat restu dan respon yang baik dari keluarga.
Syakila menatap binar melihat pesta pernikahan temannya sekaligus rekan bisnisnya.
"Dek, mas ke toilet dulu yaa.." pamit Iqbal.
Syakila mengangguk lalu mencari tempat duduk untuk menunggu suaminya.
Menuju toilet Iqbal berpapasan denga. Ratih.
"Iqbal," gumam Ratih
"eh mbak, mbak Ratih disini juga?" tanya Iqbal
"iya.. mempelai wanita nya masih saudaraku." jawabnya
"kau kesini dengan siapa?" tanyanya
"itu mbak, istri saya yang lagi duduk." tunjuknya.
"ohh.. ok, aku akan berkenalan dengannya, boleh.?" tanya Ratih minta persetujuan.
Iqbal hanya mengangguk sebagai jawabannya. lalu segera berlalu meninggalkan Ratih yang masih diam menatap kepergian Iqbal
__ADS_1
"Aku bodoh.. kenapa dulu aku tidak iming imingi uang untuk mantan istrinya. lihatlah penampilan Iqbal sekarang jauh lebih baik dan lebih menarik. aku harus bisa membuat Iqbal kembali padaku." gumamnya
Syakila duduk sambil memandang altar yang begitu indah. lalu berdiri karena merasa kehausan.
Brugghhh...
"Auhh..." pekik syakila saat bertabrakan dengan seseorang
"Uppzz... maaf aku telah sengaja" ucapnya sambil membawa gelas yang airnya sudah tumpah di baju Syakila
" ada masalah apa anda dengan saya? kenapa anda lakukan ini pada saya?" tanya Syakila seraya mengibaskan pakaianya dengan kedua tangannya
"Iqbal, masalahnya adalah Iqbal nona." jawabnya
Syakila mengerutkan keningnya bingung. "apa masalah anda dengan suami saya. kenapa kau harus membalas ke saya." tanyanya
"karena kau.. sudah merebut Iqbal dariku." jawab Ratih seraya matanya menatap nyalang Syakila
Syakila membalas dengan senyuman mengejek.
"kau bilang saya merebut. anda tidak salah?" tanyanya
"karena dari dulu saya mencintai Iqbal." Ratih kembali menyatakan perasaannya pada wanita yang berstatus istri dari orang yang dia cintai.
"terus.. apa masalahnya dengan saya? kenapa anda tidak bilang langsung pada suami saya." tanyanya
"kalo begitu.. bukan kesalahan saya. itu salah anda kenapa anda tidak merayu dia dulu." ucap Syakila
"itu kesalahan anda juga. seandainya kau tak membelinya sudah pasti Iqbal akan menjadi suami saya." jawab Ratih lagi
Syakila kembali mengerutkan keningnya. "bagaimana anda tau semua." tanya Syakila pelan
"hemmm.." Ratih kali ini yang menanggapi dengan senyum hina
"kau sudah tidak laku. sehingga kau mau membeli suami orang dengan harga rendah?" Ratih kembali melontarkan kata kata yang membuat Syakila ingin menampar wajah cantik Ratih.
"KUBELI SUAMIMU, Iqbal dengan harga 800jt. lumayan bukan kau untung 50 jt." tambah Ratih..
Plaaakk....
dengan refleks Syakila menampar pipi Ratih. Ratih segera memegang pipinya yang panas
"Aku hanya tak habis pikir, kenapa ada orang seperti kamu didunia ini? Lihat saja, kamu tak akan mendapatkan apapun. Dia milikku dan akan selamanya begitu, aku dan mas Iqbal sudah hidup bahagia kami di pertemukan dengan cara Indah yang Tuhan rencanakan. jadi berhenti membual yang sama sekali aku tidak akan tertarik dengan penawaran anda nyonya Ratih." balas Syakila
"Kurang ajar.." umpat Ratih dan hendak ingin membalas menampar Syakila. namun Syakila berhasil menangkisnya
__ADS_1
"kenapa? kau sakit hati?" tanya Syakila
"Sya.. ada apa ini,?" tanya Iqbal
"Iqbal... untung kau datang. aku tadi tidak sengaja menumpahkan air itu di gaunnya. tapi dia malah marah marah padaku dan dia menamparku." Aku Ratih sembari memegang pipi yang terasa perih
"pinter sekali anda memutar balikkan." ujar Syakila
"Sya," gumam Iqbal
"benar begitu Sya?" tanya Iqbal. Iqbal yakin istrinya tidak mungkin berbohong.
"Iqbal.. lihat lah pipiku. dia sudah menamparku." tunjuk Ratih pada pipi yang terlihat memerah
Iqbal kembali menelisik pipi Ratih yang kemerahan.
"Sya," tekan Iqbal lagi.
tatapan mereka saling bertemu. Iqbal menyimpan rasa tidak suka dengan sikap Syakila yang bar bar. sedangkan Syakila menatap suaminya bahwa yang dikatakan wanita itu tidak sepenuhnya benar
"kita pulang sekarang." ajak Iqbal dan segera meninggalkan Ratih. Syakila mengikuti dari belakang.
Didalam mobil hanya ada keheningan. mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing masing. Dan Syakila sangat membenci saat saat seperti ini.
"Sya,"
"hmm.."
"Jangan bersikap bar bar ya.. lain kali maafkan saja nggak usah di perpanjang, malu dilihat orang banyak." ucap Iqbal
"kau lebih percaya wanita itu, dari pada istrimu sendiri mas?" tanya Syakila
"mas percaya sama istri mas. tapi kan dia sudah minta maaf." sahut Iqbal
"mas tau kenapa aku melakukan itu...?" tanya Syakila
"mas tau karena kamu kesal kan? tolong dengerin mas yaa.."
"mas,, aku memang kesal sama dia. apalagi saat dia mengatakan dia akan.."
"Sudah Sya.. nggak usah di perpanjang lagi. mas percaya sama kamu."
Syakila tak ingin melanjutkan obrolan nya. percuma jika suaminya itu tidak mau dengerin dirinya ngomong.
Sesampainya di rumah. Syakila segera berjalan mendahului Iqbal. masih kesal aja dengan suaminya
__ADS_1
...•••...