
Malam begitu dingin. karena hujan baru saja selesai membasahi bumi. Syakila tengah duduk di ruang televisi bersama sang suami. Kapala Syakila ia taruh di atas paha suaminya.
"Mas nggak pulang?" tanya Syakila .
"Rumah mas kan ada di kamu. jadi di manapun kamu berada mas akan selalu bersama mu." jawab Iqbal
"mas lupa, mas masih punya ibu loh. harusnya mas itu temenin ibu di rumah." ungkap Syakila
"Yang tau kebutuhan mas itu kamu dek, ibu hanya tau jika anaknya tercukupi semua kebutuhan nya saja." jawabnya
"kok gitu sih mas," ujar Syakila.
"Mas, itu hanya bisa..." ucapnya terpotong saat ponsel Iqbal berdering
"Ibu" gumamnya. lalu melihat istrinya yang masih berada di pangkuannya
"angkat saja mas, siapa tau penting." ujar Syakila
"Hallo ibu"
"Iqbal, kamu di mana?" terdengar suara ibunya begitu panik.
"Iqbal sedang bersama Syakila Bu. ada apa?" tanya Iqbal yang juga ikut panik
"Iqbal, pulang lah.. ibu kelaparan disini." Sahutnya
Syakila mengerutkan keningnya. lalu segera bangun dari tidurnya.
"Apa mas, ibu kelaparan?" tanya Syakila
"Iya, Bu.. Iqbal segera pulang. ibu pingin di beliin apa?" tanya Iqbal
"ibu minta kamu pulang dulu saja ya Bal,"
'Pasti ada yang tidak beres nihh sama ibu' gumam Syakila lirih
"Dek, mas harus pulang ya. mas takut magh ibu kembali kumat." pamit Iqbal.
"iya mas, hati hati." jawabnya
Iqbal segera mengambil jaket dan juga kunci mobilnya. lalu mengecup kening istrinya.
"mas pergi dulu." pamitnya
Syakila mengangguk. dan segera mengambil ponselnya untuk menelpon bik Darmi. apa benar ibunya itu kelaparan. apakah bik Darmi tidak memasak untuk ibu? itu lah yang ingin Syakila tanyakan.
setelah deringan ke 3 baru dapat jawaban.
__ADS_1
Syakila segera menanyakan apa yang menjadi keganjalan pada mertuanya.
Setelah ngobrol cukup lama, Syakila segera mengakhiri obrolannya dengan bik Darmi.
"Ada apa Sya?" tiba tiba mama nya sudah di belakangnya.
"ma, mama belum tidur?" tanyanya
"Belum, tadi mama mendengar obrolan kamu sama bik Darmi. ada apa?" tanya nya lagi.
Syakila pun cerita jika mertuanya tengah kelaparan. padahal bik Darmi sudah memasak sebelum pulang tadi. bahkan bik Darmi masak sangat banyak. karena hawatir jika tuan dan nyonya nya pulang tidak ada makanan.
Bik Darmi juga bingung. di kemanain makanan sebanyak itu. masak iya di buang.
"Ya udah, mungkin saja mertuamu tidak melihat di mana letak makanannya." ujar Amelia. walau sebenarnya juga curiga namun berusaha untuk tidak terpengaruh.
...•••...
Iqbal segera memasukkan mobilnya di garasi. dengan menenteng paperbag di tangannya. langkah Iqbal percepat hawatir dengan keadaan ibunya.
"Ibu.. bisa aja." ucap seorang wanita sambil tertawa.
"Ibu itu tidak menyukai istri Iqbal yang sekarang. ibu lebih memilih kamu saja yang jadi menantu ibu." sahut Bu Rahmi
"putra ibu yang menolak." balasnya
"Ibu senang kalo di rumah ini tidak ada pemilik rumahnya. ibu berharap dia akan tinggal di sana selamanya." kata Bu Rohmi lagi.
"ibu..." gumam Iqbal saat tidak tahan mendengar obrolan ibunya dengan wanita yang tidak Iqbal tau siapa.
"Iqbal." gumam Ratih.
Wanita itu adalah Ratih, tadi Bu Rohmi menelpon Ratih untuk datang, karena merasa kesepian. dan Ratih pun setujuh asal ada Iqbal juga di rumah
"ibu.. ibu bilang ibu kelaparan." ujar Iqbal yang mulai menampakkan wajah kecewa pada ibunya.
"tidak.. mana mungkin ibu kelaparan. di sini, Darmi sudah menyiapkan makanan yang banyak." balasnya
"ibu.. Iqbal benar benar kecewa sama ibu. kenapa sihh ibu harus berbohong pada Iqbal?" tanya Iqbal. jujur Iqbal sangat marah sekali saat ibunya membohongi dirinya.
"ibu hanya ingin tinggal bersama putra ibu. ibu tidak ingin kau terus berdekatan dengan Sya.. Syakila itu. ibu tidak suka." jawabnya lagi
"ibu ini kalo tidak suka dengan Syakila ,kenapa ibu masih tinggal disini dan menikmati fasilitas yang ada disini. ini Semua miliki Syakila." Iqbal lagi lagi berkata dengan nada yang terkesan tinggi.
Yang membuat Bu Rohmi menitikkan air matanya. karena sakit hati.
"kau itu anak ibu Iqbal. kenapa kau lebih membela wanita itu Ketimbang ibumu." ucapnya sambil terisak
__ADS_1
Aarghjh...
"ibu ini yaa.. benar benar membuat kesabaran Iqbal menipis. ibu tolong dong, ibu pahami perasan Syakila dan juga Iqbal. Iqbal ingin membangun rumah tangga yang sehat dengan Syakila. tolong ibu mengerti dan coba menerima Syakila." lagi lagi Iqbal memohon pada ibunya.
"Iqbal, kau jangan bentak bentak ibumu. kau ini tega melukai perasaan ibumu. demi wanita itu." sahut Ratih
"mbak Ratih sama sekali tidak berhak mencampuri urusan keluargaku. terutama pada kehidupanku. mbak Ratih itu hanya orang asing... bukan adek dan bukan kakak saya. jadi sebaiknya mbak Ratih tinggalkan rumah istri saya. karena kami tidak menerima tamu malam malam." Iqbal kembali memperjelas status Ratih disini.
"Iqbal, ketelaluan kau. dia itu tamu ibu. kau tak berhak mengusir tamu." jawab ibunya lagi.
"Terserah ibu.. yang jelas ini sudah malam. dan Iqbal tidak ingin ada masalah baru lagi. jika mbak Ratih adalah wanita yang menjaga kehormatan mbak Ratih sendiri. tolong tinggalkan rumah istri saya." Kali ini Iqbal mengusir dengan lebih lembut namun begitu menusuk.
"Ibu.. Ratih pamit pulang dulu Bu. besok Ratih main kesini lagi." pamitnya
Ratih segera pergi meninggalkan rumah Iqbal.
saat sampai di luar, Ponsel Ratih berdering. Ratih segera mengeluarkan ponselnya , dan melihat siapa yang sudah menghubunginya malam malam begini.
"Dokter Farrel." gumamnya. takut ada yang penting Ratih segera menggeser tombol hijau .
"Ya Hallo dokter."
(.....)
"Baik Dokter, saya segera kerumah sakit." jawabnya. Ratih hampir saja melupakan putrinya yang masih di rawat di rumah sakit.
kalo bertemu dengan Bu Rohmi dan merencanakan sesuatu bersamanya, Ratih mendadak pikun jika dirinya sudah memilki anak yang harus di beri perhatian.
Ratih segera masuk ke mobilnya dan segera menyalakan mesinnya.
...•••...
Iqbal sudah masuk ke kamar nya. dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
tak berapa lama, Iqbal sudah berada di alam mimpi.
ponsel Iqbal berdering berkali kali. namun Iqbal tidak mendengar nya. karena terlalu lelah dan nyenyak.
Sedangkan di tempat yang beda. Syakila di tundung rasa hawatir . menghawatirkan suami dan ibu mertuanya.
"apakah ibu baik baik saja? kenapa mas Iqbal tidak mengangkat panggilanku." gumamnya
Syakila mulai merasakan pusing karena memikirkan terlalu berat. entah kenapa Ahir Ahir ini Syakila sering mengali pusing. padahal pola makan Syakila sudah di perhatikan.
"Tanggal.." gumam Syakila
Syakila segera ngecek tanggal datang bulan. baru beberapa Minggu ini Syakila selesei menstruasi. jadi nggak mungkin dirinya hamil. mungkin karena faktor usia atau karena banyak tekanan.
__ADS_1