
Pagi hari,
Syakila terbangun saat merasa perutnya penuh. Dan ingin segera mengeluarkannya.
Hooeeekkk
Hooeeekkk
Hooeekk
"Sya, kau tidak apa apa?" tanya Amelia
"mual mam," jawabnya
Syakila kekuar dengan di papah oleh mamanya.
"Mama buatkan susu ya," ujarnya. Syakila mengangguk.
"Pagi tan," panggil Diana.
"haaiii.. Kau susah disini?" tanya Amelia
"Cari bos, bos ada nggak tan?" tanya Diana, seraya memeluk Amelia
"Ada, tu di kamar." jawab nya
"Itu, susu buat bumil kan tan?" tanya Diana lagi
"Iya," jawab nya
"Biar Diana yang anterin ke bumil." ucap Diana
"Yaudah, makasih ya Di." ucap Amelia
Diana segera membuka pintu kamar Syakila. Diana melihat Syakila tengah mematut dirinya depan cermin.
"Bu bos, saya bawakan susu untuk bu bos." ucap Diana
"Kau sudah sampai sini? Ada apa?" tanya Syakila
"Tidak ada, hanya pingin aja memberi tumpangan untuk bu bos." jawab nya. Seraya berjalan mendekati tempat tidur Syakila
"Tidak percaya, kau itu pasti ada sesuatu." ujar Syakila
"Iqbal tadi bersamaku, dia ingin menemui Sya, dia minta satu kesempatan darimu, agar bisa membersamai hamil begini." sahut Diana
"Diana, kau itu sahabatku. Kau tau bagaimana aku pernah cerita padamu tentang mereka. Apa kau tidak memahami begitu perihnya aku, di saat tidak di akui dan di olok olok. Kau tidak tau batas kemampuan ku untuk bersabar." ucap nya.
Diana terhenyak ketika sahabatnya kembali mengeluarkan uneg unegnya. "Sya, maafin aku.. Aku tidak tau." ucap nya
"Kau pergilah dulu, dan katakan padanya jika aku tidak ada dirumah." ujar Syakila yang kembali duduk di atas tempat tidur.
"Sya, maafin aku yaa."
__ADS_1
"Hmmm..." jawabnya
Diana merasa bersalah karena tidak peduli perasaan sahabatnya. Padahal dirinya sudah berjanji akan selalu berada di pihaknya. Namun kali ini Diana ceroboh. Diana hanya terharu pada airmata Iqbal tadi malam.
"Diana, mana Syakila?" tanya Amelia
"Sebentar lagi turun tan, Diana langsung ke kantor ya tan." pamitnya
"tidak sarapan dulu. Nih tante sudah siapkan sekalian piring untuk kamu." ucap Amelia
"Terimakasih tan, lain kali saja." jawa nya
Syakila turun dari lantai 2. Dan segera menghampiri mamanya.
"Sayang, makan dulu." ucapnya.
○○○
"Iqbal, maafkan aku. Syakila tidak ada, Syakila sudah pergi tadi pagi." ucap Diana
"Pergi kemana?" tanya Iqbal
"aku tidak tau. Tante tidak bicara apa pun padaku. Tante hanya bilang jika Syakila butuh menengkan pikiran dan hatinya." jawab Diana
"Kau yakin Di?" tanya Iqbal
Diana mengangguk. Sebenarnya dirinya tidak pernah berbohong. Hanya saja tidak ingin Iwbal selalu mengawasi rumah Syakila dan membuat Syakila timergabggu.
"Aku turun disini saja. Aku akan ke kantor naik ojek." jawab nya
"Ya udah, aku duluan ya." pamit Diana. Sedangkan Iqbal mengangguk dan segera turun.
Iqbal naik bis yang lewat di depannya. Dan ingin segera sampai di kantor.
Diana sudah sampai dulu di kantor. Dan segera masuk ruangan nya.
Diana segera duduk dan menyalakan komputernya. Tiba tiba Iwbal sudah sampai kantor juga.
"Iqbal, kau..?"
"Aku di pecat Di, mungkin Syakila memang sudah membenciku. Padahal aku berharap kami bisa memperbaiki semuanya." ucap Iqbal seraya membereskan mejanya. Walau tidak ada apa apa yang berharga. Namun Iqbal harus mengembalikan pada atasannya
Diana terdiam. "Syakila memang sangat kecewa padamu Bal, sudah sering dia mengeluh tentang kalian. Aku sebenarnya juga sangat marah padamu," ujar Diana
"Maafkan aku Diana, aku adalah pria bodoh yang menyia nyiakan istri sebaik Syakila. Jika saja malam itu aku lebih mendengarkan permohonan istriku, mungkin kami masih bersama." ujar Iqbal
Diana terdiam, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Iqbal segera keluar dari ruangan nya. Lalu memandang ruangan Syakila yang sudah terlihat ada pencahayaan dari jendela.
Iqbal segera melangkah mendekati ruangan Syakila. Lalu memberanikan untuk membuka pintunya.
Syakila tersentak saat melihat wajah pria yang sedang berusaha ia hindari.
"Sya," ucap Iqbal
__ADS_1
"Maaf. Lain kali bisa ketuk pintu lebih dulu?" tanya Syakila
"Maaf," ujarnya
"Sya, tidak bisa kah kau memberi kesempatan untukku?" tanya Iqbal
"Saya masih banyak pekerjaan. Dan untuk surat cerai, akan segera di kirim kerumahmu" ujar Syakila
Iqbal sadar, apa yang sudah ia perbuat sudah banyak melukai istrinya. Hingga kata maaf pun enggan untuk keluar dari bibir manis milik Syakila.
"Dan mulai saat ini, kita sudah tidak ada hubungan apa apa lagi. Karena setelah anak ini lahir, Kita hanya sebatas menjadi orang tua saja." tegas Syakila
"Sya, apakah aku sudah tidak menempati tempat istimewa di hatimu." tanya Iqbal. Syakila mencibir.
"Bagaimana mungkin aku masih akan menempatkan mu di hatiku. Setelah kau memperlakukan aku begitu buruk. seolah aku bukan lah wanita yang pantas untuk bahagia. Hanya itu jalan satu satunya yang harus aku jalani, dan melepasmu, adalah pilihan yang tepat untukku, Semoga kau bisa berbahagia dengan wanita pilihan ibumu ." jawabnya
"Sya, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Tolong Sya" mohon Iqbal
"Nanti kalau surat gugatan serai sudah turun. Aku sendiri yang akan mengantarkan kerumah mu." ujar Syakila
"Dan maaf, aku masih banyak kerjaan." ucap Syakila lagi.
"Sya,,," gumamnya
"pintu keluar masih ingat kan?" tanya Syakila memastikan. Sekarang Syakila sudah tidak menyebut lagi dengan embel embel "Mas ". Agar Iqbal tau, jika dirinya benar benar sudah mantap untuk melepaskannya
Iqbal pun kembali keluar, percuma saja berbicara pada Syakila di saat hatinya tengah mengalami kebuntuan. Iqbal yakin, Syakila pasti akan kembali menerima dan kembali hidup bersama. kini Iqbal baru merasa jika Syakila adalah wanita yang benar benar sudah menempati hatinya.
○○○○
Iqbal memasuki rumah orang tuanya.
Sang ibu tengah berada di dapur untuk memasak makanan untuk makan siang.
"Astaghfirulloh... Iqbal," Bu Rohmi Terjengkit ketika melihat Iqbal sudah duduk di kursi ruang makan.
"Kalau masuk rumah itu Bal, salam. Jangan tiba tiba duduk dan bikin ibu jantungan." gerutu Bu Rohmi. Lalu bu Rohmi memandang wajah anaknya yang begitu kusut.
"Ada apa? Kenapa siang siang begini kau dirumah." tanya Bu Rohmi
"Iqbal sudah di pecat bu." jawabnya
"Tu kan, istrimu itu memang wanita tidak tau diri. sudah merebutnya dari Imel, kini dia membuangmu seenaknya." gerutu Bu Rohmi
"Bu.. Ini bukan salah Syakila, Iqbal yang salah bu." bela Iqbal
"Kau ini.. Masih saja membela istrimu yang sombong itu, apa tidak bisa kau membela ibu.. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanmu, jangan lupakan itu Iqbal " tekan bu Rohmi
"Iqbal tidak akan pernah melupakan jasa jasa ibu. Tapi tolong untuk saat ini, tolong bu.. Ibu terimalah Syakila sebagai istriku. Iqbal hanya butuh doa dari ibu. Agar keluarga kami kembali akur bu. Iqbal sangat mencintai Syakila bu." mohon Iqbal.
"Syakila lagi Syakila lagi. Sudah sudah ibu mau istirahat. Kamu kalau lapar, makan saja ibu sudah masak." ujar Bu Rohmi lalu segera keluar keruang tamu.
lagi lagi bu Rohmi di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita di rumahnya.
__ADS_1