
Iqbal berhenti di depan rumah mewah dan megah itu dari mobilnya. Ada nyeri di hatinya saat melihat Syakila tengah duduk di balkon kamarnya yang ada di atas.
Seperti dulu Syakila selalu di temani dengan segelas coklat hangat, Seraya melihat senja yang mulai memperlihatkan keindahannya.
"Sya, kenapa sulit sekali melupakan mu. Kenapa aku menjadi bodoh dulu. Seandainya aku tidak menghianati janjiku. Mungkin kah kita masih hidup bersama dengan putri kita." gumam nya.
Syakila menoleh ke belakang lalu nampaklah putri cantiknya berjalan dengan membawa mainan boneka nya.
Syakila segera mengangkat tubuh Shanum, lalu menaeuhnyam di atas pangkuannya. terlihat dengan jelas, jika Syakila sudah bahagia bersama putri nya.
Tak terasa air mata Iqbal pun menetes dengan sendirinya.
tokk tokk tokk..
Iqbal terkesiap saat ada suara ketukan dari kaca mobilnya.
"Ratih" Iqbal segera membuka pintunya.
"Jadi ini.. Ini urusanmu di luar. Mengawasi rumah mantan kamu. Kau tega membohongiku mas, kau keterlaluan." Ratih berseru dengan bar bar. Tangan beberapa kali memukul dada Iqbal.
Syakila terkejut ketika melihat keributan. Di luar rumah nya. Dan yang lebih tidak percaya. Ternyata keributan itu berasal dari dua orang yang sangat Syakila hindari.
"Rat, hentikan.. Kau jangan seperti ini.. Malu tau nggak?" tekan Iqbal
"Aku tidak menyangka kau begitu kejam mas padaku. Padahal aku sudah percaya sepenuhnya sama kamu." ujar Ratih lagi.
"Kau salah paham Ratih, aku kesini karena ingin melihat putriku." ucap nya seraya memegang pergelangan tangan Ratih.
beberapa warga datang dan melihat keributan sepasang suami istri itu di depan rumah Syakila. sedangkan Syakila lebih memilih untuk masuk, dari pada melihat keributan yang membuatnya pusing.
Setelah dilerai, Ratih dan Iqbal pun segera meninggalkan rumah Syakila. Ratih segera menuju kerumah nya dengan taxi. Sedang Iqbal, Iqbal lebih memilih membawa mobilnya sendiri. Karena Ratih tidak mau di ajak pulang bersama.
Sampai di rumah
Ratih segera mengeluarkan semua pakaian Iqbal. Tudak ingin melanjutkan pernikahan nya bersama Iqbal. Ratih ya tetap Ratih. Tidak pernah memikirkan kedepannya dengan apa yang ia ambil keputusannya.
Iqbal memasuki rumahnya dan segera mencari Ratih. " Aku ingin kita cerai mas. Aku tidak ingin hidup lagi dengan mu." ucap Ratih. Seraya memasukkan semua pakaian Iqbal.
"Kau pergi dari rumahku. Dan urus semua surat cerai kita." ucap Ratih.
"Rat, kau harus dengerin aku. Aku berhak tau keadaan putriku, kau jangan egois." ujar Iqbal
"Tapi aku tidak suka kau dekat dengan mereka. Menjalin lagi hubungan baik dengan mereka. Daripada aku sakit hati, lebih baik cerailsn aku." ucap nya.
Iqbal Menghela nafas. "Ok, aku urus surat cerai kita. Terimakasih sudah menjadi istriku walau dengan waktu singkat." ucap nya.
__ADS_1
Iqbal segera pergi dari rumah Ratih, dalam hatinya berkata "mungkin Ratih butuh waktu untuk menenangkan pikirannya."
Setelah kepergian Iqbal, Ratih mengamuk. Semua yang ada di depannya ia lepas kesempatan arah. Tak peduli itu apa, yang Ratih mau hanya ingin melampiaskan amarahnya.
Setelah itu Ratih pun tertidur. Bibik yang membantu di rumah Ratih segera menghubungi Iqbal.
"Pak, bu Ratih pingsan pak." ucapnya setelah pengilannya di angkat oleh Iqbal.
Iqbal bingung. Secara dirinya sudah di usir oleh Ratih. Gengsi jika haris kembali.
"Bibik, panggil Dokter saja. Iqbal sudah jauh soalnya." jawab Iqbal
"Baik pak." sahutnya.
Setelah itu. Iqbal kembali menutup ponselnya lalu segera menuju bandara. Yaa Iqbal lebih baik menjauh untuk menenangkan pikirannya. saat ini hanya ingin fokus pada bisnisnya. Tidak akan memikirkan wanita dulu untuk saat ini.
Untuk surat cerai yang Ratih inginkan. Iqbal akan mengabulkan nya. tapi lewat pengacaranya.
1 minggu sudah berlalu.
Ratih masih masih tidak ingin makan apapun. setiap hari hanya obat yang ia konsumsi. perusahaan milik mendiang suaminya tidak lagi ia urus. namun sudah di serahkan oleh orang kepercayaan.
Sedangkan Syakila, Kehidupan Syakila jauh lebih nyaman setelah tidak ada pengganggu. Iqbal sudah tidak lagi meneror dengan pesan pesan yang selalu di kirim lewat line. Syakila benar benar ingin menata hidupnya hanya dengan putri semata wayangnya.
Sepertinya menjadi single mom jauh lebih baik. Tapi tidak tau jika tuhan masih mempertemukan dengan jodohnya yang sesungguhnya.
"Sya, ada tamu." ucap Diana.
"Tamu, sepertinya aku tidak ada janji dengan siapa siapa" ucap Syakila
"Ini ibu, Sya," tiba tiba wanita yang dulu sering mencemooh dan menghina itu sudah berada di ambang pintu.
"Ada apa anda kesini." Syakila tidak lagi memanggil ibu pada mantan mertuanya. Syakila tau betul dengan watak wanita satu ini. Jika di baikin malah selalu melunjak dan selalu meminta lebih meminta lebih.
"Sya, tolong bantu ibu. Sudah beberapa hari ibu tidak makan. Iqbal dan Ratih tidak bisa di hubungi. Ibu bingung mau minta tolong pada siapa lagi." ucapnya dengan wajah menghiba.
Syakila tetaplah wanita yang memilki hati lembut. Mudah terbawa perasaan pada manusia lemah. Apalagi dia adalah wanita tua renta yang sangat membutuhkan pertolongan.
"Apa yang harus saya lakukan. Saya tidak bisa menelpon Iqbal lagi. Dia sudah memilki istri dan saya tidak mau di anggap wanita yang merusak rumah tangga orang lain." ucap Syakila dengan tenang dan tegas.
"Ibu boleh pinjam uang. Buat makan saja. Nanti kalau Iqbal sudah pulang. Ibu ganti Sya." ucap nya.
Syakila mengerutkan keningnya. "Tidak mungkin Iqbal tega meninggalkan ibunya sendiri. Iqbal adalah pria yang bertanggung jawab pada ibunya." batin Syakila
"Bunda," panggil Shanum yang berhasil membuyarkan lamunan Syakila. Syakila segera berdiri lalu segera menyambut kehadiran putri cantiknya. Tidak di bisa di pungkiri, Shanum memang sangat mirip dengan Iqbal.
__ADS_1
"Ok, saya akan kasih uang untuk anda, tidak usah pinjam. Karena bagaimanapun anda adalah nenek dari putri saya." ucap nya. Syakila segera menghubungi Diana untuk menyiapkan uang 6 juta untuk keperluan bu Rohmi.
Tiba tiba saja Bu Rohmi meneteskan air matanya. Sungguh Syakila adalah wanita yang baik. Batinnya
Bu Rohmi melirik Shanum yang sudah sibuk dengan buku buku sekolahnya. Memperlihatkan hasil karyanya hari ini.
"Bunda. Shanum pingin jadi wanita hebat seperti bunda." ucap nya seraya menujukkan gambar hasil tangannya
Syakila tersenyum lalu segera memeluk Shanum dengan kasih sayang.
"Sya, ini sudah ku siapkan uangnya." ucap Diana
"Terimakasih Di, kau boleh pergi." ucap Syakila. Diana pun segera pergi meninggalkan ruangan Syakila.
"Ini bu, ini untuk kebutuhan ibu makan. Semoga putra ibu segera kembali dan merawat ibunya." ucap Syakila
"Terimakasih nak Syakila. Kau memang wanita yang baik seperti yang Iqbal katakan pada ibu. Namun karena ibu membencimu. Jadi ibu tidak bisa melihat kebaikan kebaikan kamu." ucap Bh Rohmi
Syakila hanya menanggapi dengan anggukan. bu Rohmi segera pamit untuk pergi, sebelum bu Rohmi benar benar keluar, bu Rohmi memandang cucu yang di impikan. Lalu tersenyum pada Cucunya yang tengah memandangnya.
"Bunda. Wanita tadi siapa?" tanya Shanum
"Itu nenek Shanum." jawabnya
"Nenek, bukankah nenek Shan itu Uti Lia?" tanya Shanum.
"Iya kan ada dua nenek." jawabnya.
"Bunda. Boleh Shan panggil nenek Shan?" tanya nya
Syakila tidak ingin menghalangi putrinya untuk mengenal orang orang yang harus ia kenali sebagai saudara ataupun keluarnya. Syakila mengangguk. Shanum segera berlari keluar dan segera mengejar Bu Rohmi.
"Nenek.. " panggil Shanum
bu Rohmi segera berhenti melangkah. Lalu segera berbalik memandang gadis kecil yang sudah memanggilnya.
"Shan pingin peluk nenek." ucap Shanum. Bu Rohmi segera mengangguk lalu berhambur memeluk cucu kecilnya. Bu Rohmi tidak bisa manahan air matanya untuk tudak menangis.
"Kau baik baik sama bunda ya. Nenek harus pergi." ucap nya.
Syakila pun ikut meneteskan air matanya. Syakila sudah memutuskan untuk tidak menanam dendam di hatinya. Nyatanya mereka sudah menuai hasil dari yang mereka tabur pada dirinya.
Syakila mendapat kabar. Jika Iqbal sudah pergi meninggalkan Ratih dan juga kekayaan Ratih serta ibunya.
Sedangkan Ratih, kini hidup dengan putri nya yang bernama Tiara.
__ADS_1
End...