
Shanum dan juga Syakila memasuki restoran bersama, tidak lupa juga ada Diana.
Saat kekuar dari mobil, Syakila di kejutan dengan penampilan wanita yang tiba tiba menghampirinya.
"Syakila, Sya..." Seru seorang wanita yang berada lumayan jauh dari restauran.
Sedangkan Syakila tidak mendengar, dan langsung berjalan bersama dengan Shanum.
"Neng, itu sepertinya ada yang memanggil Eneng." tegur seorang pria yang bekerja sebagai tukang parkir
Syakila menoleh dan melihat wanita yang sangat ia hindari itu, Berlari menghampirinya.
"Syakila, gimana kabar kamu?" tanyanya.
Syakila mengerutkan keningnya, tumben baik, padahal dulu selalu berkata kata kasar pada dirinya.
"Maafkan ibu, Syakila. ibu dulu jahat padamu. Ibu menyesal sudah membiarkan pernikahan kalian berantakan." ucapnya seraya menampakkan wajah semenyesal mungkin.
Syakila tidak menanggapi dan masih melihat dengan pikiran bingung. "Maunya apa satu wanita ini." batinnya
"Syakila, apakah dia cucu ibu?" tanya saat melihat wajah mungil nan menggemaskan itu.
"Bukan kah ibu tidak mengakui jika dia itu cucu ibu? Kenapa menanyakan hal bodoh itu bu?" tanya Syakila
"Bunda, Shanum sudah lapar." ujar Shanum. Entah kenapa Shanum seperti tidak menyukai wanita tua itu.
"Sya, maafkan ibu.. Ibu benar benar menyesal. Setelah perceraian kalian, Iqbal jadi berubah sama ibu, Iqbal ternyata sangat mencintaimu" ucap nya
"Maaf bu, saya harus masuk. Permisi..!" pamitnya
Syakila pun segera masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman.
Bu Rohmi masih memandang Syakila, hatinya benar benar merasa menyesal sudah membuang menantu yang baik seperti Syakila. Setelah kepergian Syakila dari kehidupan putra nya. Kini bu Rohmi baru menyadari jika putranya ternyata sangat mencintai mantan istrinya itu.
Di tempat yang berbeda.
Iqbal baru saja sampai di kota yang menjadi tempat tugas dari atasannya. Tidak tau apa yang akan ia kerjakan disini. Yang Iqbal tau, jika Ratih tidak membuka cabang produksi di luar kota ataupun luar pulau.
Iqbal memasuki hotel yang sudah di siapkan oleh Ratih. Iqbal segera mengistirahatkan tubuhnya karena merasa lelah. Sehabis dari pesawat rasanya matanya begitu ngantuk.
__ADS_1
"Iqbal, Iqbal..." Seru Ratih. Dan segera masuk kamar Iqbal dengan bantuan karyawan hotel. Ratih masuk dan merlihat Iqbal sudah berbaring. "Sepertinya Iqbal sangat kelelahan." batin Ratih.
Ratih segera berbalik dan hendak keluar. namun tangan kekar milik Iqbal itu menarik pergelangan tangan Ratih.
"Sya, jangan pergi.. jangan tinggalkan aku Sya, kau tau.. aku tak bisa sehari tanpamu. ternyata aku sangat mencintaimu." ucap nya dengan mata terpejam.
Ratih mendekati Iqbal, lalu membelai rahang tegas milik Iqbal yang sudah banyak di tumbuhi bulu.
Merasa ada respon dari pemilik nama, Iqbal semakin mengetatkan peganganbya. lalu mersa ada sesuatu yang memperlakukan dengan lembut, Iqbal pun menarik tubuh Ratih lalu memeluknya
Tidak tau siapa yang mulai, Ratih dan Iqbal kini sudah sama sama polos. tubuh mereka berada di bawah selimut yang sama. Ratih tidur dengan kepalanya ia sandarkan pada dada bidang milik Iqbal. sedangkan Iqbal memeluk tubuh Ratih dengan posesif.
Kenyamanan tidur Iqbal terganggu ketika merasa dirinya mau buang air kecil.
"Mbak Ratih..." gumam Iqbal. lalu segera beringsut menjauhi tubuh Ratih yang masih menempel pada dirinya.
Iqbal melihat dirinya sudah polos tanpa ada sehelai benang yang menempel pada tubuhnya
"Astaghfirulloh... apa yang sudah kulakukan pada mba Ratih." gumamnya
Merasa tidak ada bantal yang ia pakai, Ratih segera membuka matanya. dan langsung terkejut saat melihat ada tubuh lain di sampingnya.
Ratih segera menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya
"Apa yang kau lakukan padaku Iqbal? kau lupa siapa aku?" tanya Ratih yang mulai emosi
"Seharusnya saya yang bertanya pada mbak Ratih, kenapa mbak Ratih ada di kamar saya? mbak Ratih ingin menjebak saya?" tanya Iqbal
"Kau keterlaluan Iqbal, aku sudah kau rugikan tapi kau malah menuduhku yang tidak tidak." ucap nya seraya menghapus air matanya.
"Saya tidak tau, kenapa mbak Ratih ada di kamar saya. bukankah mbak Ratih sudah ada kamar lain." teriak Iqbal yang mulai tidak bisa mengontrol emosinya
"Kau lupa, aku atasanmu.. aku kesini karena aku harus mengajakmu ke tempat meeting. namun. kau malah menarik dan menyetubuhiku. kau jahat Iqbal, kau jahat..." teriak Ratih. lalu segera memungut kembali pakaiannya dan segera memakai nya. Setelah semua pakaian terpasang , Ratih segera keluar meninggalkan kamar Iqbal.
Seperginya Ratih, Iqbal merituki kebodohannya. Iqbal ingat betul saat dirinya menggauli Ratih. dan Iqbal pikir itu adalah Syakila mantan istrinya.
Iqbal hanya bisa pasrah harus bertanggung jawab atas perilakunya pada Ratih. Iqbal memilki anak perempuan, tidak ingin anaknya memilki nasib seperti Ratih.
Iqbal memutuskan untuk membersihkan tibuhnya dari keringat Ratih yang sempat menempel pada tubuhnya. Sekitar 15 menit Iqbal sudah selesai dan segera memakai pakaiannya yang masih bersih. lalu keluar dan menghampiri kamar Ratih.
__ADS_1
"Mbak, buka mbak." Seru Iqbal, tak berapa penghuni kamar pun segera membuka pintunya.
Kleekkk.."ada apa Iqbal. jika kau hanya ingin menyalahkan aku. sebaiknya kau pergilah dan lupakan jika aku pernah berbagi keringat denganmu." ucap Ratih dan segera kembali masuk.
"Mbak. maaf atas perlakuanku tadi. saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi tadi." ucap Iqbal
"Tidak perlu. aku tidak butuh pertanggung jawaban darimu. jika aku sampai hamil, aku akan membuangnya " ucap Ratih
"Jangan mbak, saya akan bertanggung jawab. saya berjanji mbak." ujar Iqbal
"Aku tidak mau, aku tidak mau jika kau masih terbayang bayang oleh Syakila. aku tidak mau menikah dengan mu, Iqbal." ujar Ratih
"Mbak, saya tetap akan menikahi mbak, hamil atau tidak nya, Saya akan tetap menikahi mbak." ucap Iqbal meyakinkan
"Kalau begitu. Aku ingin menikah di sini, kalau bisa secepatnya." ujar Ratih
"Apa tidak sebaiknya. Kita nikah di kota kita saja. Dan saya masih punya ibu yang akan menyaksikan pernikahan kita." ujar Iqbal
"Saya maunya di sini Iqbal, jika kau tak bisa mengabulkan. Kita tak jadi menikah." ancamnya
"Mbak, baiklah.. Saya akan mengabulkan permintaan mbak" ujarnya
Dalam hati Ratih sangat berbinar. Ahirnya rencananya berjalan dengan mulus. Berhasil menikah dengan pria yang di cintai. Dan meninggalkan ibu mertuanya yang sangat matre.
"Saya harus memberi tau ibu mbak, bagaimanapun saya masih punya orang tua." ucap Iqbal.
"Ya sudah, lakukan saja." sahut Ratih.
Malam ini Iqbal dan Ratih sudah resmi menjadi suami istri. Setelah minta ijin pada ibunya tadi, Iqbal langsung melaksanakan ijab qabul nya. dengan di saksikan oleh ibunya dengan video call
"Sebenarnya, ibu sangat berharap kalian menikah di sini, kenapa kalian berdua malah mengelabuhi ibu, Iqbal. semenjak kau berpisah dengan Syakila, kenapa kau jadi berubah sama ibu.", ujar Bu Rohmi lirih.
Iqbal tidak tega melihat ibunya menangis dengan menyaksikan pernikahan anaknya. Iqbal lalu menutup obrolannya bersama sang ibu.
Walau ibunya tidak terima, karena sudah tidak di anggap oleh putra nya. Namun restu bu Rohmi tetap di berikan.
"Ternyata kau ahirnya menjadi milikku seutuhnya Iqbal." Ratih tersenyum di depan cermin rias dikamar hotel yang ia sewa untuk beberapa hari.
Memang semuanya sudah Ratih rencanakan.
__ADS_1