Kubeli Suamimu

Kubeli Suamimu
Hipnotis


__ADS_3

...••••...


Malam begitu dingin.


Seorang wanita baru saja selesei membersihkan tubuhnya dari keringat, setelah seharian menyambut tamu dan beberapa saudara untuk memberi selamat.


Syakila tengah duduk di kursi di depan cermin.


Ceklekkk...


syakila menoleh saat mendengar suara pintu di buka.


Pria yang kini telah menjadi suaminya itu berjalan pelan. pandangannya tak lepas dari wanita yang tengah duduk di depan cermin


"Mas," sapa Syakila. Syakila segera berdiri lalu mengambilkan handuk untuk suaminya.


"mandilah, sudah aku siapkan air hangat di sana." ucapnya.


Iqbal pun menerima, Iqbal segera melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Syakila kini tengah berbaring di tempat tidur.


tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. dan terlihat sang suami sudah selesei mandi. Iqbal sudah memakai pakaian lengkap dari dalam kamar mandi.


Syakila segera bangun lalu mengambil handuk yang ada di tangan suaminya.


"Aku.. belum terbiasa tidur dengan wanita asing." ucap Iqbal. Syakila yang mendengar itu langsung membelalakkan matanya.


"Maaf.. kita baru bertemu beberapa hari. dan kini kita langsung jadi pasangan suami istri. jadi mohon maaf aku belum terbiasa." jelas Iqbal.


Syakila hanya mengangguk patuh, lalu segera kembali pada tempat tidur. namun Syakila terlebih dahulu menyiapkan selimt dan bantal untuk suaminya.


...•••...


Cuiitt... ciittt cuiitt ciittt...


terdengar suara burung berkicau begitu nyaring.


Syakila segera membuka matanya saat matahari menembus ruangan dan mengganggu Indra penglihatannya.


Syakila segera bangun dan melihat di mana suaminya tidur. namun Syakila tidak menemukan pria yang sudah resmi menjadi suaminya.


"kemana dia?" batinnya


Syakila segera turun dari tempat tidur. dan bergegas keluar menuruni anak tangga. di sana hanya ada bik Siti tengah menyiapkan makanan untuk sarapan.


"bik," panggil Syakila


"ehh non," sambutnya

__ADS_1


"kok sepi, pada kemana?" tanya Syakila


"Tuan Iqbal sudah berangkat bekerja non, karena tadi sudah di telpon bosnya." jawab Bik Siti


"kalo ibu.. ibu baru saja keluar, katanya mau lemesin otot kaki." jawabnya


"ohh.. ya udah, Syakila kembali ke kamar dulu mau siap siap ke kantor." ucapnya


Syakila segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Syakila merebahkan tubuhnya untuk sesaaat setelah sampai di kamar


"Kau masih belum bisa menerimaku mas? sampai kapan kau akan perlakukan aku seperti orang asing." batin Syakila


Dertttt.... Derttt...


mendengar ponselnya berdering Syakila segera meraihnya. dan segera mengangkat panggilan telpon.


"Halo mas," jawab Syakila


"maaf, aku pergi terburu buru. karena aku harus bekerja." ucapnya. ( bahkan menyebut nama Syakila saja Iqbal seperti berat.)


"mas, padahal aku ingin kita habiskan hari ini untuk pindah rumah. tapi kau malah udah berangkat kerja." sahut Syakila


"maaf, Iqbal,, ayo kita berangkat sekarang. aku tidak mau kita terlambat?" ucap seorang wanita dari samping Iqbal


Entah kenapa Syakila tidak menyukai keberadaan wanita itu di sisi suaminya. walaupun mereka hanya sebatas bos dan sopir. tapi Syakila sangat tidak menyukainya. di tambah lagi wanita itu seperti memilki hak penuh pada suaminya.


"Mas,, maas..." "keterlaluan kau mas." rutuknya


Syakila segera menaruh kembali ponsel di atas nakas. lalu segera mandi.


sebenarnya Syakila ingin, untuk hari ini dirumah. ingin bicara banyak pada suaminya. namun sepertinya sang suami belum mau terbuka dan berlama lama bersama dirinya.


Setelah Syakila selesei mandi dan merapikan pakaiannya. Syakila segera mengambil tas dan segera turun dari kamar.


"hlo Sya, kau mau kerja?" tanya Amelia yang sudah berada di ruang makan


Syakila mengangguk sebagai jawabannya.


"seharusnya kau habiskan hari ini bersama suamimu. kan baru aja nikah masak iya udah mau kerja." ucap sang mama


"mas Iqbal juga sudah mulai kerja ma" jawabny


"Kok gitu,?" tanya nya


"sudahlah ma, biarkan rumah tangga kami seperti ini dulu. nanti Syakila mau pindah rumah Syakila aja. biar mas Iqbal juga bisa lebih nyaman." jawabnya kemudian


Amelia pun mengangguk menyetujui ungkapan putrinya.

__ADS_1


...••••...


Satu Minggu sudah Syakila lewati hidup bersama suaminya yang sangat di cintai. namun sampai kini Iqbal belum juga menampakkan perubahan sikapnya.


"Mas, hari ini kau tidak kemana mana kan?" tanya Syakila, Saat ini mereka tengah melakukan sarapan bersama di ruang makan yang luas.


Syakila memang memiliki rumah sendiri. dan selama ini dirinya tinggal bersama sang mama untuk menemaninya. namun sekarang sanga mama mengalah untuk melepas putri nya keluar rumah demi suami nya.


Iqbal menggeleng sebagai jawaban.


"bagaimana kalau hari ini kita pergi belanja." ucap Syakila


Iqbal baru ingat jika kemarin sore diri habis gajian. namun rasanya tidak enak memberi uang gaji nya pada istrinya yang lebih mapan. namun bagaimanapun juga Iqbal harus menafkahi istrinya. mungkin Iqbal baru bisa memberi nafkah lahir saja. untuk nafkah bathin Iqbal belum bisa. karena bayang bayang istri pertama sangat mendominasi saat bersama Syakila.


Iqbal menyerahkan amplop coklat pada Syakila. Syakila yang masih fokus pada piringnya seketuka terdiam dan memandangi amplop yang kini ada di depannya.


"itu gajiku selama satu Minggu. dan maaf aku tidak memberikan seutuhnya padamu. karena harus ku bagi dengan orang tuaku." ucap Iqbal


"Mas,"


"Aku tau.. Uang kamu lebih banyak dari uangku. itu sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai suami." sahutnya. sebelum Syakila mengeluarkan kata kata yang akan membuat Iqbal sakit hati.


"Aku terima uang ini. tapi aku ingin uang ku ini, aku kasihkan pada ibu dan bapak." balad Syakila


Iqbal sudah menduga jika istrinya ini tak butuh uang receh dari dirinya. Iqbal mengangguk "aku tau, kau tak butuh uang recehku kan?" tanyanya dengan suara yang begitu lirih.


"Mas, sudah yaa... jangan rusak pagi ini dengan pertengkaran karena uang. aku kan sudah terima uang dari kamu. tapi aku akan memberikan pada bapak dan ibu. aku tidak bermaksud menyinggung ataupun melukai hatimu. tapi coba kau pahami, aku bisa mencari uang sendiri, aku membebaskan mu dari nafkah lahir darimu. Aku hanya ingin jadi istri kamu seutuhnya," jawabnya Syakila


Iqbal hanya menyunggingkan bibirnya. "kau ingin aku menjadi suamimu. tapi uang dariku pun tidak kau pakai, apa ini yang di maksud dengan menjadikan aku suami seutuhnya buat kamu.?" tanya nya. Iqbal memang tidak bisa berkata dengan nada tinggi.


Namun sikap nya itu membuat Syakila seolah tidak bisa menembus hati nya.


"Mas, buk..."


"Sudahlah,,, kau memang tak butuh uangku." Iqbal kembali berkata itu lagi. dan setelah itu Iqbal segera berdiri meninggalkan Syakila yang masih diam di kursi ruang makan


Iqbal merebahkan dirinya di ruang televisi. Sambil memainkan ponselnya.


"Mas, ok aku minta maaf jika ucapan dan sikapku telah menyinggung perasaan mu. aku akan memakai uangmu ini untuk keperluan keluarga."


mendengar penuturan istrinya, Iqbal segera menaruh ponselnya di atas meja. "Aku tidak ingin kau menolak pemberianku." Balas Iqbal


Syakila mengangguk sambil memandang suaminya.


melihat itu, Iqbal terhipnotis dengan wajah cantik Syakila. Iqbal mendekat kewajah Syakila lebih dekat dan dekat. hingga wajah mereka tidak ada jarak lagi. dan mereka saling mendengar detak jantung mereka yang bertalu talu.


Syakila memejamkan matanya pasrah. Inilah yang Syakila tunggu menjadi istri seutuhnya dari Iqbal Prasetyo. pria yang sudah membuat hidupnya berantakan. dan menghalalkan segala cara untuk mendapatknya.

__ADS_1


__ADS_2