
Setelah Sarapan pagi, mereka berangkat menuju Balai paseban Agung.Balai Paseban Agung adalah tempat pertemuan punggawa kerajaan dilaksanakan.Dengan di antar prajurit kerajaan mereka berjalan menuju halaman Balai Paseban.
Lima belas menit kemudian mereka bertiga sampai di halaman Balai Paseban Agung. Rombongan di sambut Oleh Tumenggung.
" Selamat datang tuan-tuan utusan Dewa. Sang Prabu telah menunggu di Balai Paseban Agung ." sambut sang Tumenggung sambil tersenyum.
"Terima kasih Kanjeng Tumenggung atas sambutannya." jawab mereka serempak.
"Silakan masuk tuan-tuan.
Terima kasih kanjeng." sahut mereka sambil melangkah maju.
Mereka semua segera masuk kedalam balai Paseban Agung. Mereka mengikuti tata cara masuk ke ruangan paseban.
"Salam Sejahtera untuk Gusti Prabu Gondo Kusumo." ucap mereka serempak sambil menghaturkan sembah penghormatan.
"Ingsun terima sembah bakti kalian. Silakan Duduk. " titah sang raja.
Sang Raja berdiri dari singgasananya. Diperhatikan wajah kami satu persatu dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Apa benar kalian ini yang sering di katakan orang-orang sebagai utusan Dewa.?." tanya sang Paduka Raja Gondo Kusumo.
"Benar Paduka Raja. Sebenarnya kami semua bertuju. Mengemban tugas dari dewa untuk membantu dan menyelamatkan Kerajaan Purwa Carita dari kehancuran. " jawab Aryo dengan percaya diri.
"Kami sebenarnya berasal dari masa depan. Dimana Kerajaan Purwa Carita sudah tidak ada bekasnya lagi. Sudah hancur di telan masa. Tinggal cerita tutur tinular dari mulut ke mulut penduduk.. " jelas Supri dengan lancar.
"Hmmmm.... apa benar kerajaan yang ku bangun susah payah ini akan hancur?." tanya sang Raja.
"Benar paduka, begitulah adanya. " jawab Supri.
"Bagaimana aku bisa percaya bahwa kalian berasal dari masa depan.? " tanya Paduka raja tak percaya.
" Ampun Paduka... adakah benda-benda seperti ini di zaman sekarang ini?. " Purwa balik bertanya sambil mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya.
Purwa mengeluarkan senter dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada paduka raja.
"Apa ini...?." teriak sang Raja.
"Ini senter paduka. itu salah satu benda dari masa depan yang ikut terbawa ke zaman ini. " jawab Purwa.
__ADS_1
"Apa gunanya benda ini?. Apa ini semacam senjata?. " tanya Paduka Raja.
"Bukan Paduka. Tapi alat ini sejenis Obor untuk penerangan. Cobalah tekan tombol yang berwarna merah itu. "
Sang Raja menekan tombol berwarna merah. Betapa kaget sang raja ketika tiba-tiba muncul seberkas cahaya terang dari senter tersebut.
"We ladalah... terang sekali cahayanya. Apa tidak bahaya cahaya ini.?" tanya paduka raja keheranan.
" Tidak paduka. Itu sumber cahayanya dari listrik DC." sahut Supri.
"Listriiiiiik?.... apa itu Listrik..?" tanya sang Raja semakin Keheranan.
"Sulit untuk menjelaskan paduka. Karena di zaman ini belum ada sumber tenaga seperti ini.Tetapi sebenarnya tenaga itu semacam tenaga kilat atau petir atau bledek. " terang Supri.
"Apa....? Petir bisa di jinakkan? Bisa di buat alat...?." sang Prabu semakin keheranan.
"Benar sang Prabu. Bila Paduka berkenan kami bisa membantu menciptakan tenaga dari listrik tersebut." jawab Aryo sambil menawarkan jasa.
" Dengan pengetahuan kami, kami bermaksud mengubah peradaban negeri ini agar menjadi lebih maju di banding negeri lain." sambung Supri.
" Benar paduka.Mereka sudah membuktikan dengan usaha penemuan berbagai bahan tambang. Selain itu mereka sudah membuat beberapa peralatan dan hasil produksi yang sangat berguna yang belum ada di zaman ini." sahut sang Tumenggung.
"Ini contohnya Paduka." sang Tumenggung menghaturkan beberapa batang sabun mandi ciptaan Purwa.
"Itu untuk mandi paduka. Untuk menghilangkan kotoran dari tubuh kita.Menyehatkan dan menyegarkan." jawab sang Tumenggung berapi-api.
" Baiklah aku percaya pada kalian. Silakan kalian atur usaha kalian bersama Resi Pragola. Aku sangat percaya pada kemampuanya mengelola Wisma Ganesha." sang Raja mulai percaya dengan keberadaan mereka.
Dari Luar terdengar pemberitahuan bahwa sang Putri Citrawati datang ke paseban.
"Tuan Putri Citrawati memasuki ruang Paseban Aguuuung" seru prajurit penjaga pintu Wisma Paseban.
Maka masuklah sang Putri Citrawati kedalam Ruang Paseban. Semua mata terpana dengan kecantikan dan keanggunan sang Putri.
Begitu pula kami bertiga juga terbelalak menyaksikan kecantikan seorang putri yang melegenda.
"Ya Allah, ternyata tuan Putri benar-benar yang ada dalam mimpiku. Berarti mimpiku itu merupakan penjelasan dari kejadian yang sudah kami alami." Aryo bergumam pelan.
"Ampunkan Saya Romo.Saya terlambat hadir di pisowanan hari ini,." sang Putri menghaturkan sembah hormat.
__ADS_1
Jari-jarinya yang lentik menambah pesona kecantikannya.
Aryo menyenggol bahu Purwa pelan-pelan.
"Hei... jangan ngowoh aja... awas ngiler.. " Canda Aryo pada Purwa yang masih terpana memandang sang Putri.
"Apaan sih yok, siapa yang ngiler? " sahut Purwa sedikit sewot.
Aryo tersenyum melihat wajah Purwa yang tersipu malu.
" Ampun kanjeng Romo, Manakah Utusan Dewa nya?. " tanya Sang Putri.
" Hamba tuan Putri.... " sahut mereka bertiga.
Sang Putri menatap lekat wajah mereka bertiga.
Hati mereka berdegup kencang terpana menatap sang Putri.
"Bila engkau bertiga memang utusan Dewa, tentu engkau tahu takdir yang terjadi pada ku dan pada kerajaan ini." tanya sang Putri.
" Ampun Tuan Putri.Utusan Dewa sekalipun tidak diberitahukan takdir secara pasti. Karena takdir itu urusan Tuhan. Hamba hanya mampu berusaha menjalani takdir yang ada. Karena kami berasal dari masa depan, kami sedikit tahu apa yang telah terjadi dengan negeri ini." Aryo menjelaskan dengan hati-hati.
"Mohon maaf tuan Putri.Kami tidak berani mengumbar kejadian yang belum terjadi di zaman ini. Tetapi kami berjanji akan memberi tahukan pengetahuan kami untuk kemakmuran negeri ini" Supri menambahi penjelasan Aryo.
"Baiklah, nanti saya minta penjelasan tersendiri pada kalian" kata sang Putri.
" Baiklah, paseban hari ini saya cukupkan dulu. Silakan Kalian bubar dan kembali ke tugas masing -masing. " titah sang Raja.
"Untuk Tuan-tuan Utusan Dewa, Kiranya berkenan memberi penjelasan pada Putriku tercinta di Taman Kaputren. " titah sang Raja.
"Sendiko Dawuh Paduka Prabu Gondo Kusumo" sahut mereka serentak.
Mereka pun bubar dari Paseban. Meniru adegan dalam seni Kethoprak, mereka mundur sambil jongkok menuju pintu keluar.
Sesuai perintah Prabu Dian Gondo Kusumo, mereka menuju kaputren sesuai undangan khusus dari tuan Putri Citrawati.
Mereka takjub melihat keindahan kraton Kaputren. Tertata dengan indah dengan aneka jenis bunga langka. Yang sebagian sudah tidak ada di zaman modern.
Mereka berkeliling Taman kaputren menunggu Tuan Putri keluar dari Puri Kaputren.
__ADS_1
Keraton kaputren terbuat dari Kayu berukir kuno dengan dihiasi lempengan emas dan perak di tiap tiang dan pintu. Jendela di bentuk dengan seni ukir zaman Kuno. Di tiap cendela terpasang Korden dari Sutra. Mata mereka terpana melihat keindahan istana Kaputren ini.
Beberapa saat kemudian sang Putri keluar dari puri Kaputren.