
Kelelahan seharian membuat Didik tak kuasa menahan kantuk. Dalam sekejap mata Didik Sudah terpejam di iringi suara dengkuran yang keras. Sementara Sugik masih terjaga memikirkan nasibnya. Sugik berusaha memutar otak agar bisa terlepas dari jerat hukum di negeri dongeng ini.
"Dik, Didik....banguuun. Ealah anak ini kok malah asyik tidur mendengkur." teriak Sugik membangunkan Didik.
Tubuh Didik tidak bergeming sedikitpun. Kelelahan yang menerpanya melupakan nasibnya yang berada di penjara.
"Ya mungkin Didik benar.Aku harus istirahat untuk mempersiapkan besok kalau menghadapi dakwaan prajurit Atas Angin. Siapa tahu dapat wangsit. "gumam Sugik.
Sekejap kemudian Sugik mulai tertidur. Tiba-tiba Sugik terkejut ketika seekor harimau putih mendekati dan menjilati tubuhnya.
"Jangan, Jangaaan, Jangaan makan aku."teriak Sugik ketakutan.
Harimau Putih itupun berhenti menjilati tubuh Sugik. Dia menatap tajam kearah Sugik.Perlahan-lahan wujud harimau putih itu berubah menjadi asap putih dan menjelma menjadi seorang laki-laki bersurban putih.
"Assalamu alaikum cucuku. Jangan takut. Aku akan selalu menjagamu. Aku Maung Seta yang bersemayam di tubuhmu." ucap laki-laki itu dengan tenang.
" Wa alaikum salam mbah. Mbah Maung Seta itu apa Khodam dari Ajian Macan Putihku?."tanya Sugi.
"Benar, aku Khadam Macan Putih yang kau Kuasai. Aku tidak jahat aku hanya ingin membantumu. Apa yang kau inginkan dari ku?. "jawab Ki Maung Seta.
"Mbah Maung Seta tahu. Aku ditangkap dan di penjara di negeri dongeng ini. Bagaimana aku bisa lepas dari jerat hukum di negeri ini?. " Sugi berkeluh kesah.
"Cucuku.Bersabarlah. Insyaallah besok ada jalan. Negeri ini sedang membutuhkan orang-orang yang dianggap sakti. Besok kamu tunjukkan saja kehebatanmu di hadapan Prabu Jonggrang Prayungan. Dengan begitu Kamu akan mendapat tempat di negeri ini. Kelak bila tiba waktunya kau akan berjumpa dengan teman-temanmu yang lain. Saat itulah kalian akan bisa mendapat jalan kembali ke zaman kalian."jelas Ki maung Seta.
" Tapi mbah, Ilmuku tidaklah hebat.Mungkin jauh dengan kehebatan orang-orang di zaman ini." kilah Sugik.
"Jangan salah sangka cucuku.Disini semua ilmu yang kau kuasai akan maujud. Akan menjadi nyata dan luar biasa. Engkau besok bisa membuktikannya."jelas Ki Maung Seta.
"Baik Mbah, cucumu siap melaksanakan wejangan simbah maung ."
"Kalau begitu cukup sekian dulu wejangan Simbah.Simbah akan kembali dulu kedalam tubuhmu. "
"Terima kasih mbah. Salam hormat dari cucumu. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh"
"Ngaooor.... ngaooooor.... ngaoooor."
"Whuuuuuuuuus " suara angin berhembus kencang.
Bersamaan dengan itu, tubuh sang kakek berubah menjadi asap putih dan masuk kedalam tubuh Sugik melalui ubun-ubun.
Sugik terbangun dari tidurnya. Suasana di luar penjara masih gelap gulita. Hal itu menandakan malam masih panjang. Sugik termenung sesaat.
__ADS_1
"Apa benar yang dikatakan ki Maung Seta dalam mimpiku itu. Apa benar semua ilmuku akan bekerja sempurna di negeri ini." gumam Sugik.
Sejenak kemudian Sugik tampak merapal japa mantra.
Tiba-tiba tubuh Sugik mengejang, Jari-jarinya mengeras.Kuku-kuku jemarinya memanjang berubah menjadi tajam. Tubuhnya menggigil dan bermunculan bulu macan. Sekejap kemudian berubah total menjadi seekor harimau putih.
"Ngaooooom, Ngaoooom, ngaoooooom." suara auman macan menggema di dalam ruang penjara.
Didik yang tertidur pulas terkejut dan terbangun. Betapa Kagetnya dia ketika melihat ada harimau di sampingnya.
" Mmmmmmaaaa caaaaaan." teriak Didik.
Didik ketakutan setengah mati. Tubuhnya gemetaran.Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang baru terbangun.
Mendengar teriakan Didik, konsentrasi Sugik memudar.Berangsur-angsur wujudnya kembali menjadi normal. Didik terbelalak.Ternyata macan itu adalah sahabatnya.
"Eidan kamu Gik.Jantungku hampir copot." teriak Didik sambil memukul lengan Sugik.
"Maaf, tadi nyoba membuktikan mimpiku Dik.Ternyata mimpiku benar. Semua Ilmu kita di Sini bekerja dengan sempurna. " jawab Sugik.
"Benarkah?.Kalau begitu ilmuku juga bisa manjur di sini." tanya Didik.
"Ilmu apa yang manjur ?.Ilmu Pelet ?... wkkk" tukas Sugik.
"Cewek apaan.Kita saja sekarang di penjara.Kita harus bisa bebas dari penjara ini. Besok bila terpaksa kita harus melawan sekuat tenaga. Itu pesan simbahku semalam "
" Wuih, kamu dapat wangsit ya? tanya Didik.
" Iya.Besok kita harus menunjukkan kemampuan kita kalau ingin selamat. Begitu pesan Ki Maung Seta." jelas Sugik.
"Sudahlah.Masih ngantuk aku mau tidur lagi" sahut Didik sambil meringkuk lagi di pojokan.
"Baiklah. Aku juga masih ngantuk. "
Dua insan dari masa depan itu terlelap kembali dalam impian masing-masing. Melupakan nasib yang menimpanya.
Keesokan harinya, Sugik segera bangun dari tidurnya.
"Bangun Dik. Subuh-subuh. Ayo bangun cepat. " seru Sugik sambil mengguncang-guncang tubuh Didik.
" Sudah pagi Gik, ....?" tanya Didik sambil mengucek mata.
" Bagaimana mau subuh.Tidak ada air wudu disini." sergah Didik.
__ADS_1
" Tayamum Trooo. Kan kita terpaksa. Sudah itu tempelkan tapak tanganmu ke dinding berdebu itu. Terus tayamum.? " cerocos Sugik mendakwahi Didik.
" Iya pak Ustadz.Siap laksanakan" Didik membalas sambil bergurau.
Mereka segera melaksanakan sholat Subuh bersama. Selepas sholat Subuh, mereka Duduk bersila membahas langkah yang harus di lakukan menghadapi Raja Jonggrang Prayungan.
Saat itu masuklah dua penjaga penjara membawakan makanan sekedarnya.
"Hai, Kalian....ini segera makan. Kalian harus ikut ke Pengadilan kerajaan hari ini." kata Penjaga Penjara sambil melemparkan beberapa potong ubi rebus.
" Roti Jawa Dik.Ayo makan sebelum di penggal kepalamu.... wkkkk"
"Enggak apa-apa.Sekedar ganjal perut. Kita lihat saja apa yang terjadi nanti. " sahut Didik.
"Ya nanti kita buat perhitungan dengan prajurit yang menangkap kita." jawab Sugik dengan mengepalkan tangannya.
Seorang Prajurit masuk membuka pintu tahanan.
" Ayo cepat keluar.Pengadilan akan segera di mulai." gertak sang Prajurit.
"Oke bossss.Kami jalan. Gak usah pakai ngamuk kenapa. " sahut Sugik.
"Apa kau bilang.Kau mau melawan aparat ya. Apa mau mampus kamu..!." gertak sang Prajurit tambah meradang.
"Maafkan teman saya tuan. Memang dia suka bercanda. " Didik membungkuk hormat.
" Sudahlah.Ayo cepat jalan." hardik Para prajurit yang mengawal para tahanan.
Ternyata ada 5 Tahanan yang lainnya yang akan diadili hari ini.
sepanjang jalan, banyak tatapan mata sinis melihat Iring-iringan para nara pidana.
"Lihat itu.Para bajingan akan dihukum kanjeng Prabu. " kasak-kusuk orang dari dalam kedai.
"Sokooor. Wis kecekel begale." sahut sang pemilik kedai.
"Waduh Gik.Kita di tuduh begal. Kita kan anak baik-baik. " celoteh Didik.
"Bukan kita Dik. Tapi lima orang itu lho di depan. " sahut Sugik.
Akhirnya setelah berjalan sekitar 1 jam, iringan terdakwa sampai di Balai Pengadilan.
Sang surya mulai setinggi tombak.
__ADS_1
Ruang sidangpun masih sepi.