
Segera mereka menemui utusan dari kerajaan Purwa Carita di Wisma Tamu.
“ Maaf jadi lama menunggu. Mari kita segera berangkat sebelum matahari tenggelam .” ajak Aryo pada sang utusan kerajaan.
“ Tidak mengapa Tuan –Tuan. Mari silakan naik ke kuda yang telah disiapkan sang Resi Pragola.” ucap sang Prajurit dengan sopan.
“ Apa tidak ada kereta kuda. Maaf kami tidak bisa mengendarai Kuda. Di negeri kami kendaraan kuda sudah tidak di pakai lagi. Semua sudah memakai Kuda besi.” jelas Supri.
“ Tidak Ada Tuan.Kalau begitu tuan-tuan naik di belakang kami .” sahut prajurit tersebut.
“ Oke... tapi jangan kencang-kencang ya lari kudanya. Aku takut terjatuh.“ celetuk Purwa.
“ Baik Tuan..” jawab para prajurit serentak.
Tiga kuda melaju diatas jalan berbatu menembus hutan perdu di sepanjang jalan ke kota raja. Dalam perjalanan sang prajurit memacu kuda sesaui keinginan mereka.
“ Maaf Tuan,tadi tuan Supri katakan bahwa di negeri tuan kendaraan kuda sudah di ganti kuda besi. Apa itu mungkin.Mana mungkin besi bisa berlari seperti kuda.Bagaimana membuatnya. Apa para Mpu menggunakan sihir atau bantuan dedemit?.” sang prajurit nerocos bertanya keheranan.
“Iyaaa...Benar. Bukan hanya kuda besi saja.Di negeri kami juga ada burung besi raksasa yang bisa terbang.Ada bebek juga...” jelas Supri seakan ingin membuat sang Prajurit semakin takjub.
“ Apa tuan...?, Bebek besi ...?.” sang Prajurit kaget dan menarik kekang kudanya kuat-kuat .
“hiiiiiiiik.......kiiikikkkkkkkk” suara kuda meringkik keras.
Sontak Tubuh Supri dan Prajurit tadi terjungkal ke belakang.
“aaa...a” jerit Supri terpental.
“ Gedebuuuug...gedebuuuuuuug. Krusekkk .” suara tubuh Supri dan prajurit terpental berguling-guling di semak-semak.
Kuda yang Aryo tunggangi berhenti. Segera Aryo melompat hendak menolong Supri.
“ Priiiii, Priiiiii...Bagaimana kamu. Apa ada yang terluka ?” tanya Aryo tergesa-gesa.
Supri bangkit dari semak-semak. Mulutnya meringis menahan lututnya yang sedikit robek membentur batu jalanan.
“ Haduuuuuuh.Apes mas...Baru asyik cerita .....eeee kudanya njondhil. Aku kaget dan terpental.” cerita Supri sambil meringis.
“ Masih kuat meneruskan perjalanan atau istirahat dulu?.” tanya Purwa dari samping Supri sambil berusaha menyentuh luka di lutut Supri.
“ Waduuuuh, Sakit Pur...pelan-pelan dong “ seru Supri sewot.
“ Maaf, ku kira kau masih hebat ...wkkkk.” Purwa terkekeh.
“ Ya sakitlah, Aku ini manusia biasa Pur, yang masih doyan Iwak Pitik.Kamu Kira aku ini Power Rengers .” sahut Supri.
“Maaa.....aaaaf .“ tukas Purwa.
“Gak apa-apa bro.Aku juga bercanda. Kalau Cuma luka begini tiap hari sudah jadi sarapan. Kalau angon sapi kami mainnya ya gebug-gebugan,gulat dan jotosan itu hal biasa .Sudahlah ayo kita lanjutkan.” kata Supri sambil bangkit dari duduknya.
Walau meringis menahan sakit, Supri pura-pura kuat di hadapan Purwa dan para Prajurit.
“ Maafkan saya tuan.Saya tidak sengaja...” sang prajurit sedikit ketakutan.
“Sudahlah enggak apa-apa. Lain kali kalau terkejut jangan kebacut begitu.Jadi celaka kan ?." jawab Supri dengan sedikit kesal.
“ Baik Tuan, Mari silakan naik.” sahut sang prajurit.
Mereka pun naik keatas kuda. Kali ini kuda melaju dengan kencang. mereka berpegangan erat –erat pada para prajurit tersebut.
__ADS_1
Menjelang sore hari, rombongan mereka tiba di Wisma Tamu kerajaan. Mereka turun dari atas kuda di sambut pelayan kerajaan yang cantik-cantik.
“ Selamat datang tuan-tuan Utusan Dewa...” sambut para Dayang sambil mengalungkan bunga di leher mereka.
“Waduh...seperti pejabat penting saja kita Yok.Dapat karangan bunga segala .” celetuk Purwa.
“ Kamu ini bagaimana to Pur?.Kita ini Utusan Dewa...” sahut Aryo mengingatkan.
“ Iya ya.Kita kan utusan Dewa....” celetuk Purwa sambil terkekeh.
“ Iyoooooo...Dewo Rengkak.” jawab Aryo Singkat.
“ Apa Itu Dewo rengkak Mas?.” tanya Supri kebingungan dengan istilah Aryo.
“ Gedheeee, Dowooooo, Ireeeeeeng, Mangkaaaaaak.....Wkkkkk” jawab Aryo sambil berkelakar.
“ Ha...haa....haa.....Sampean itu mas yang Dewa rengkak.....kalau Kulitku mah Kuning....Wkkk.” balas Supri sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“ Iya dech......Kuning Kayak Pisang goreng di kali....” balas Aryo tak mau kalah.
“ Asem iiii.Bisa aja sampean Mas..” jawab Supri dengan Kecut.
“ Tuh...rapiiin rambut dan bajumu. Kayak Komeng saja....amburadul.” nasihat Aryo pada Supri. (Maklum Sok Alim )
“ Biariiiin.Nanti mau mandi sekalian. Biar di lulurin sekalian sama putri-putri Keraton yang cantik-cantik itu. Utusan Dewa kan harus tampak ganteng Kayak aku ini.” cerocos Supri.
“ Lhoo...lhooo...lhoooo.Mulai kumat narsismu.Iyaaa dech...sana pilih pacar sebanyak-banyaknya disini.Mumpung jauh dari pacarmu yang cerewet itu ?.” sahutku sedikit sewot.
“ Mari tuan. Kamar tuan sudah kami siapkan.Jangan sungkan-sungkan. Kalau butuh apa-apa,silakan panggil kami. Kami akan melayani semua keperluan tuan-tuan.” kata pelayan kerajaan dengan sopan .
“ Lho mas, dengerin...Semua keperluan kita mau di layani. Apa gak asyik. Kalau begitu Nanti aku Mau........????." seru Supri sambil melamun sendiri.
“heeeisss, cuci dulu otakmu biar gak ngeres.....” Aryo sedikit menasehati Supri.
“ Iya Dechh.Maaf.Kirain Playboymu Kumat di sini.” sahut Aryo merasa bersalah telah berburuk sangka.
“Ha...ha...ha...Santai mas...padahal buruk sangkanya mas tadi betul adanya...” sahut Supri tertawa melihat raut muka sedih Aryo.
“Wooooo.Dasar Playboy kampung..Sudah sana mandi. Biar tambah Buaguuuus. “ umpat Aryo karena merasa di kadalin.
“ Oke mas....” sahut Supri sambil lari kecil menuju sendang di belakang Wisma Tamu.
Sang Surya mulai merangkak ke barat. Menandakan sebentar lagi sang malam akan berkuasa.
Mereka masuk kedalam wisma untuk beristirahat sambil menyusun rencana pertemuan dengan sang Prabu Dian Gondo Kusumo.
Malam semakin larut.Bunyi binatang malam menambah syahdu suasana di Wisma Tamu. Suara Dengkur Bersahutan menambah berat mata Aryo. Aryo segera menarik Selimut dan memejamkan mata.Tak terasa Aryo sudah masuk di alam mimpi.
Tiba-Tiba Aryo berada di tanah dataran tinggi bersama Supri. Di sebelah timur dataran ada pohon besar yang sangat rindang. Di bawahnya ada Sendang yang sumber airnya sangat Jernih.
Tampak rombongan dayang sedang mengiring seorang putri cantik menuju sendang.Rupanya Sang Putri mau mandi. Aryo dan Supri terkesiap melihat kemolekan paras sang putri yang jelita.
"Luar biasa masss,... Itu bidadari... mass... " gumam Supri sampai menetes air liurnya.
" Iyaaa... aku tahu....tapi gak usah ngiler ngapa? ." sahut Aryo cepat.
"Ya Alllah mas, baru kali ini aku lihat bidadari. " Supri masih bergumam.
"Iya sich... benar-benar sempurna." Aryo pun ikut bergumam.
__ADS_1
Sementara di arah timur sendang tampak seorang berbadan tinggi besar seperti raksasa juga sedang melongo melihat kearah putri yang mau mandi. Tanpa di sadari air liurnya menetes ke bumi membentuk sumber air yang menetes.
Saking kagetnya dia bersuara lantang...
"Wuaduuuuuh biyuuuuung. Cuantiknyaaaaaa."
" We ladalah nganti ngiler aku.... ini tempat besok di kemudian hari akan aku namakan Temetes." seru orang tersebut di ikuti suara petir menggelegar.
Tiba-tiba dari arah barat laut datang seorang laki-laki Jangkung. Bergerak menuju Orang yang bertubuh besar tadi.
"Kurang ajar.Berani-beraninya kau mengintip pujaan hatiku yang sedang mandi." bentak lelaki itu.
Aryo dan Supri bersembunyi dibalik pohon besar. Melihat dua manusia yang sedang bertengkar.
"Siapa kau?, Beraninya turut campur urusanku." balas laki laki raksasa itu.
"Aku Jonggrang Prayungan, dari Atas Angin. Aku yang akan melamar Putri Citrawati itu.Kamu jangan kurang ajar mengintipnya."balas Jongrang Prayungan.
" Aku Pangeran Katong. Aku juga berniat melamar Sang putri. Kalau begitu salah satu dari kita harus mati. " balas Pangeran Katong.
"Aku tidak takut. Terimalah Ajianku Gelap Sewu" Seru Jonggrang Prayungan sambil menyerang Pangeran Katong.
Kilat menyambar tubuh Pangeran Katong. Tak Mau kalah Pangeran Katon juga merapal Ajian.
" Kalau cuma sewu aku gak takut. Kubalas kau. Terimalah Ajianku Gelap Sayuto." seru Pangeran Katong.
Dari telapak tangannya keluar jutaan kilat menyambar-nyambar.
Sang Putri yang sedang mandi kaget dan segera menuju tempat pertempuran dua pendekar tangguh.
"Hentikaaaaan, mengapa kalian berkelahi?. " seru sang putri penuh kharisma.
Jonggrang Prayungan dan pangeran Katong berhenti bertarung. Mereka menghampiri sang Putri.
"Kami bertarung memperebutkan dinda Putri Citrowati" jawab Pangeran Katong.
"Dinda Citra Wati.Terimalah cintaku padamu. Aku sangat mengagumimu." seru Pangeran Katong.
" Jangan dinda Putri.Terimalah cintaku saja. Aku sangat tulus mencintaimu." seru Jongrang Prayungan tak mau kalah.
"Sudah... Sudah.. aku bukan barang rebutan. Aku tak kenal kalian. Aku tak mau menerima cinta kalian. Kembalilah kaliaaaan..... Pulaaaaang " gertak sang Putri.
Sang Putri balik badan dan pergi meninggalkan dua jomblo yang patah hati.
Tubuh Mereka lemas tak berdaya. Air matanya mengalir membentuk anak sungai .
Pangeran Katong berdiri.
" Baiklah dinda.Kau tolak cintaku, Kuratakan Purwa Carita dengan tanah." Pangeran Katong emosi.
Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Tiba-tiba muncul badai angin ribut menyapu wilayah Purwa Carita.
Tubuh Aryo dan Supri Terhempas angin ribut.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Aryo.
Aryo terjatuh dari dipan.
Ternyata Aryo hanya mimpi.
__ADS_1
Segera Aryo bangun dan mengambil air wudhu untuk Solat Tahajud.
Hatinya pun menjadi tenang.