
Dengan langkah terseok-seok, mereka mencari menara yang menjulang tinggi tersebut. Jalan terjal berbatu tak mereka hiraukan. Kelelahan yang menerpa tubuh mereka sirna seketika ketika langkah mereka semakin dekat dengan tempat yang mereka tuju.
“ Ini sebenarnya kita di daerah mana sih, kok terasa asing sekali?.” tanya Supri sambil berjalan disamping Aryo.
“ Entahlah, aku seumur-umur baru kali ini melihat wilayah ini. Ini seperti di alam mimpi saja.” sahut Aryo keheranan.
Semakin dekat dengan bangunan yang tampak menjulang, perasaan mereka juga semakin berdegup kencang.
“ Lihat Dik, itu bangunan tadi sudah dekat.” teriak Joko.
“ Ya Allah,bukan menara Jok, tapi itu kelihatannya seperti gapura raksasa.”
“Iya betul.Masya Allah.Gapura emas Gik.Luar Biasa. Kita ini dimana sih. Apa mungkin kita kesasar di Bali?.” gumam Purwa.
“ Yo..., embuh Pur, Aryo saja tidak tahu apalagi aku.” jawab Sugik
“ Gak usah di pikir.Yang penting ayo segera percepat jalannya. Jangan kayak Keong racun begitu jalannya. “ seru Aryo pada Didik dan Sugi.
Bergegas mereka menuju gapura yang tinggal 10 meter lagi.
Tiba-tiba muncul dua orang berperawakan tinggi besar dan berewokan. Dipinggangnya terselip keris dan yang satunnya di tangannya memegang tombak.
“Berhenti....., Siapa kalian....dari mana dan Mau kemana ?.” tanya laki-laki yang memegang tombak tadi.
Mereka kaget dan gemetar dihadang orang bersenjata.
__ADS_1
“ Maaf Tuan.Kami Petualang yang tersesat di daerah ini. Kalau boleh tahu ini daerah mana ?.” jawab Aryo dengan merendah dan Sopan.
“Ini wilayah Keraton Gumeng Purwacarita.Kami penjaga Perbatasan kerajaan. Aku Gelap Ngampar dan temanku ini Brojo Noto.” jawab dua orang tadi.
“Haaaaaaa,...........Kerajaan Purwa carita.??????.” teriak mereka kaget bukan kepalang.
“ Iyaaaa.Memang kenapa.Mengapa Kalian keheranan?.” tanya laki laki tadi menjadi curiga.
“ Jangan-jangan kalian mata-mata ya.Siapa nama kalian dan dari mana kalian berasal ?.” tanya laki-laki berewok tadi menginterogasi.
“ Mmmaaf tuan.Kami dari dukuh Suru.Kami tersesat di hutan Kedung Putri .” jawab Aryo mulai gerogi karena ditatap penuh curiga oleh dua prajurit tadi.
“Dukuh Suru, Wilayah mana itu.Apa wilayah kerajaan Blambangan. Atau kerajaan Majapahit ?.” tanya penjaga tersebut kebingungan.
Mereka mulai sadar bahwa mereka telah terlempar kemasa lalu.Masa pemerintahan Kerajaan yang mereka anggap hanya legenda.
“ Maaf.Kami dari Indonesia ?” jawab Agung Polos.
“ Indonesia itu dimana tempatnya. Lama-lama Aku kok jadi bingung sendiri lihat kalian ini” tanya sang Berewok sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Maksudku wilayah Blambangan.” jawab Aryo sekenanya.
“ Kami mohon ijin untuk memasuki wilayah Purwacarita sekedar menghilangkan lelah dan mencari informasi jalan pulang ke rumah kami .“ Aryo memohon dengan merendah.
“ ooooo, Blambangan.Silakan saja kalian tinggal di negara kami. Asal niat kalian baik kami terima kalian dengan baik. Tapi bila kalian berniat jahat, Kalian sendiri yang akan kena tulah. Wilayah ini sudah di pagari dengan tumbal tolak Balak. Kalian Jangan macam-macam.” seru laki-laki tersebut.
__ADS_1
“ Serahkan semua senjata kalian dan sebutkan nama kalian. Akan kami catat nama kalian sebagai laporan pada Pangeran Citro Kusumo.
“Maaf, Kami tidak membawa senjata.Tuan-tuan bisa geledah kami. Kalau nama kami; saya Sugi,ini Aryo, Didik,Purwa, Supri,Joko,dan Agung.” jelas Sugi.
Prajurit tersebut menggeledah tubuh kami,dan tak menemukan apapun, kecuali lampu Senter.
Ketika Senter di tekan, Muncullah Cahaya senter yang mengagetkan prajurit tersebut.
“ weee la dalah.Senjata apa ini kok bisa bercahaya terang. “ teriak prajurit tadi kaget.
“ Maaf itu bukan senjata tapi itu hanya lampu.Semacam obor atau Dimar dan tidak berbahaya.Itu buatan dari kerajaan kami. Kalau tuan mau,silakan ambil saja.Kami dirumah masih punya banyak.” Agung menjelaskan.
“Baiklah, terima kasih. Silakan kalian masuk wilayah kami,” kata prajurit tadi mulai merendah suhu kecurigaannya karena dikasih L
lampu senter.
“Terima kasih tuan.” jawab mereka serempak.
Penjaga tersebut kembali ke Pos penjagaan di samping gapura.
Mereka akhirnya melajutkan perjalanan masuk ke kerajaan purwa carita.
Sepanjang perjalanan mereka takjub dengan keindahan wilayah kerajaan ini.
Akan tetapi di dalam hati mereka sebenarnya sedang kacau balau memikirkan betapa hebohnya bapak ibu mereka yang kehilangan anaknya di Kedung Putri.
__ADS_1