
Karena gurauan sepanjang perjalanan, tak terasa mereka sudah mendekati halaman Istana Purwa Carita. Langkah mereka semakin cepat. Beberapa Prajurit menyambut kedatangan mereka di depan pintu Balai Pisowanan.
" Maaf Tuan, Gusti Prabu sudah menunggu di balai Pisowanan. Silakan Tuan masuk." sambut sang Prajurit dengan hormat.
"Baiklah.Kami segera menghadap gusti Prabu. " jawab Purwa.
Mereka bertiga masuk ke balai Pisowanan dan menghaturkan sembah hormat.
"Salam hormat dan sembah bakti kami Untuk Gusti Prabu. " ucap salam sembah mereka pada Gusti Prabu.
"Aku terima sembah hormat kalian dan terimalah restuku untuk kalian.Silakan duduk." jawab sang Prabu.
"Terima Kasih gusti Prabu." sahut mereka bertiga.
" Saya memanggil kalian ke istana, karena ada beberapa hal yang ingin kami bahas tentang negeri ini bersama kalian." ungkap sang Prabu membuka percakapan pisowanan.
"Sendiko dawuh Gusti" jawab mereka serempak.
" Kalian tahu bahwa kejadian yang menimpa putriku di Kaputren merupakan rangkaian takdir yang di sampaikan Dewata lewat mimpiku.
Aku sadar bahwa akan ada mendung hitam yang menyelimuti kerajaan Purwa Carita. Dan kedatangan kalian ke negriku ini juga ada dalam firasat mimpiku. Itulah sebabnya kalian aku percaya sebagai utusan Dewa. Karena kalian mungkin yang di maksud dengan Cahaya bintang terang yang jatuh dari langit." jelas sang Prabu Dian Gondo Kusumo.
"Ampun Gusti Prabu.Sebenarnya kami bukanlah utusan Dewa. Kami ini manusia biasa. Bahkan di masa kami, kami ini hanyalah Penuntut ilmu yang masih sekolah. Teman hamba menyebut diri sebagai Utusan Dewa hanya untuk melindungi diri kami di dunia ini. Agar masyarakat di sini tidak meremehkan dan mencelakakan kami. Kami sadar bahwa kami bukan berasal dari zaman ini. " jelas Aryo.
"Kami terjebak di zaman ini karena kami terseret energi dari benda yang kami sentuh di dalam Goa. Benda itu mungkin berada di wilayah ini. Benda itu sebelumnya bergetar dengan hebat sehingga menyedot kami ke zaman ini" sambung Purwa.
__ADS_1
" Jadi kalian benar-benar berasal dari masa depan. Berarti kalian tahu keadaan negeri Purwa Carita di masa depan?. " tanya sang Prabu.
"Benar Gusti Prabu.Sebenarnya negeri ini sudah tinggal legenda yang belum tercatat dalam sejarah. Di zaman kami kerajaan besar Majapahit pun sudah tiada.Tinggal sejarah yang di tulis oleh para peneliti sejarah" jelas Aryo.
Wajah Prabu Dian Gondo Kusumo berkerut serius mendengar penjelasan Aryo.
"Lalu bagaimana dengan negeriku ini. Apa ada yang menulis sejarahnya? " tanya sang Prabu.
"Ampun gusti Prabu.Tentang sejarah kerajaan ini belum tercatat dalam sejarah. Hanya saja cerita dari penuturan secara turun temurun memang masih ada. " jawab Purwa.
..."Maukah kalian menceritakan perihal yang terjadi di negeriku ini " pinta Sang Prabu....
"Ampun Gusti.Mengenai perihal yang melanda Kerajaan Purwa Carita yang lebih faham itu aryo, karena Dia penduduk asli dukuh Gumeng yang di perkirakan letaknya berada di sekitar istana ini. " jawab Purwa.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, karena aku juga seorang Pandhito yang faham tentang takdir. " sahut sang Prabu.
"Baik Gusti.Kami akan ceritakan pada gusti. Tetapi kami mohon tidak ada yang mendengar kecuali kita." pinta Aryo.
"Baiklah,aku setuju" sahut sang Prabu.
Aryo kemudian mendekat Prabu Dian Gondo Kusumo. Kemudian menceritakan legenda kerajaan Purwa Carita secara garis besarnya.
Sang Prabu tiba-tiba merasa muram wajahnya. Tampak kesedihan terpancar di raut mukanya.
"Duh Gusti.Ternyata ini yang engkau maksud dengan awan hitam dalam mimpiku." gumam sang Prabu dengan sedih.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih atas pencerahannya. Aku akan menerima apapun yang Dewata takdirkan pada kerajaan ini" sang Prabu mulai optimis.
"Yang Pasti di masa depan, negeri ini akan gemah ripah loh jinawi. Kami disini akan menjalani peran kami semampu kami" sahut Purwa.
"Kami disini berusaha mencari jalan untuk kembali ke masa kami. Kami sendiri masih bingung dengan apa yang menimpa kami" jelas Supri.
"Baiklah.Kalian bisa kembali.Kalian saya ijinkan untuk melakukan aktifitas yang kalian anggap perlu dan penting" sahut sang Prabu.
" Terima kasih Gusti Prabu, Kami mohon pamit. " Mereka bertiga menghaturkan sembah dan meninggalkan Bale Pisowanan.
Sepeninggal mereka bertiga, Prabu Dian Gondo Kusumo menuju Pesanggrahan Kawaskitan. Beliau bersemedi mohon petunjuk sang Hyang Widhi.
Sementara itu, Aryo, Supri dan Purwa hendak kembali ke Balai Ganesa. Sesuai janjinya, mereka mampir ke Kaputren menemui sang Putri Citra wati.
Supri dan Purwa menuju wisma tamu.Sedangkan Aryo dibiarkan menemui sang Putri Sendirian.
"Yok, sana temui bidadarimu. Kami malu jadi obat nyamuk. Kami tunggu di wisma tamu ya?. " celetuk Purwa.
" Ya okelah kalau begitu.Nanti saya susul ke sana " sahut Aryo sambil ngeloyor ke dalam Kaputren.
Sesampainya di kaputren, Sang Putri sudah menunggu di taman belakang. Senyum manisnya mengembang melihat Aryo datang.
Jantung Aryo berdegup kencang. Aryo mendekat sang Putri dengan menundukkan wajahnya karena malu.
"
__ADS_1