
Sementara itu di Pusat Kerajaan Purwa Carita, sang Prabu Dian Gondo Kusumo sedang mengadakan Pisowanan dengan semua punggawa dan Adipati di wilayah kerajaan Purwa Carita.
Tampak hadir dalam pertemuan itu Sang Permaisuri Diah Roro Girah beserta para pangeran dan putri kerajaan. Pangeran Citro Manggolo, Pangeran Citro Kusumo dan Putri Diah Roro Citro wati.
Hadir pula sang Maha Patih Suro Menggolo beserta Panglima Perang Aryo Ludiro.
"Wahai kakang Maha Patih Suro Menggolo. Bagaimana keadaan di Wilayah Kerajaan Purwa Carita selama aku tinggal Semedi di Pesanggrahan Cokro Waskito?." tanya Sang Prabu Gondo Kusumo.
" Ampun Kanjeng Prabu.Negara Purwa Carita dalam keadan yang aman. Rakyat hidupnya sejahtera. Gemah ripah loh jinawi. Pajak dan Upeti semakin meningkat. Untuk lebih jelasnya akan disampaikan oleh para adipati dan tumenggung."," jawab sang Maha Patih dengan optimis.
"Terima kasih Kakang Patih" ucap sang Prabu Gondo Kusumo.
"Ampun Kanjeng Prabu.Saya akan melaporkan keadaan Keamanan Negeri Purwa Carita. Negeri Purwa Carita masih dalam kondisi aman terkendali. Beberapa gangguan dari anak buah Kala Werti berhasil kami atasi. Hanya saja Kala Werti berhasil meloloskan diri lari ke kerajaan Atas angin. Kami tidak berani mengejar." ujar Panglima Aryo Ludiro.
" Hmmnm, Jangan-Jangan nanti di kemudian hari akan menjadi sumber masalah. Mulai sekarang tingkatkan kewaspadaan dari segala gangguan yang berpotensi mengganggu stabilitas kerajaan. " titah sang Prabu Dian Gondo Kusumo.
" Sendiko dawuh, kanjeng Prabu." jawab sang Panglima.
" Lalu bagaimana Persiapan pembangunan Keraton Mlumpang dan Bale Kambang. Apa Sudah ada perkembangan.Bagaimana Sumber Bahan bangunan apa sudah di dapatkan?." tanya sang Prabu Gondo Kusumo.
"Ampun Gusti.Kami sudah menemukan sumber tambang emas dan tembaga di barat daya kraton Purwa Carita." jelas Tumenggung Suryo Kendit.
" Bagus..., Bagus sekali. Kabar seperti ini yang sangat aku nantikan. Bagaimanapun emas itu sebagai lambang kemakmuran dan kejayaan suatu bangsa. Banyak bangsa yang menyerang bangsa lain hanya karena ingin menguasai tambang emas. Siapa yang berhasil menemukan lokasi tambang emas tersebut?." tanya sang Prabu dengan wajah berbinar.
"Ampun kanjeng Prabu.Sebenarnya ada 3 pemuda yang membantu tim kami untuk mencari lokasi tersebut. Pemuda-pemuda itu memang agak aneh dari segi fisik dan cara berpakaian serta berbicaranya. Seperti utusan Dewa saja pemuda-pemuda itu.Mereka bisa berhitung dan mempunyai pengetahuan yang tidak ada di jaman ini. Perawakannya lebih kecil dari ukuran kita, Bajunya juga berbeda dari yang kita pakai.Berbicaranya juga berbeda. Bahasanya agak berbeda. Tapi mereka sangat sopan pada kami." Sang Tumenggung Menjelaskan dengan detail kepada sang Prabu.
"Apa mungkin mereka itu orang yang di temukan prajurit perbatasan Kerajaan. Menurut Prajurit tersebut ada 7 anak muda yang tersesat. Kesasar sampai ke kerajaan ini." Pangeran Citro Kusumo menebak-nebak.
"Mungkin benar Pangeran. Mereka mengaku terpisah dari teman yang lainnya ketika ada Badai yang meluluh lantakkan kerajaan kita. Angin yang di kirim oleh Pangeran Agung Katong ketika di tolak cintanya oleh Kanjeng Gusti Roro Citro wati." jelas sang Tumenggung.
" Hmmmm, sungguh menarik Ceritamu. Sekarang Coba panggil mereka menghadapku sekarang. Aku ingin tahu seperti apa utusan dewa yang kau maksud !." Perintah sang Raja Gondo Kusumo.
"Sendika Dawuh Kanjeng.Kami akan mengirim utusan untuk menjemput mereka dari Bale Ganesha ." Sang Tumenggung menghaturkan sembah.
Sang Tumenggung bergerak mundur sambil menghaturkan sembah. Setelah sampai di luar ruangan Paseban, sang Tumenggung memanggil beberapa Prajurit pengawalnya.
__ADS_1
"Hai Prajurit.Kemarilah. Ada titah dari Gusti Kanjeng Dian Gondo Kusumo. Sekarang Kalian sampaikan surat ini kepada Tiga pemuda asing di Bale Ganesha !." perintah sang Tumenggung sambil memberikan Surat dari daun Lontar.
" Sendiko Dawuh kanjeng Tumenggung. Kami siap melaksanakan Tugas ." Sang Prajurit dengan sigap menerima daun lontar tersebut.
Prajurit tersebut segera memacu kudanya menuju Bale Ganesha yang tidak jauh dari Purwa carita. sekitar satu kilo meter.
Menjelang tengah hari utusan tersebut sampai di Bale Ganesha. Utusan di sambut oleh Kepala Bale Ganesha yang bergelar Resi Pragola Sukma.
Sang Resi tersenyum ramah menerima dua utusan tersebut.
" Maaf Kisanak, apa ada titah dari Sang Prabu Gondo Kusumo untukku?." tanya sang resi dengan sopan.
" Nuwun sewu Tuan Resi Pragola Sukma. Kami di utus Gusti Prabu untuk Menyampaikan surat ini untuk Orang asing yang bekerja di Bale Ganesha ini. " jawab salah satu utusan tersebut.
"Orang asing?, Maksudnya Tuan Aryo, Tuan Supri dan Tuan Purwa.?" sang resi balik bertanya.
" Benar Tuan Resi. Ini surat dari Gusti Prabu Gondo Kusumo. " Sang utusan memberikan surat yang terbuat dari lontar tersebut kepada sang Resi.
" Baik, Surat saya terima. Tunggulah barang sebentar. Silakan Istirahat dulu di wisma tamu. Kami akan sampaikan surat ini pada mereka sang utusan Dewa. Kami tidak berani gegabah." Sang resi berbicara penuh wibawa.
Utusan itu beranjak ke wisma tamu. Sementara itu sang resi menuju ruangan khusus tamu yang di anggap utusan Dewa.
"Tooook..... tooook..... tooook" suara pintu diketok dari luar.
"Ya, sebentar. Siapa ya.... "sahut Supri dari dalam.
"Saya Tuan, saya Resi Pragola. ada surat penting dari Sang Prabu." sahut sang resi dari luar.
"Oooooo, tuan resi. Silakan masuk tuan." sahut Supri dari dalam sambil membuka pintu.
Sang Resi Masuk dan duduk di kursi tamu yang di sediakan.
"Ada Tamu siapa Dik Pri... " sahut Aryo dari Belakang wisma.
"Tuan Resi Pragola mas. ada hal penting dari sang Prabu." jawab Supri dari dalam wisma.
__ADS_1
Aku dan Purwa bergegas masuk ke dalam wisma.
"Oh Tuan Resi, mohon maaf lama menunggu." sambut Purwa tergopoh-gopoh.
"Tidak mengapa tuan, ini ada surat untuk tuan bertiga." sang resi memberikan gulungan lontar kepada kami.
"Maaf Tuan.Kami tidak bisa membaca huruf ini. Huruf ini kalau di tempat kami disebut huruf palawan Sansekerta. dan kami belum mempelajarinya. Mohon Tolong di bacakan surat ini." jawabku dengan merendah.
" Baiklah tuan, Saya akan membacakannya." jawab Sang resi.
Sang Resi membacakan dan menjelaskan isi surat tersebut.
"Intinya, Tuan-Tuan di panggil sang Prabu Dian Gondo Kusumo. Sang Prabu ingin mengenal orang yang telah berhasil menemukan lokasi tambang emas. Segeralah Tuan-Tuan bersiap ke Istana. Jangan sampai Sang Prabu Murka. " sang Resi menjelaskan isi surat tersebut.
"Baik tuan Resi, Kami segera berkemas." jawab Aryo sambil bergegas berdiri.
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Tuan di tunggu di wisma tamu." pamit sang Resi.
"Baiklah Tuan Resi. Kami persilakan" jawab Supri Cepat.
Kami hantar sang resi sampai didepan pintu.
segera kami bersiap menuju Istana.
Sambil berkemas, Supri cengar-cengir sendiri.
"Kenapa Pri, kok cengar-cengir sendiri? ." tanya Purwa Penasaran.
" Gak apa-apa. Hanya pingin tertawa saja kalau lihat orang-Orang disini menganggap kita Utusan Dewa. Sampai-sampai sang Raja juga percaya berita Hoax yang Kau buat." jawab Supri.
"Sudahlah....toh mereka percaya. Yang penting kita selamat di negeri antah berantah ini. Kau mau jadi perkedel di sini?. Lebih baik kita sedikit berbohong dan kita buat yang berguna di peradaban ini. Siapa tahu di masa depan jadi berguna dan bisa merubah takdir di masa depan. " jelas Purwa.
" Benar Dik Pri, Kita buat kemajuan di negeri ini. Nanti kita sampaikan rencana kita yang telah kita susun bersama sang Resi Pragola Sukma. " jawab Aryo singkat.
"It's Okey.... Fahimtu ya kakang mas.... " jawab Supri sambil tertawa.
__ADS_1
Kami segera menuju menemui sang utusan di Wisma Tamu.