
Rombongan Kerajaan Pandan dengan pasukan lengkap memasuki wilayah kerajaan Purwacarita membuat pasukan penjaga perbatasan kerajaan Purwacarita menjadi kalang kabut.
"Rombongan apa itu yang bergerak kesini...???. "teriak seorang Prajurit dengan cemas.
"Apa mungkin komplotan begal ?"sahut temannya yang ikut cemas.
Ketika rombongan semakin dekat tampak jelas derap pasukan prajurit kerajaan Pandan dalam jumlah besar.
"Kita akan di serang. Segera lapor ke istana. Biar aku dan pasukanku mencoba menghadang mereka. "
"Baik. Saya akan segera ke istana... "
"Cepat.... sebelum terlambat... "
Prajurit itu segera melompat ke atas kudanya. Dengan cepat memacu ku da menuju istana kerajaan Purwa Carita.
Setelah sampai di pintu gerbang Prajurit itu segera melapor kepada penjaga gerbang.
"Maaf ...ini darurat. Saya ingin melapor pada gusti Senopati Donorekso bahwa kita diserang. "kata Prajurit itu dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa?diserang.Siapa yang menyerang? "
"Kerajaan Pandan... " jawab prajurit itu dengan cemas.
"Baik...Prajurit. Buka pintu gerbang !"
Pintu gerbang pun di buka.
"Segera temui Senopati Donorekso.Laporkan apa yang kamu lihat. Kami akan menyiapkan kekuatan Pertahanan Gerbang. "
"Baik. Terima kasih. "
__ADS_1
Prajurit Perbatasan yang bernama Brojonoto segera masuk kedalam istana.Dia segera menuju Wisma Panglima Donorekso.
Dalam perjalanan ke Wisma, Prajurit Brojonoto berpapasan dengan Panglima Donorekso yang hendak ke Pisowanan istana.
"Gusti... Gusti Dinorekso. Ketiwasan Gusti.. "kata Brojonoto sambil berjongkok menyembah Senopati Donorekso.
"Ada apa. Siapa kamu ini? " tanya senopati Donorekso keheranan.
"Ampun gusti. Hamba Brojonoto. Prajurit penjaga perbatasan.Ketika kami sedang berjaga,tiba-tiba dari arah kejauhan tampak rombongan pasukan kerajaan Pandan dalam jumlah yang sangat banyak. Pasti mereka akan menyerang kerajaan kita gusti. " kata Brojonoto dengan wajah cemas.
"Apa... kerajaan Pandan berani menyerang kita.Berani sekali mereka. Baik. Laporanmu saya terima. Saya akan melaporkan hal ini kepada Gusti Prabu Dian Gondo Kusumo.Sekarang kamu kembali ke tugasmu. "perintah senopati Donorekso.
"Sendiko dawuh gusti. "
Brojonoto bergerak mundur kembali menuju tempat tugasnya.
"Gawat ini....aku harus segera melaporkan pada Gusti Prabu. "gumam senopati Donorekso.
Beberapa saat kemudian Senopati Donorekso sampai di tempat Pisowanan.
Para peserta Pisowanan sudah hadir semua. Ternyata tinggal menunggu senopati Donorekso.
"Ampun Gusti. Hamba terlambat hadir di pisowanan. "
"Senopati Donorekso. Kamu ini bagaimana. Putraku yang dari Balekambang saja sudah datang kamu kok terlambat. Kenapa? "tanya Prabu Dian Gondo Kusumo dengan nada marah. Pangeran Citro Menggolo dan Citro Kusumo menatap tajam ke arah Senopati Donorekso.
"Ampun gusti. Hamba terlambat karena tadi hamba menerima laporan dari Prajurit perbatasan bahwa ada ribuan prajurit kerajaan Pandan yang bergerak menuju kerajaan Purwa Carita."kata Senopati Donorekso menjelaskan dengan cemas.
"Apa...?.Kita diserang?.Berani sekali Si Jayeng Karto. Mau main-main denganku rupanya. Dengarkan kalian semua. Pisowanan kali ini di tunda. Sekarang aku perintahkan pada kalian semua. Siapkan semua Pasukan dan senjata. Bila perlu senjata terbaru kita siapkan juga. "titah Prabu Dian Gondo Kusumo.
"Putraku Citro Manggolo dan Citro Kusumo. Sekarang juga kalian kembali ke kerajaan kalian. Selama adikmu Citrawati belum siap memerintah purwa Carita, Kalian wajib melindungi. Bawa bala bantuan dari kerajaan kalian. Jangan sampai kita kalah. "
__ADS_1
"Siap Romo. Kami segera mohon pamit. "sahut mereka cepat sambil menghaturkan sembah pamit.
Suasana Balai Pisowanan menjadi sepi. Prabu Dian Gondo Kusumo termangu membayangkan peristiwa masa mudanya.
"Jayeng... Jayeng. Dulu kau sudah ku kalahkan. Sekarangpun kau juga akan kalah. Apa kamu kira Purwa Carita masih seperti dahulu. Kamu salah Karto.... " gumam Prabu Dian Gondo Kusumo. Tangannya mengepal dan di pukul-pukulkan ke tiang Balai. Wajahnya tampak sangat geram dan dendam.
Sementara itu di Perbatasan Kerajaan Purwa Carita.
"Berhenti.... Siapa kalian dan mau apa kalian?"tanya Prajurit Perbatasan.
"Aku Pangeran Katong dari kerajaan Pandan.Aku berniat baik ke Purwa Carita ini. Saya bermaksud melamar Putri Citra Wati. Lihatlah semua uba rampe yang kami bawa. Bukankah itu alat untuk lamaran? "jelas Pangeran Katong.
"Mengapa Pangeran tidak menyampaikan hal ini melalui utusan dulu ke Purwa Carita. Bukankah itu aturan bernegara yang sudah di sepakati?. "tanya Bajul Ngampar menyelidik.
"Ini untuk kejutan saja."
"Mengapa Pangeran membawa ribuan Prajurit seperti mau perang? "
Belum sempat di jawab Pangeran Katong, dari arah kerajaan purwa Carita datang ribuan Prajurit berkuda dan bersenjata lengkap.
"Salam hormat tuan senopati Donorekso." Bajul Ngampar memberi hormat.
"Siapa mereka ini?. Oh Pangeran Katong. Selamat datang Pangeran. Ada masalah apa ini.?tanya senopati Donorekso.
"Kami bermaksud damai. Kami mau melamar putri Citra wati. " kata Pangeran Katong.
"Ehm.. kalau begitu silakan Pangeran dan rombongan lamaran datang ke Istana tetapi para Prajurit tetap tinggal di luar perbatasan. Bukan kami tidak percaya. tetapi kami harus berjaga dari segala kemungkinan."terang Senopati Donorekso.
"Baiklah kami paham keadaan ini. "
"Kalian para Prajurit tunggu disini. Biar rombongan lamaran yang masuk. "
__ADS_1
"siap Pangeran"