
Hati Aryo semakin gelisah ketika Prajurit penjaga Puri Kedhaton keluar dari dalam Puri.
"Maaf bila tuan Aryo lama menunggu. Tuan Aryo di persilakan masuk. Tuan Putri sudah menunggu di halaman belakang Puri."kata Prajurit itu dengan sopan.
"Baiklah.Terima Kasih. "Jawab Aryo dengan sopan pula.
Aryo melangkah masuk kedalam Puri Kedhaton. Beberapa saat kemudian Aryo sampai di halan belakang Puri Kedhaton.
"Maaf nimas Putri. Ijinkan saya bicara sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan"Kata Aryo mendekati sang Putri.
"Duduklah Mas Aryo. Saya juga ingin bicara. "sahut sang Putri dengan sunggingan senyum yang memikat.
Aryo duduk di bangku di dekat Putri Citrawati. Nafasnya sedikit terasa berat.
"Nimas Putri, saya tahu mengapa nimas menangis tadi."
"Memangnya kang mas bisa baca fikiranku?"kata sang Puteri dengan cemberut.
"Nimas lupa ya. Saya ini kan utusan dewa.Jadi wajar kan kalau aku bisa membaca fikiran. "kata Aryo sambil memegang telapak tangan Putri Citrawati.
"Kang Masss. Apaan sih."sang Putri berusaha menarik tangannya dari genggaman Aryo.
"Nimas. Aku tahu Nimas gelisah karena takut aku meninggalkan nimas. Akupun juga merasakan hal yang sama. Aku sedih harus berpisah dengan nimas"kata Aryo sambil berdiri memeluk Putri Citra wati.
Putri Citrawati pun berdiri berpagut membalas pelukan Aryo.
Dua Insan beda Zaman itu berpelukan erat seakan tak mau berpisah.
"Nimas, walau mungkin cinta kita tidak bisa bersatu di sini, Saya yakin ruh cinta kita akan bisa bersatu di masa depan. Karena cinta tidaklah harus memiliki tetapi kita memiliki cinta. Biarlah cinta itu sendiri yang akan mencari hakikatnya sendiri. "
"Iya Kang Mas. Nimas sadar kalau kita beda zaman. Kang Mas mempunyai dunia sendiri. mempunyai keluarga dan jalan hidup tersendiri. Andaikan Aku bisa melintas masa seperti kang mas. Akan aku lakukan. Walau harus ku tinggalkan semua yang ku punya hari ini" kata sang putri semakin erat memeluk Aryo.
"Nimas, tidak baik menyalahi takdir. Biarlah nanti Tuhan yang mengaturnya. Nimas.Aku hadir di sini juga sebenarnya menyalahi qudrat. Nimas lihat.Aku ini sebenarnya mirip siapa di zaman ini.?"kata Aryo.
"Memang kang mas agak mirip dengan Pangeran Katong Prabangkara. apa mungkin....? " kata Putri Citrawati tertegun.
"Benar nimas. Ada kemungkinan Aku ini mempunyai garis keturunan dengan pangeran katong. Menurut nenekku, Kakekku berasal dari Desa yang dulunya adalah kerajaan Pandan. Aku sendiri juga tidak tahu silsilahku dengan pasti. "kata Aryo.
"Lalu kehadiran kang mas disini...? "
"Mungkin sebagai penyebab penghalang Pangeran Katong."jawab Aryo singkat.
"Lalu Siapa yang menjadi jodohku...?
"Maaf Nimas. Aku tak bisa mengatakan... "
__ADS_1
"Kang mas... Jangan kau bilang aku akan jadi istri si Katong.. "kata Putri Citrawati merengut.
"Bukan nimas. Yang pasti nimas jalani saja takdir Dewata. Aku tak sanggup untuk menghalau apa yang Tuhan takdirkan."
"Berarti sudah dekat waktunya kang mas akan meninggalkan kami. Dengan berkumpulnya teman-teman kang mas menjadi tanda semakin dekat munculnya awan hitam yang menyelimuti Purwa Carita.Hal itu yang membuat aku menangis."kata Sang Putri dengan sedih.
"Sudahlah. Jangan terus bersedih.Nanti hilang lho manisnya. "kata Aryo sambil mencubit pipi Citrawati.
"Emhhh... Kang Mas. Usil ya. Awas tak bilangin romo nanti. "
"Ngomong aja sama romomu. Aku enggak takut. "
"Benar enggak takuuuut?. "Kata Citrawati merajuk.
"Benar.Aku enggak takut. Kan Gusti Prabu sendiri yang menyuruhku godain kamu. wkkkk"
"Kang Mas bisa aja. "Kata Citrawati sambil bersandar di bahu Aryo.
Aryo memeluk erat dan mengelus sang putri dengan sayang.
Dua Insan berbeda zaman itu terlena dalam gelora rasa cinta yang mendera.
Sementara itu, di tepian sungai di bawah air terjun.
Pangeran Katong Prabangkara sedang menyusun rencana membuat trowongan bawah tanah menuju Purwa Carita.
"Maaf Pangeran. Kami rakyat Maha Sura siap membantu pangeran. "
"Kapan waktu yang tepat untuk memulai? "
"Menurut saya, sebaiknya kita mulai pada hari Anggoro Kasih. Menurut keyakinan kami hari itu sangat baik untuk mulai pekerjaan. "
"Berarti hari ini. Sekarang kan hari Anggoro Kasih. Kalau begitu Panggil semua rakyatmu."
"Siap Pangeran. "
Reksa Kala memejamkan mata mulutnya komat-kamit membaca mantra.
"Hum Her hum her hum her"suara Reksa Kala lirih memanggil teman-temannya.
Tiba-tiba muncullah ratusan kala berbaris berjajar di tepi sungai.
"Wahai rakyatku. Hari ini kita akan membantu Junjungan kita Pangeran Katong membuat trowongan bawah tanah. Kalian siap? "
"Kami siap... " Jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Kalian lihat. Aku akan membuat lobang dengan kesaktianku. Kalian yang akan meneruskan. "
Pangeran Katong merapal Ajian tebah Bumi.
"Hup.... hiyaaaat..... "
"Bluar...... "
Sebuah gua cukup dalam terbentuk dari bekas ledakan ajian tebah bumi.
"Kalian gali menurut arah sumber air yang ada. Sumber air itu melintas di dekat sungai di Purwa Carita."
"Siap Pangeran.. "
Rakyat Mahasura dengan giat mencoba menggali dan menjebol tanah yang berpadas. Dengan pendengaran denawa yang sangat peka, Mereka menggali menuju sumber air bawah tanah.
Hari demi hari berlalu.Sudah dua pekan mereka menggali trowongan bawah tanah.
"Pangeran...itukah sungai bawah tanah yang pangeran maksud?" tanya Reksa Kala.
"Benar. itu yang aku lihat dalam penerawanganku. Berarti kita sudah dekat. mungkin lima ratus tombak lagi kita akan sampai di tepi sungai Purwa Carita. Ayo semangat. "
"Baik Pangeran. "
Dengan cepat mereka menggali tanah padas dan di bantu dengan kekuatan pangeran Katong akhirnya mereka bisa menembus dinding tepian sungai.
"Pangeran... kita sudah tembus."
"Biar aku yang keluar dulu kalian di dalam saja. "
Pangeran Katong merangkak keluar dari terowongan. Dengan susah Payah akhirnya Pangeran Katong keluar dari dalam air.
"Ini benar-benar Purwa Carita. "
Tiba-tiba terdengar langkah-langkah menuju ke Kedung yang airnya jernih.
"Citra wati. Dia mau mandi...Aku harus pergi dulu.Jangan sampai ketahuan semua rencanaku. "
Pangeran Katong kembali menyelam ke air dan naik masuk kedalam trowongan. dengan susah payah Pangeran Katong masuk kedalam trowongan.
"Bagaimana Pangeran. Apa benar kita berhasil?"tanya Reksa Kala.
"Kita berhasil. Terima Kasih atas bantuan kalian. Kalian bisa kembali. Aku akan tinggal di trowongan ini dulu untuk menyusun rencana."
"Baik Pangeran. Kami akan kembali. Bila pangeran Membutuhkan bantuan kami. Panggil saja kami. Kami akan datang. "kata Reksa kala.
__ADS_1
Reksa kala dan rakyat MahaSura kembali. Suasana dalam terowongan menjadi hening.
Pangeran Katong berjalan menuju Sungai bawah tanah yang mengalir jernih. Sejenak pangeran Katong bersemedi di dalam air. Otaknya berfikir mencari cara untuk membalaskan dendam dan amarahnya.