Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
Tragedi Sudetan(2)


__ADS_3

Prabu Citro Kusumo duduk termenung sendiri di pojok ruang baca Wisma Ganesha. Pikirannya menerawang jauh membayangkan dirinya bila harus melihat keponakannya ternyata adalah titisan dari musuh bebuyutannya. Musuh yang pernah memporak porandakan Kerajaan Purwa Carita.


"Ini memang tidak boleh terjadi. Bayi yang di kandung Citrawati harus aku musnahkan. Harus ku paksa untuk keluar dari rahim Citrawati. Apapun resikonya harus aku lakukan. Aku harus tega. Ini demi martabat kerajaan Purwa Carita."gumam Prabu Citro Kusumo.


Sementara itu Putri Citrawati yang sudah tersadar segera bangkit menghampiri kakaknya yang tampak bersedih.


"Maaf kan adikmu Kanda Citro Kusumo. Adikmu ini sama sekali tidak menyadari dengan semua Kejadian ini. Ini semua mungkin sudah garis Dewata yang harus aku jalani."kata Citrawati dengan pelan.


"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Yang harus Kamu sadari adalah apa yang akan terjadi. Kamu harus siap menghadapinya." kata Pangeran Citro Kusumo dengan arif.


" Kita kembali ke Kaputren saja kanda. Aku lelah. Aku perlu menenangkan diri ini. "kata Putri Citrawati pelan.


"Baiklah, Dinda naik kudaku saja. Biar aku berjalan saja."


Keduanya segera berpamitan pada sang resi.


Kedua bangsawan Purwa Carita tersebut menyusuri jalanan Purwa Carita dalam diam. Hati dan Pikiran Prabu Citro Kusumo tampak kalut. Bagai di selimuti kabut hitam pekat yang menyayat jiwa raganya. Antara sayang saudara dengan kehormatan kerajaan yang tercoreng.


Sesampainya di Kaputren, Sang Putri segera masuk ke Puri. Sang Putri duduk bersila di atas ranjang menenangkan jiwanya.


Sementara Prabu Citro Kusumo tanpa pamit segera menggebrak kudanya melesat menuju kerajaan Bale Kambang.


Jiwanya yang di penuhi amarah membuat lari kudanya bagaikan anak panah yang melesat.


Menjelang tengah hari, Prabu Citro Kusumo sudah memasuki gapura perbatasan kerajaan Bale Kambang. Lari kuda sang prabu mulai berkurang.


Setelah mendekati gerbang istana sang prabu menghentikan laju kudanya. Kuda meringkik keras pertanda langkahnya berhenti.


Pintu gerbang terbuka. Tampak beberapa prajurit menyambut kedatangan sang Prabu Citro Kusumo. Beberapa saat kemudian sang Prabu telah Sampai di istana Balai Kambang.


Sang Prabu segera menuju ke peraduan. Dibaringkannya tubuhnya di dipan istana yang megah. Matanya menerawang nanar memikirkan masalah yang menimpa kerajaan Purwacarita.


Hari berganti pekan, Pekan berganti bulan. Sembilan bulan sudah berlalu sejak mendung hitam melanda Purwa Carita.


Di dalam Kamar Pribadi Istana, Sang Prabu Citro Kusumo tampak resah.


Sambil menghela nafas, sang Prabu bergumam," Sudah tiba saatnya aku menjalankan rencana ku. Aku harus tega. Ini demi kehormatan Purwacarita."


Sang Prabu Citro Kusumo keluar dari Kamar Pribadinya. Sang Prabu berjalan menuju kandang kuda kesayangannya.


Sejenak kemudian, Sang Prabu sudah berada di atas kuda dan melesat menuju kerajaan Purwa Carita.


Menjelang tengah hari, Kuda Prabu Citro Kusumo sampai di halaman Puri Kedathon. Dengan secepat kilat sang Prabu melompat dan masuk kedalam Puri. Beberapa prajurit penjaga kaget melihat sang Prabu tergesa gesa masuk ke dalam Puri.


"Kang Mas Citro Kusumo. Kadingaren kakang datang ke Puri Kedathon tanpa memberi tahu lebih dahulu."Ucap sang Putri Citro Wati keheranan.


"Sudahlah...sekarang Dinda ikut aku."

__ADS_1


"Kemana Kang Mas ?"


" Pokoknya ikut...Jangan banyak tanya." kata Sang Prabu Citro Kusumo dengan nada marah.


"Iya...sebentar aku siap-siap dulu..."


"Tidak usah...ayo cepat...!"gertak Sang Prabu dengan keras.


Tangan sang Prabu segera menarik lengan sang putri dengan keras.


Sang Putri hampir terjerembab ke depan.


"Kang mas...ada apa ini...lepaskan...!" teriak sang Putri.


Sang Prabu terus menarik lengan sang Putri meskipun Sang Putri Citrawati terus meronta -ronta.


Beberapa prajurit berusaha mencegah dan menolong sang putri.


Tapi naif, dengan sekali tendang tubuh mereka tepental bergulingan di tanah.


Dengan sekali totok tubuh Putri Citrawati menjadi kaku tak bergerak


Sang Prabu Citro Kusumo segera membopong tubuh adiknya dan melesat bagaikan anak panah menuju tepian hutan larangan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di tepian hutan pagar sari.


Prabu Citro Kusumo berhenti sejenak dan meletakkan tubuh adiknya di tanah.


"Maafkan aku Dinda. Aku sangat terpaksa.."


Tangan Prabu Citro Kusumo mengambil sebilah keris dari belakang pinggangnya.


Dengan memjamkan mata di sayatkanlah keris tersebut ke Perut Sang Putri Citra Wati.


Perut sang putri mengeluarkan darah segar.


Dari dalam perut keluarlah benda menyerupai ikan.


Sang Prabu Citro Kusumo terbelalak melihat itu.


"Apa itu....Ikaaan....jadi ....Citra Wati beranak ikan..?"


"Ini tidak mungkin...tidak mungkin...aku harus membunuh ikan keparat ini."


Dengan kerisnya Sang Prabu Citro Kusumo hendak menghujamkannya ke ikan tersebut.


Citra Wati tiba-tiba tersadar dan menjerit histeris.

__ADS_1


"Kakang....jangan....jangan bunuh keponakanmu."


Sang Prabu Citro Kusumo menoleh ke arah adiknya.


"Tidak Aku harus membunuhnya..."


"Jangan Kang Mas. Biarkan aku yang menjalani takdir ini...aku rela kang mas...Aku mohon. Biarlah Ikan Gabus ini hidup di sungai Purwa Carita. "


"Baiklah Dinda. Maafkan Kang Mas. Kang Mas terbawa amarah..."


Dengan Segera Prabu Citro Kusumo mengambil Ikan Gabus tersebut. Diambilnya air dengan daun jati dan meletakkan ikan anak dari Citrowati kedalamnya.


"Aduuuuh...kang mas...Perutku sakit..."


"Dinda....Dinda Citra Wati..."


Putri Citrawati lemas dan pingsan. Prabu Citro Kusumo bingung...dalam benaknya teringat perkataan Aryo beberapa bulan yang lalu.


"Sungai...Mata air...dekat sungai....iya aku ingat kata Aryo. Mungkin peristiwa ini maksudnya." gumam sang Prabu.


Dengan cepat Sang Prabu memanggul tubuh adiknya yang bersimbah darah.


Dengan ilmu ringan tubuhnya, Sang Prabu melesat bagaikan kijang kencana. Beberapa jam kemudian Sang Prabu sampai di barat sungai Purwa Carita. Dengan pelan-Pelan di turunkannya tubuh adiknya di tepi sungai. Mata Sang Prabu memandang berputar ke sekelilingnya. Dan sejenak terkesiap memandang sumber air yang mengalir.


"Itu dia yang di maksud Aryo. Aku harus menyiram tubuh Citrawati dengan air ini."


Di angkatnya tubuh Putri Citrowati dan di letakkan di tepi Sumber air. Dengan kedua telapak tangannya di siramlah bekas sayatan ( Sudetan ) kerisnya dengan air tersebut.


Ajaib. Luka sang putri seakan menutup dengan perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian muncul asap tipis dari bekas luka.


Luka sang Putri mengering dan kembali seperti sediakala.


Putri Citrawati tersadar


"Kangmas...lepaskan totokanmu..."


"Baiklah...aku lupa..."


Sang Prabu segera melepas totokannya.


"Kang mas...di mana Ikan itu...?"


"Itu di sana...aku lupa tadi airnya tumpah...."


Sang Putri Citrawati segera bangkit dan mengambil anak Ikan tersebut.


"Walau kau darah daging orang yang ku benci bagaimanapun kau juga darah daging ku. Kau juga harus hidup. Sekarang tinggallah kau di Sungai Purwa Carita."

__ADS_1


Sang Putri melangakah menuju sungai Purwa Carita.


@@@@@Bersambung@@@@@


__ADS_2