
Mereka menuju Hamparan batuan di tepi sungai. Mereka segera berwudu di air sungai yang jernih.Mereka berniat segera melaksanakan salat duhur.
"Ayo sugik, kamu Imamnya ya.. "
" Oke siaap, gak masalah. Imam solat duhur kan mudah, gak perlu pamer suara...wkkk" sahut Sugi.
Selesai solat mereka melanjutkan petualangan mencari pintu masuk goa bawah tanah.
"Lewat mana Pri, kalau mau masuk goanya? " tanya Purwa
"Kata simbahku, kita harus masuk ke bawah air terjun kemudian menyelam kearah barat daya. Disitu akan ada semacam celah selebar tubuh kita." Supri menjelaskan secara detail.
"Oke.Teman-teman kita lanjut atau mundur?." tanya Sugik.
"Yang takut, tunggu saja di sini. Yang mau lanjut,ikuti Supri.!." seru Joko.
"Okeeeeeeeee, siapa takuuuuut? " jawab mereka serempak.
"Heleh kayak Iklan sampoo clear saja kalian ini" celetuk Aryo dari belakang.
"Satu......duaaa..... ti..... ga"
"Byuuuur." suara tubuh mereka mencebur kedalam kedung.
Mereka menyelam kedalam air mengikuti arahan dari Supri.
Ternyata benar ada celah dinding yang membentuk mulut goa.Mereka masuk perlahan-lahan.
Jantung mereka berdegup kencang.Berbagai perasaan campur aduk karena baru kali ini mereka berpetualang.
__ADS_1
Selama ini mereka hanya mendengar kisah petualangan dari Sandiwara Radio Tutur Tinular dan Saur Sepuh yang terkenal di era mereka. Era sembilan puluhan yang penuh kenangan.
"Awas, hati-hati. Senternya di depan !." perintah Sugik.
Agung maju ke depan. di ikuti Joko dan purwa. Sementara Sugik memandang ke sekeliling dinding gua.
"Wah, benar-benar ada guanya ternyata. Saya yakin gua ini menyimpan misteri.Jadi semakin tertantang aku." gumam Sugik dari belakang Aryo.
"Terus eloe mau cari sang Putri di dalam gua ini untuk kau bawa pulang ke Wulung.Terus mau eloe pacarin. Kayak di sinetron Indosiar...wkkkk" Aryo meledek Sugik yang sedang cengar-cengir.
"Kau ini yok.Ada-ada saja. Kalau memang betul-betul ada dan lebih cantik dari Luna Maya mana mungkin aku nolak... wkkk." sahut Sugik cepat.
" Sstttttt.Stoop berhenti dulu...Lihat apa ini yang di dinding... " teriak Agung dari depan.
"Apaan Gung? " serentak mereka bertanya.
.
"Wau, betul-betul ada peninggalan sejarahnya.Ini Seperti Arca Buto" teriak Sugik terheran-heran.
Mereka semua mendekat arca tersebut.Mereka berusaha menyentuh dan memegangnya. Tiba-tiba Agung menjerit.
" Aduuuuuh, tanganku kejepit gigi arca.Haduuuh berdarah..!."
Darah segar mengucur dari jari manis Agung yang terluka.Tiba-tiba terjadi keanehan. Patung tersebut berputar kekanan dan kekiri. Seketika dinding goa bergetar hebat.
"Awas berlindung, Goanya sepertinya mau runtuh." teriak Sugik.
"Mati aku.Ya Allah ampuni hamba ya Allah" teriak Didik.
__ADS_1
Aneh tapi nyata.Meskipun terjadi getaran yang hebat tetapi tak ada satupun batuan yang terlempar.
Tiba-tiba mereka melihat sinar menyerupai lorong. Sinar semakin terang bergerak hendak menerjang mereka.
"Whoooos, Ciuuuuuung..." suara sinar tadi menerjang tubuh mereka.
Tubuh mereka terbang terbawa sinar. Kesadaran mereka semakin menurun dan menghilang.
"Blaaaar." suara terdengar di telinga mereka antara sadar dan tidak.
Tubuh mereka terhempas satu persatu di sebuah hamparan padang rumput hijau.
Kesadaran mereka mulai pulih. Mereka bangkit satu persatu.
"Kita dimana yok.Apa kita sudah mati? " cerocos Didik masih ketakutan.
"Coba ini, Sakit apa tidak? "sahut Aryo sambil menampar pipi Didik.
"Aduuuuuh. Sakit yok.Tamparan kau macam tamparan mr. Killer,"sahut Didik sambil mengelus pipinya.
"Itu artinya kita masih hidup" sahut Aryo.
"Lihat Apa itu yang di sana... !," tunjuk Sugi kearah utara.
Tampak bangunan tinggi menjulang diarah utara. Seperti menara di negeri perancis.
Mereka terkesiap melihat pemandangan itu.
"Ayo kita kesana.Siapa tahu dapat petunjuk dimana kita berada." ajak Aryo pada teman-temannya.
__ADS_1
Mereka menyusuri jalan setapak menuju tempat yang mereka lihat. Sang surya mulai berangsur merangkak kearah barat.