Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
39.Derita di Bukit Tiris


__ADS_3

Sorak kegembiraan Prajurit Kerajaan Purwa Carita karena berhasil dengan mudah menghalau serangan lawan yang di anggap berat masih membahana.


Beberapa saat kemudian mereka kembali bekerja keras membersihkan bekas peperangan. Mengubur para pahlawan kerajaan yang gugur dalam perang serta merawat korban perang yang masih bisa tertolong jiwanya.


Beberapa petugas kerajaan membawa mereka ke rumah pengobatan.Tabib kerajaan sangat sibuk hari itu.


Para Punggawa kerajaan dan pangeran bergegas menuju istana untuk melaporkan keadaan yang terjadi kepada Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Silakan kalian duduk di tempat kalian masing-masing. "titah sang Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Terima Kasih gusti Prabu. "jawab mereka serentak.


"Bagaimana situasi peperangan yang terjadi hari ini. Apa kita bisa menahan mereka. "tanya sang Prabu.


"Ampun Romo. Pasukan Pandan sudah berhasil kami pukul mundur. Mereka hancur lebur dan Pangeran Katong melariakan diri " Jelas Pangeran Citro Kusumo.


" Apaaa. Begitu cepatkah peperangan hari ini.? "tanya sang Prabu keheranan.


"Benar gusti Prabu. Semua berkat persenjataan baru kita. Senjata buatan para utusan dewa benar-benar luar biasa. Selain itu para utusan dewa itu ilmunya benar-benar luar biasa. Pangeran Katong saja yang terkenal kesaktiannya seakan di buat bahan mainan." sang Panglima perang menambah penjelasan dengan semangat terkagum-kagum.


"Benarkah itu Citra Manggolo? Mereka bisa menandingi Katong?


"Benar romo. Bahkan kalau ananda tidak di selamatkan Aryo mungkin Ananda sudah luka parah tersambar Gelap sewunya Pangeran Katong"


"Atas nama kerajaan Pandan, Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas perjuangan para utusan Dewa."


"Ampun gusti Prabu. Sudah kewajiban kami membela negeri yang telah memberi tempat kami hidup.Kami hanya ingin ikut berbakti membela negeri ini. "jawab Purwa mewakili para utusan dewa.


"Lalu siapa mereka yang empat itu. Saya belum pernah melihatnya?. "tanya Sang Prabu sambil menatap ke empat wajah asing di belakang Aryo Supri dan Purwa.


" Ampun gusti. Mereka adalah teman-teman kami yang kami ceritakan terpisah ketika ada angin topan. Jadi kami semua berjumlah tujuh. Sekarang kami sudah bertemu dan bersatu kembali. "jelas Aryo.


"Ampu gusti prabu serta semua hadirin.Perkenalkan kami teman teman Aryo. Nama saya Sugik" kata Sugik sambil berdiri memperkenalkan diri.


"Nama saya Joko "


"Nama Saya Didik"


"Nama saya Agung"


Mereka satu persatu memperkenalkan diri dengan berdiri dan menebar senyum.


"Terima kasih tuan tuan semua sudah berkenan tinggal dan membantu kami"

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa bertemu kembali. ?


"Saya dan Didik dulu kami berkerja menjadi panglima perang kerajaan Atas Angin.Ketika terjadi perang dengan kerajaan Pandan kami pura-pura mati agar bisa lepas dari Jonggrang Prayungan. setelah itu kami mencari Aryo ke Purwa Carita. "jelas Sugik.


"Pandan dan Atas angin berperang? "tanya sang Prabu.


"Benar gusti. Namun Atas angin berhasil dikalahkan oleh Pandan. Prabu Jonggrang Prayungan gugur dalam perang melawan Pangeran Katong. " Jelas Didik.


"Syukurlah...Aku lega. Musuh Purwa carita sudah berkurang satu. "


"Kalau saya dan Agung terdampar di wilayah Kerajaan Pandan. Kami menjadi siswa perguruan Banjar Angin.Menjadi saudara seperguruan Pangeran Katong. Karena itulah kami akhirnya di minta untuk ikut membantu kerajaan Pandan. Kami bisa sampai di Purwa Carita dan bertemu dengan teman-teman kami. Kami pun tadi juga pura-pura mati. " Jelas Joko.


Sementara itu di samping sang Permaisuri Roro Girah, Putri Citra wati mencuri pandang pada Aryo.


Aryo tersenyum manis ketika mata mereka beradu.


Sesaat kemudian nampak air mata berlinang di pipi sang Putri Citrawati.


"Ada apa Putriku. Kenapa kamu malah bersedih. Bukankah kita seharusnya bergembira dengan kemenangan ini. " tanya Permaisuri Roro Girah.


"Ampun Kanjeng Ibu. Saya menangis terharu atas kemenangan ini dan atas pertemuan mereka para utusan dewa. " Jawab Sang Putri mengelak sekenanya.


Supri yang faham perasaan wanita segera menyenggol bahu Aryo.


"Mana ku tahu dik Pri. Aku belum pernah pacaran. Aku belum faham.Memang kenapa? "balas Aryo.


"Lho.. kok tidak tahu. Kita ini utusan dewa. Harus tahu dong. "


"Alah embuh lah. Aku mumet"


"Ampun Romo.Ijinkan saya meninggalkan pertemuan ini. Sedikit kurang enak badan romo. " ucap sang Putri.


"Baiklah.Biarlah di temani ibumu. "


Putri Citrawati dan permaisuri berpamitan meninggalkan pisowanan.


"Baiklah semuanya. Kiranya cukup dulu pisowanan hari ini. Segera urus semua korban perang.Beri penghargaan dan santunan yang stimpal pada keluarga korban. Silakan kembali menjalankan tugas. " Titah sang prabu membubarkan pisowanan.


Para punggawa kerajaan satu persatu menghaturkan sembah keluar dari ruang pisowanan.


"Tuan Aryo tolong tinggal sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan. "


"Baik gusti Prabu. "

__ADS_1


Setelah semua meninggalkan ruang.


"Tuan Aryo. Aku tahu Putri ku Jatuh hati pada tuan Aryo. Sebagai orang tua aku merestui tapi seperti yang pernah tuan sampaikan perihal keberadan kalian bertujuh. Hal itu suatu hal yang tidak mungkin. Kalian berbeda Zaman. "


"Benar Gusti. Itulah mungkin yang membuat Tuan Putri menangis."


"Sekarang temuilah Putriku di kedathon. Jelaskanlah dengan sebaik-baiknya. "


"Sendiko dawuh gusti"


Aryo berpamitan dan melangkah menuju kedhaton.


Sementara itu di Sebuah hutan di barat laut Purwa Carita.


Sesosok tubuh tinggi besar fan tampan menjebol dari dalam tanah.


Tak lain dan tak bukan. Dialah Pangeran Katong. Pangeran Katong yang melarikan diri dengan ajian tebah bumi menjebol tanah hingga jauh dari Purwa Carita.


Pangeran Katong duduk bersimpuh kelelahan. Matanya nanar memandang Purwa Carita. Hatinya tercabik-cabik menyaksiakan kegagalan penyerangan dan kegagalan melamar Putri Citrawati.


Air matanya meleleh deras di pipinya. Hatinya terasa teriris-iris bila mengingat penolakan Citrawati.


Semalaman Pangeran Katong menangis dan meratapi kekalahan.


"Wahai Dewata....Apa aku salah bila mencinta... "


Hatinya kembali teriris.


"Awas Kau Citrawati. Aku dapat cintamu akan aku rebut kehormatanmu bagaimanapun caranya. Pantang Katong menyerah di tengah Jalan. "


Tempat Pangeran Katong Meratap sekarang di kenal dengan nama Bukit Tiris.


Nama Tiris berasal dari singkatan kata Hati teriris.


Sesaat kemudian Pangeran Katong melesat menuju arah timur.


Hatinya yang sedang gundah membuat Pangeran Katong melangkah menuruti kehendak kakinya saja. Ajian Kidang kencono membuat langkah Pangeran Katong terasa cepat dan ringan. Tanpa terasa Pangeran Katong sudah keluar dari hutan dan berada di perbatasan desa Tinatah.


Pangeran Katong teringat dengan air terjun yang pernah di temuainya.


Dengan Cepat Pangeran Katong melesat ke tepian Sungai.


"Aku harus menenangkan fikiran disini dulu. Aku akan bersemedi dulu disini. "

__ADS_1


Pangeran Katong bersemedi di bawah air terjun. Guyuran air terjun membuat jiwa Pangeran Katong berangsur-angsur tenang. Gemericik air mengalir membuat sang Pangeran terlelap dalam semedinya.


__ADS_2