Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
37.Derita Penolakan Asmara(4)


__ADS_3

Rombongan lamaran yang di bawa Pangeran Katong segera berjalan masuk kedalam wilayah Istana Kerajaan Purwa Carita. Pangeran Katong tampak gagah mengendarai Kuda. Di samping kiri dan kanan di apit Senopati perang dan Aki Banjar Angin.Sementara di belakang mereka tampak Joko dan Agung mengenakan baju ala pendekar Jawa. Celana gembyong hitam dan Baju hitam di padu dengan ikat kepala wulung.Di belakang punggung mereka terselip Pedang.Baju pendekar mereka menyerupai baju adat kaum Samin.Mereka tampak gagah bagaikan Arya Kamandanu di film Tutur Tinular.


Lima belas menit kemudian Mereka sampai di Pintu gerbang Istana Purwa Carita. Senopati Dono Rekso segera memberikan Perintah pada prajurit penjaga gerbang untuk membuka gerbang.


"Buka pintu gerbang. Ada tamu Istana !" perintah Senopati Dono Rekso.


Beberapa Saat kemudian Pintu gerbang terbuka. Rombongan Pangeran Katong segera masuk menuju istana Kerajaan Purwa Carita. Setengah jam kemudian mereka sampai di halaman Istana Purwa Carita. Beberapa prajurit menyambut rombongan di halaman dan mempersilahkan masuk ke Bangsal Pisowanan.


Sementara itu di dalam ruang bangsal Pisowanan Prabu Dian Gondo Kusumo sedang membahas masalah yang sedang mereka hadapi.


Hadir dalam pisowanan itu Pangeran Citro Kusumo, Pangeran Citro Manggolo, Putri Citrawati, Para penasehat istana dan seluruh keluarga kerajaan Purwa Carita.


Hadir pula Aryo, Supri,Purwa,Sugi dan Didik. Mereka hadir mewakili undangan untuk Wisma Ganesha. Mereka di tunjuk Wisma Ganesha sebagai tim ahli tehnologi Wisma Ganesha. Wisma Ganesha merupakan lembaga penelitian ilmu Pengetahuan kerajaan Purwa Carita.


Perihal lamaran Pangeran Katong dari kerajaan Pandan membuat Kerajaan Purwa Carita menjadi kalang kabut dalam menanggapi kemungkinan yang akan terjadi.


Prabu Dian Gondo Kusumo menghela nafas panjang, "Putra Putriku semua serta para hadirin semua. Saya sebagai raja Purwa Carita harus berani mengambil sikap dalam kejadian hari ini. Saya merasa ada itikat tidak baik dari kerajaan Pandan dengan membawa pasukan yang sangat banyak dalam lamaran. Bagaimana menurut kalian?.Apa yang harus kita lakukan?."


Pangeran Citro Kusumo menjawab sambil menghaturkan sembah, "Ampun Romo.Kita tidak boleh takut bila harus berperang dengan kerajaan Pandan. Citro Kusumo siap membela Purwa Carita. "


Pangeran Citro Manggolo menyahut, " Citro Manggolo juga siap membela Romo dan Purwa Carita sampai titik darah penghabisan. "


Putri Citra wati pun angkat bicara, "Maafkan Citra wati Romo. Karena telah melibatkan Purwa Carita dalam masalah pribadi. Apa masalah ini tidak bisa di selesaikan dengan kepala dingin."


"Apa maksudmu Dinda. Apa kamu akan menerima lamaran Pangeran Katong?. "sahut Pangeran Citra Manggolo.


"Bila betul hal itu, syukurlah. Kita tidak akan terancam perang. "sahut Pangeran Citro Kusumo.


"Apa betul Putriku?. Apa kamu siap menerima lamaran Pangeran Katong? "tanya Prabu Dian Gondo Kusumo.


Putri Citra Wati terdiam. Mata jeli nya diam-diam melirik kearah Aryo.Tampak wajah Aryo gelisah menanti jawaban Pertanyaan Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Ampun Romo. Maksud saya...saya... saya... "


"Ada apa Putriku. Jangan takut. Katakan saja isi hatimu. "

__ADS_1


"Ampun Romo. Saya takut salah sikap dan membuat celaka seluruh negeri ini. "


"Lalu....??? "tanya Prabu Dian Gondo Kusumo tak sabar.


"Jujur,Citra wati tidak menyukai Pangeran Katong.Saya takut Pangeran Katong tidak terima bila lamarannya saya tolak. " jawab Putri Citra Wati dengan sedih.


" Sudahlah.Jangan takut. Bila Kamu tidak Cinta.Kakakmu ini akan membelamu. "sahut Citro Manggolo.


"Benar putriku. Kita akan menerima keputusanmu serta akibatnya. Kamu tidak usah cemas."kata Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Ampun Gusti Prabu. Ini semua awal dari apa yang hamba sampaikan pada gusti Prabu dan tuan putri. Kita harus menerima takdir dari Tuhan.Ini merupakan awal dari awan hitam dalam mimpi Gusti Prabu."Aryo mengingatkan Sang Prabu.


"Kamu benar. Aku harus rela apa pun putusan Dewata.Saya yakin kita bisa menang andaikan terpaksa harus berperang. " Kata Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Bagaimana Putriku. Apa kamu siap menjalani takdir Dewata?"


"Siap Romo. Apa pun itu saya siap."


Tiba-tiba seorang Prajurit masuk hendak melaporkan berita.


"Ampun Gusti.Pangeran Katong dan rombongan telah tiba. "lapor prajurit itu.


Beberapa saat kemudian masuklah Pangeran Katong dan rombongan.


"Salam hormat Gusti Prabu."kata rombongan itu serempak memberi hormat.


"Aku terima penghormatan Kalian. Selamat datang Pangeran Katong.Silakan duduk. "sambut sang Prabu.


Beberapa saat ruangan tampak hening.


Pangeran Katong memberi kode pada Aki Banjar Angin untuk menyampaikan maksud perihal lamaran.


Aki Banjar Angin berdiri dari duduknya dan memberi hormat.


"Ampun Gusti Prabu Dian Gondo Kusumo. Hamba mewakili Gusti Prabu Jayeng Karto untuk menyampaikan pinangan terhadap Putri Gusti Prabu teruntuk Pangeran Agung Kerajaan Pandan.Pangeran Katong. Maka sudilah kiranya Gusti Prabu menerima Pinangan ini. Bersama ini kami sampaikan semua uba rampe lamaran lengkap.Mohon Gusti Prabu dan Tuan Putri Citra Wati berkenan menerimanya. "tutur Aki Banjar Angin.

__ADS_1


"Aki Banjar Angin dan Pangeran Katong.Kami senang atas lamaran ini. Akan tetapi kami tidak bisa memutuskan sepihak.Terserah Putri kami yang menjawab lamaran ini secara langsung. Dan kami harap semuanya legowo menerima Semua keputusan Putri kami.Silakan Putriku untuk memberi jawaban sebaik-baiknya. "kata sang Prabu menanggapi.


"Terima kasih semuanya.Mohon maaf sebelumnya Pangeran. Pangeran tentu tahu bahwa rumah tangga itu harus terbina dengan dasar cinta. Apakah Pangeran Katong benar-benar mencintai saya?."


"Saya sangat mencintaimu Dinda Citra Wati. Kamu jangan meragukan cintaku. Seluruh jiwa ragaku ini milikmu. Apapun yang Dinda minta akan aku kabulkan. Kamu minta matahari dan rembulan pun akan aku ambilkan. "jawab Pangeran Katong dengan puitis.


"Uwiiiih romantis juga yok. Kamu kalah romantis kayaknya.wkkk."bisik Purwa.


"Hush.. diam. Lagi serius ini. "bentak Sugi pelan-pelan.


"Tenang... Aku juga bisa ngegombal kayak begitu. Aku sudah meguru sama dik Supri. Si raja Gombal. wkkk"balas Aryo.


Putri Citra Wati melanjutkan," Apa dengan tangan sebelah saja bisa bertepuk tangan? "


Pangeran Katong tertegun, "Maksud Dinda....???"


Mulut Pangeran Katong ternganga. Tubuhnya lemas seakan tak bertenaga.


"Benar Pangeran. Saya sama sekali tidak mencintai Pangeran. Saya tidak bisa menerima Pinangan Pangeran. Maafkan saya."kata Putri Citra Wati tegas.


"Baiklah Dinda. Dengarkan Sumpahku. Lebih baik aku mati jika aku tidak bisa mendapatkan mu. Akan aku ratakan Purwa Carita dengan tanah. "gertak Pangeran Katong.


"Maaf Pangeran. Tadi sudah di sepakati agar kita legowo menerima apapun putusannya. Mengapa Pangeran mengingkari? "kata Prabu Dian Gondo Kusumo dengan tenang.


"Haaaah, Persetan semuanya. "


"Apa kamu kira kami takut ancamanmu. "balas Pangeran Citro Kusumo dengan nada tinggi.


Suasana semakin Panas.


"Pangeran Silakan kembali ke kerajaan Pandan. Sampaikan permintaan Maafku pada Romomu Prabu Jayeng Karto. "


"Baiklah, Kami mohon diri. Ayo kita kembali. "ajak Pangeran Katong dengan geram.


Pangeran Katong dan rombongan keluar istana dan bergerak kembali menuju perbatasan.

__ADS_1


Tampak wajah sedih bercampur amarah.Perasaannya terasa pupus.


(bersambung.....)


__ADS_2