Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
9.Misi Utusan Dewa (2)


__ADS_3

Malam semakin larut.Suara Jangkrik di halaman Wisma menjadi irama merdu pelelap tidur. Setelah melaksanakan Solat Malam.Hati Aryo menjadi tenang.


Aryo mulai memikirkan kejadian dalam mimpinya. Seumur-umur Aryo belum pernah bertemu dengan seorang putri yang cantik jelita seperti dalam mimpinya. Jujur saja hatinya pun berdesir saat melihatnya.


“ Apa mungkin Angin ribut yang menghempaskanku dulu adalah Angin yang di kirim oleh Pangeran Agung Katong seperti dalam Mimpiku ?.” gumam Aryo dalam keheningan.


“ Mimpiku serasa nyata.Mungkin untuk lebih pastinya besok pasti akan terjawab.Di keraton pasti sang Putri akan hadir dalam pertemuan. Bila yang ada dalam mimpi sama, berarti mimpi itu petunjuk untukku mengenai penyebab kami terhempas dan terpisah.” Aryo masih bergumam sendiri.


“Uhuk...Uhuuuuk....uhuk....uhukk” suara Purwa terbatuk-batuk.


“ Enggak tidur yok. Jam berapa ini ? ” tanya Purwa.


“ Sudah....tadi habis Tahajud. Di negeri Kuno seperti ini kau tanya jam ?” jawab Aryo enteng.


“ Lupa yok.Saya kira di abad 20. Belum pagi kan ?.” tanya Purwa masih memancal selimut jarit.


“ Belum.Sana....bangun Tahajud. Berdoa semoga kita selamat dan bisa kembali ke zaman kita.” nasehat Aryo setengah memerintah.


“ Siap Bossss....” sahut Purwa sambil bangkit dari tidurnya.


Purwa bangkit dari tidurnya menuju belakang wisma untuk berwudu. Sejenak kemudian Purwa larut dalam solatnya. Selepas berdoa purwa menghampiri Aryo duduk dilantai kayu wisma ini.


“ Bagaimana Yok nasib kita. Bagaimana orang tua kita pasti kebingungan mencari kita.” keluh Purwa dengan lirih.


“ Aku juga berfikir seperti itu. Tetapi kita berdoa saja semoga hal itu tidak terjadi. Semoga dalam waktu dekat kita bisa menemukan pintu rahasia yang menghubungkan dunia ini ke dunia kita.” jawab Aryo sedikit menghibur.


“ Lalu apa rencana kita untuk besok pagi ?.” tanya Purwa.


“ Kita besok mengaku saja sebagai utusan Dewa yang di kirim untuk negeri Purwa carita yang akan mengalami peperangan dahsyat.” jelas Aryo pada Purwa.


“ Lalu tujuannya apa kita berbohong seperti itu. Apa tidak berdosa?.” tanya Purwa.


“Ha..ha..ha.., kamu ini benar-benar anak Soleh Pur. Ceramahnya Pak Muntasir dalam pelajaran Agama benar-benar mendarah daging.” celetuk Aryo setengah membuli.


“Berbohong untuk melindungi jiwa itu terkadang diperlukan di banding kejujuran yang membahayakan jiwa. Dalam keadaan seperti saat ini, Bohong sangat di perlukan. Nanti bila mereka sudah percaya dengan kita dengan sepenuh hati, maka insyaallah kita bisa leluasa mencari Pintu rahasia yang dahulu ada.” jelas Aryo lebih lanjut.


“ Lalu apa rencanamu untuk negeri Dongeng ini?.” tanya Purwa lebih lanjut.


“Pertama aku ingin membuat Alat sederhana untuk pengairan dengan menerapkan Hukum Pascal yang kita pelajari di Ilmu Fisika. Ini untuk meningkatkan hasil pertanian,” jelas Aryo dengan gamblang.


“Yang kedua kita akan mencoba membuat sumber listrik dari air terjun .Kita buat kincir air yang bisa menggerakkan generator sederhana dari batu magnet. Kebetulan waktu kita menggali sumber emas, saya menemukan batuan-batuan yang mengandung magnet. Dan ternyata itu adalah magnet Alam. Bukankah Magnet yang di gesek dengan searah secara terus-menerus akan menghasilkan energi Listrik?. Kamu masih ingatkan pelajaran Magnet dan Listrik ?.” terang Aryo panjang lebar.


“ Benar Juga Yok, kalau kita punya kepercayaan dan kuasa kita bisa berbuat untuk kemajuan. Memang hampir semua sumber daya dunia modern ada di sisi. Tambang minyak Bumi, Besi, Tembaga dan Magnesium juga ada. Bahkan mungkin Uranium Juga ada.” sahut Purwa.

__ADS_1


“ Terusssss....kamu mau buat Bom Atom disini ?.” kelakar Aryo pada Purwa.


“Kalau Bisa kenapa tidak? Kan bisa untuk kekuatan pertahanan Negeri ini.” sahut Purwa.


“ Ya terserahlah ...yang penting disini kita bebas berkreasi tanpa ada jerat hukum. Dengan syarat kita buat takut dulu orang-orang disini dengan status kita sebagai Utusan Dewa....wkkkk .”


“ Huuuaaah....hmmmm. Sudahlah Pur, Tidur lagi yuk...masih malam. Besok biar tidak Kerinan.” sahut Aryo sambil menguap.


“ Ya sana....Tidur...tuh....adikmu masih ngorok. Mimpi indah kelihatannya. Aku mau meditasi saja” sahut Purwa.


“ Yo uwis lah....aku tak tidur dulu lagi ya....Menjelang subuh bangunin ya...” pinta Aryo pada Purwa.


“ Oke Bossss......” jawab Purwa.


Sejenak kemudian Aryo mulai masuk ke alam mimpinya lagi. Terasa damai malam ini dirasakan.


Tiba-tiba Aryo berada di medan pertempuran. Dia melihat dua pasukan besar saling berhadapan membawa beraneka senjata. Dengan sekali aba-aba pasukan tersebut saling menyerang. Dentingan pedang dan tombak membuat bulu kuduknya merinding. Baru kali ini Aryo melihat pertumpahan darah yang dahsyat.


Tanpa Aryo sadari sebatang anak panah melesat menuju ketempat Aryo bersembunyi. Spontan Aryo menjerit ketakutan.


“aaaaaaa........aaaaa, grobyak “ suara Tubuh Aryo jatuh yang kedua kali dari dipan.


“ Kenapa Yoook,?.” teriak Purwa kaget


Mata Aryo seketika terbuka. Dan Sepontan Aryo bangun.


“Al hamdulillah, ternyata hanya mimpi....” gumam Aryo.


“Mimpi Buruk Yok ?. Ludahi setan di kirimu.” saran Purwa.


Akupun bersiap meludahi setan yang seperti Purwa ucapkan.


“ Eiiiiiit, Jangan dulu....aku tak pindah tempat dulu.” celetuk Purwa.


“ Wkkkkkk.....jatukman Klomoooh kamu.” ledek Aryo pada Purwa.


Aryo pun meludah ke kiri sambil membaca doa.


Malam pun sudah menjelang pagi. Sepertinya sudah masuk waktu Subuh.


“ Sudah Azan subuh apa belum Pur ?,.” tanya Aryo pada Purwa.


“Terus yang Azan siapa.....? Memang ini Indonesia....?. Ini Negeri Hindu Yok, Gak ada Azan.... Para ulama ataupun wali belum ada yang sampai kesini.” sahut Purwa.

__ADS_1


“ Iya...ya...aku kok jadi Pikun..Sudah ayok wudu shalat berjamaah. Itu Supri Bangunin.” pinta Aryo pada Purwa.


“ Oke Bosss.....” sahut Purwa.


Terdengar Purwa membangunkan Supri yang masih terlelap tidur.


“ Banguuuun.....Banguuuuuun....Banguuuuuun.” seru Purwa menggugah Supri.


“Huaah hmmmm.....sudah pagi Pur ?." tanya Supri.


“ Sudaaaah ....sana mandi Keramas. Kami tunggu shalat Subuh.” saran Purwa.


"Iya...." sahut Supri tersipu malu sambil ngeloyor pergi.


“ Sampho nya mana.....?.”tanya Supri.


“ Bakar jerami dulu sana.....ini jaman Kuno Pri, kok tanya samphoo.” seru Purwa.


“ Bercanda Pur...” celetuk Supri.


Sehabis Supri mandi mereka pun shalat berjamaah. Aryo dipaksa menjadi Imam. Semampunya Aryo pun maju menjadi Imam salat Subuh.


Selesai salat Subuh matahari di ufuk timur mulai menampakkan semburat merah.Itu pertanda hari berganti pagi.


Mereka Keluar Wisma menuju halaman yang luas.Mereka berolah raga sejenak untuk menjaga kesehatan.Mereka berlatih Ilmu Silat yang pernah mereka pelajari.


Aryo dan Supri melatih Jurus-Jurus Tenaga Dalam yang pernah mereka pelajari dari ayah Aryo. Bela Diri Tenaga Dalam SEM -POK. Menurut ayah Aryo,ilmu ini didapatkan dari gurunya yang bernama Ki Anjar Dowo. Dalam keseharian Ilmu silat ini di Kombinasikan dengan Ilmu ML 151 yang ternyata tidak berbenturan.


Sementar itu Purwa melatih gerakan pencak silat Cempaka Putih andalannya. Ilmu Macan Putih dan Saifi Angin yang pernah di pelajari selama di dunia Modern, ternyata Didunia ini menjadi sangat hebat dayanya.


Tubuh Purwa menjadi sangat ringan melompat menerkam bagaikan seekor macan Sungguhan.


Setelah Urat tubuh terasa sehat mereka pun mandi sambil menunggu dayang Istana mengantarkan sarapan.


Mentari pun mulai merangkak setinggi tombak.


“ Sarapan Tuan, Ini sudah kami siapkan..” sapa sang Dayang.


“ Terima kasih ...terima kasih “ sahut mereka bersamaan.


Mereka pun segera sarapan agar tidak terlambat dalam pisowanan di Keraton Purwa Carita.


Dentingan sendok menambah sedapnya masakan kuno zaman kerajaan.

__ADS_1


(Bersambung )


__ADS_2