
Sementara itu di negeri atas angin, tampak dua pemuda terhempas di semak-semak.Tampak kepanikan dan ketakutan terpancar dari aura wajah mereka.
"Byuuuuk, Kruseek." suara tubuh terhempas di semak-semak.
"Aduuuuh, Kakikuuu..." teriak Didik sambil meringis memegangi betisnya yang berdarah tergores ranting semak.
" Kenapa kakimu Dik?." tanya Sugik
"Waduuh, kok berdarah. Gak patah kan? "
"Entahlah Gik, Badanku rasanya remuk redam. Lemes rasanya. Dimana kita ini?. " jawab Didik.
" Cepat hentikan pendarahannya. Balut pakai Kaosmu. Sebentar saya carikan tali." seru Sugik cemas.
Segera Sugik bangkit dari duduknya. Dia menuju kearah pohon pisang yang tumbuh di tepi Jurang. Sebentar kemudian Sugik datang membawa tali dan setundun pisang yang sudah matang.
"Ini talinya.Cepat ikat biar cepat mengering darahnya. Untung tidak dalam lukanya. Cuma tergores." kata Sugi sambil memeriksa kaki Didik.
"Iya....tapi aku jarang terluka seperti ini. Jadi aku merasa ngeri melihat darah."
"Sudah jangan lebay, Cowok kok kayak Cewek. Biasa itu luka segitu. Nih.Makan buah pisang biar enggak pingsan kau. " Kata Sugi agak ketus.
" Siapa yang lebay. Aku cuma belum terbiasa. Dapat dari mana nih Pisang?. Mencuri ya?. Gak mau ah.... Haaaa..... raaaaam".
" Siapa yang mencuri.Aku dapat dari tepi Jurang. Lagian ini di hutan brooo. Gak ada yang punya. Paling yang punya Monyet. Mau ijin sama monyet? ya sanaaaa. " Sahut Sugik Kesal.
" Sorry... Okelah kalau begitu".
Segera mereka makan buah pisang dengan lahap.
"Kita ini kayak monyet ya..makan Pisang di hutan. "
" Biar kayak monyet tapi aku tetap manusia yang ganteng" sahut Didik.
"Percaya Deh.Walau sekarang macam lutung kena tembak...wkkkk."
__ADS_1
"Asemi.... kau samakan aku dengan Lutung."
Tiba-tiba dari balik semak-semak tercium aroma busuk di sertai suara desisan yang kuat.
" whooooos, Whooooos, Whoooos "
Segera mereka berdua melompat dari duduknya.
" Suara apa Gik,...???? "
" Entahlah.Ayo kita lihat... " Ajak Sugik
Mereka mengendap-endap mendekati Semak-semak. Perlahan-lahan mereka menyingkap semak-semak. Betapa terkejutnya mereka.
"Whooooooos,..... "
"Ulaaaar " seru mereka sambil balik arah dan berlari sekencang-kencangnya.
Tampak Didik berlari sambil memegangi betisnya yang terluka. Sementara di belakangnya seekor ular besar bergerak mengejar kearah dua pemuda tersebut.
"Berhenti.Siapa kalian?." bentak mereka pada Didik dan Sugik.
Mereka berdua kaget dan mendongakkan wajah mereka keatas.
"Wheeela dalah....Makhluk apa lagi ini. " Sugik kaget sambil terengah-engah nafasnya.
"Siapa kaliaaan.Berani-beraninya mau nerobos negara kami." Gertak mereka.
" Maaf Tuan.Bukan maksud kami hendak menerobos negeri tuan.Tapi kami tadi terlempar oleh angin ****** beliung hingga jatuh kenegeri tuan ini." jelas Sugik.
"Nama saya Didik, dan ini teman saya Sugik. Semula kami berasal dari Negeri Purwa Carita, tapi kemudian tersapu angin ****** beliung. Kalau boleh tahu ini negeri mana tuan?. " tanya Didik.
"Kalian berada di wilayah negeri Atas Angin. Kalian akan kami tangkap karena berusaha menerobos wilayah kami. "
"Prajuriiiiit.Tangkap dan ikat mereka. Kita serahkan Pada Prabu Jonggrang Prayungan. Biar Gusti Jonggrang yang akan menghukumnya." seru prajurit yang lain.
__ADS_1
" Tapi kami tidak sengaja tuan, maafkan kami. " rengek Didik minta di lepaskan.
"Benar Tuan.Tadi kami di kejar ular besar." tambah Sugik.
"Omong kosong, cepat ikat dan bawa ke kerajaan."
"Jangan tuan, lepaskan kami... "
Para prajurit tidak menggubris rengekan Didik dan Sugik. Mereka di diikat dengan rantai dan di masukkan ke kerangkeng. Dengan Kereta kuda mereka dibawa menuju Istana Atas Angin. Tampak Didik meringis menahan sakit di kakinya.
Terbayang di wajah mereka hukuman yang mengerikan dari raja. Mereka menyesal telah memaksa melakukan pengembaraan di Kedung Putri.
" Ajiuuur Gik.Kalau kita di pancung di negeri dongeng ini. Tamatlah riwayat kita tanpa diketahui ayah ibu dan saudara kita. " gerutu Didik.
"Iya Dik, apa nasib kita akan berakhir disini.?" sahut Sugik.
"Sekarang kita hanya bisa berdoa mohon keselamatan pada Allah.Semoga kita bisa selamat dan segera menemukan cara untuk kembali ke zaman kita."
Suara kereta kuda yang berderap di jalanan berbatu menambah kengerian di batin mereka.
Sekitar satu jam kemudian kereta luda berhenti di depan bangunan yang menyerupai penjara.
Pintu kerangkeng di buka.
" Ayo turun kalian. " bentak prajurit itu sambil menyeret tubuh mereka.
Mereka diseret dan di jebloskan kedalam ruangan yang pengab dan gelap.
"Tunggu di sini kalian sampai gusti prabu berkenan mengadili dan menghukum kalian " bentak mereka.
" Maafkan kami tuan.Apa salah kami... "
"Diam kalian.Jangan banyak bicara. Penyusup macam kalian harus di hukum." bentak mereka.
Para Prajurit itu segera pergi meninggalkan ruang penjara. Suasana hening dan mencekam.
__ADS_1