
Suasana Kerajaan Mahasyura di pagi hari tampak lengang. Prajurit penjaga kerajaan yang baru terbangun di kejutkan dengan datangnya makhluk asing menghampiri mereka.
"Siapa kalian. Cepat jawab.Apa mau kalian?"Gertak prajurit itu menunjukkan wajah garang.
" Dimana raja kalian. Cepat suruh keluar!."Gertak Sugik dengan action yang lebih garang. Tangan Sugik mencengkeram leher prajurit itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Sang Prabu masih tidur. Kalian jangan buat sang prabu marah..."
Sugik menghempaskan tubuh prajurit itu. Tubuhnya bergulingan di tanah Mahasyura.
Prajurit itu berlari menuju genderang tanda bahaya.
" Ha..ha..ha..Percuma kamu. Temanmu masih tertidur pulas terkena sirep meganandaku." Teriak Supri dengan lantang.
Sementara itu di dalam Istana, Pangeran Katong Prabangkara yang baru terbangun merasakan adanya serangan hembusan ilmu sirep. Di tahannya rasa kantuknya dengan sekuat tenaga. Segera sang Pangeran keluar istana setelah mendengar suara genderang bahaya.
Dari jauh Pangeran Katong melihat seorang Prajurit ketakutan di kepung tujuh pemuda.
"Ha...ha...ha....ternyata kalian para dewa Purwacarita.Kalian mau mengantarkan nyawa datang menembus alam Mahasyura." Suara Pangeran Katong membahana di langit Mahasyura.
Aryo dan kawan-kawan menoleh kearah sumber suara. Dilihatnya Pangeran Katong berjalan cepat menuju kearah mereka.
" Pangeran Katong. Hari ini aku akan menuntut balas atas perlakuanmu pada Dinda Citrawati. Kesedihan dan prahara yang kau buat harus kau tebus hari ini. Aku akan membinasakan mu." Aryo marah menunjuk-nunjuk wajah pangeran Katong.
"Aryo...Aryo...Bodoh sekali kau. Sungguh naif nasibmu. Kekasihmu tercinta kini sudah ternoda....ha...ha...ha."
"Hentikan tawamu biadab. Rasakan ini....Hiaaaat....." Aryo meradang menerjang.
Serangan jurus-jurus silat tingkat tinggi menerjang tubuh kekar Pangeran Katong.
Dari kejauhan tampak dua orang kembar bertarung dengan ilmu bela diri tingkat tinggi. Wajah mereka yang mirip membuat orang yang menyaksikan sulit membedakan antara Aryo dan Pangeran Katong.
Pertarungan Maha Dahsyat itu telah mengguncang Negeri Mahasyura. Pengaruh sihir Megananda yang di rapal Supri mulai luntur terkena ledakan ilmu tingkat tinggi.
Raja Mahasyura yang terbangun segera menuju tempat pertarungan. Sang Raja Mahasyura segera menerjang ketengah pertarungan antara Aryo dan Pangeran Katong.
Tubuhnya terpental. Sambil meringis, Raja Mahasyura bangkit berdiri.
Dilihatnya siapa yang bertarung. Dia sangat bingung untuk membedakannya.
" Hai sang raja. Gak usah bingung. Mereka memang mirip. Kalau kau mau olah raga, bertarung saja denganku. Salam olah raga " Kata Sugik sambil cengengesan di depan raja Mahasyura.
" Siapa kamu.Berani-beraninya kamu menantangku. Tak kemah-kemah kau nanti"
"Sudah...panggil saja para jawaramu. Itu teman-temanku juga masih nganggur. Kami tidak takut.!" Kata Sugik dengan nada menantang.
"Hai...Kalian para panglima kerajaan Mahasyura. Serang mereka. Cincang tubuh mereka...!" Teriak sang Raja pada para panglima.
Pertempuran tak bisa di hindari. Ilmu tingkat tinggi saling beradu. meledakan yang dahsyat di langit Mahasyura. Aryo yang sudah tahu posisinya segera memancing emosi Pangeran Katong untuk mengeluarkan Ajian Gelap Sewu.
__ADS_1
Pangeran Katong merapal mantra ajian gelap Sewu. Kilatan Petir menyambar -nyambar di telapak tangan pangeran Katong.
"Ajian Gelap Sewu.....Hiaaaat......"
" Duoooooor " Kilatan petir menyambar meledak menuju arah Aryo.
Aryo Berguling ke kanan. kemudian berdiri koprol.
Aryo segera merapal ajian yang serupa. Ajian gelap sayuto. Ketika kilat kembali menyambar kearah Aryo, tiba-tiba muncul kilat dalam jumlah yang sangat banyak dari langit Mahasyura. Dua Ajian dahsyat bertemu. Petir beradu. Aryo dan Pangeran Katong terpental beberapa tombak kebelakang.
" Supri, Sugik Purwa....bersiaplah ini waktunya."
Semua mengangguk mengerti. Aryo merapal ajian gelap sayuto di gabung dengan gelap ngampar. Melihat itu Pangeran Katong kembali merapal Ajian Gelap Sewu di gabung dengan semua kesaktian yang di miliki.
"Satu ...dua...Tiga..." Aryo memberi komando. Serentak Kawan Aryo melepaskan ilmu tertinggi masing-masing.
Ilmu kesaktian tingkat tinggi beradu. langit Mahasyura terbelah. Medan energi berputar Dahsyat. Pusaran energi tingkat tinggi menyedot tubuh mereka tanpa terkendali. Gerbang dimensi waktu terbuka. Tubuh mereka bergetar hebat. Berputar dalam pusaran energi yang membuat mereka hilang kesadaran.
Pagi hari, di tepian sungai Kedung Masyur, Tampak tujuh tubuh tergeletak di bebatuan.
Sinar sang Surya yang menerobos di antara daun Jati membangunkan kesadaran tubuh-tubuh pemuda itu.
Aryo terbangun. melihat teman-teman nya tergelatak segera menghampiri dan mengguncang-guncang tubuh mereka. Satu persatu mereka tersadar.
"Kita di mana Yo?" Tanya Agung.
"Di tepi sungai Kedung Masyur. " Jawab Aryo singkat.
"Entahlah...aku juga masih bingung. Sebentar aku akan keatas sana."
Aryo berusaha melompat dengan ilmu ringan tubuhnya. Tapi di luar dugaan ilmunya tidak berfungsi sama sekali.
Aryo dengan susah payah memanjat tebing sungai.
"Alhamdulillah ya Allah...Kita berhasil. Kita kembali ke zaman kita." Teriak Aryo dari Atas.
" Apa Yok...kamu tidak bercanda kan?" Tanya Sugik setengah tidak percaya.
" Iya ...lihat itu villa yang di bangun di zaman kita. ini Kedung Masyur di zaman kita. Aku masih hafal karena pernah kesini."
Mereka segera menyusul Aryo dengan kegirangan.
Sesampainya di atas mereka berhenti sejenak. Melihat tepi Jalan bekas aspal.
"Iya Yok...ini aspal. Tidak mungkin di zaman Purwacarita ada aspal. Alhamdulillah Ya Allah. "Kata Purwa.
" Mboke......Aku pulang..."Teriak Didik.
"Oke...sekarang kita balik ke desaku. Aku tahu jalannya."Kata Supri.
__ADS_1
"Oke...let's go.." jawab mereka serentak.
Sementara itu di Dukuh Suru. Di rumah Aryo ramai orang berkumpul.
Ada suara tangisan dari dalam kamar. Ibunya Aryo menangis memanggil manggil nama Aryo.
"Le...segera balik ya le...." suaranya parau.
sudah sehari semalam Aryo dan kawan-kawan hilang.
Orang-orang yang menelusuri Kedung Putri tidak menemukan keberadaannya. Hanya mendapat keterangan dari beberapa warga Dukuh Gumeng yang sempat melihat keberadaan mereka di Kedung Putri.
" Gak Mungkin cucuku tidak di kembalikan. Pasti balik. Simbahnya ini tidak mungkin tinggal diam."Kata Nenek Aryo sambil mengeluarka semua Azimat dan Pusaka dari dalam lemari. Keris berbagai bentuk, Tombak, Mustika dan macam-macam Azimat di letakkan di atas bara api yang di beri kemenyan. Asapnya menyebar terbawa Angin.
Sementara ayah Aryo mendekati istrinya yang menangis.
"Sudahlah. Ikhlaskan. Sebentar lagi pasti anakmu balik. Aku sudah dapat wangsit tadi malam."
Menjelang tengah hari, Warga di kagetkan dengan kabar ada yang melihat Aryo dan kawan-kawannya memasuki dukuh Suru dari arah dukuh Kaliwader.
Ibu Aryo berlari ke jalan menyambut anaknya yang berjalan di atas jembatan di timur rumahnya.
"Anakku....dari mana saja kamu leee.."
Aryo di peluk erat dan di tangisi.
" Enggih Mbok. Aryo salah."
Warga memapah mereka menuju rumah Aryo.
"La...rak bener tooo...tetap balik. " kata simbahnya Aryo.
"Wis tak bilangin...hati-hati di rumahnya demit. ora di gugu. Yo itu oleh-olehnya " Simbahnya Aryo mengomel marah
"Enggih Mbah...kami kecatet Mbah. Kecatet Putri Gumeng." Kata Sugi cengengesan.
Suasana haru meliputi keluarga Aryo dan tetangganya. Orang tua mereka yang mencari informasi keberadaan anaknya merasa gembira. Anak-anak mereka dapat di temukan dengan selamat. Setelah Zuhur Sugik, Purwa, Didik,Joko dan Agung berpamitan.
"Bapak, Ibu, Simbah, Kami Pamit dulu. Mohon maaf telah merepotkan semuanya."
" Aryo, Supri. Kami pamit dulu.Terima Kasih petualangan nya." kata Agung berpamitan.
"Iya..selamat jalan.Selamat berjumpa lagi besok di sekolah." kata Aryo.
Didik menghampiri Aryo dan berkata pelan" Aku pulang dulu. Kapan-kapan ke Purwacarita lagi ya. Aku naksir bakul kopinya."
"Hush..gak mau...Kapok" Kata Aryo sambil tertawa lepas.
sejenak kemudian mereka mengayuh sepeda masing-masing menyusuri jalan berbatu menuju Kota Wulung Randublatung.
__ADS_1
Matahari yang mulai tergelincir ke barat mengiringi langkah mereka menuju masa depan mereka. Meninggalkan masa lalu di Purwacarita. Negeri yang tinggal legenda yang hampir tidak akan di percaya adanya oleh generasi muda sekarang. Meninggalkan kenangan manis yang menjadi semangat meraih masa depan.
@@@Bersambung@@@@