Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
30. Amarah Jonggrang Prayungan.


__ADS_3

Pasukan Kerajaan Atas angin berlari cepat meninggalkan kerajaan Pandan. Dari ribuan Prajurit yang tersisa separuhnya.


Panglima Perang Joyo Manggolo yang terluka parah akhirnya tiba di istana Atas Angin. Dengan di papah beberapa Prajurit, Panglima Joyo Manggolo segera menghadap Prabu Jonggrang Prayungan.


"Ampuni hamba Gusti, hamba mau melaporkan bahwa.. ",


"Bahwa kalian Gagal.. Kalian kalah..!.", Bentak Prabu Jonggrang Prayungan.


"Benar gusti, Kami Gagal...!. "


"Apa-apaan Kalian ini. Kalian melawan Precil-precil saja tidak mampu. Kalian ini Bangsa Kala, bangsa Denawa.. bikin malu saja. ", Gertak Sang Prabu Jonggrang Prayungan.


"Ampun gusti, meskipun mereka lebih kecil tapi mereka di bantu orang-orang sakti dari Padepokan Banjar Angin. "


"Aki Banjar Angin turut Campur. Lalu dimana Panglima Sugik dan Panglima Didik.Apa Mereka tidak mampu mengalahkan Aki Banjar Angin. ", Tanya Prabu Jonggrang Prayungan dengan geram.


"Mereka di kalahkan oleh murid Banjar Angin. Mereka mempunyai kesaktian yang hampir sama dengan panglima Sugik dan Panglima Didik.Bahkan bentuk fisik mereka hampir sama. Kabar yang hamba dengar mereka dikubur dalam bumi dengan kesaktiannya.", Jelas Panglima Joyo Manggolo.


"Kurang Ajar Kerajaan Pandan. Aku akan balas kekalahan ini. Tunggu Pembalasankuuuu...! ", Teriak Prabu Jonggrang Prayungan dengan geram.


"Ampuni hamba gusti, Hamba tidak bisa...... ", Kata Panglima Joyo manggolo tersengal-sengal.


"Aaaaa.... duuuuuh....!, Teriak Panglima Joyo Manggolo.


Panglima Joyo Manggolo jatuh Pingsan.


"Joyo Manggolo.... Joyo Manggolo... Kamu kenapa...?", Teriak Prabu Jonggrang Prayungan sambil mengguncang-guncang Tubuh Panglima Joyo Manggolo.


"Ajian gelap Sayuto?.. Kau terkena Gelap Sayuto...Pantas saja kau kalah. Kau pasti berhadapan dengan Katong... ", Gumam Prabu Jonggrang Prayungan.


"Prajurit, Panggil Dukun Istana. Rawat dan selamatkan Panglima Joyo Manggolo. ", Perintah sang Prabu.


Segera Prajurit Istana membawa Panglima Joyo Manggolo keruang Pengobatan.

__ADS_1


Prabu Jonggrang Prayungan tampak masih geram.Dia mondar-mandir di istana dengan sesekali mengepalkan tangannya.


"Akan aku balas kau Katong... akan aku binasakan rakyatmu satu persatu...", gumam sang Prabu.


"Prajurit, Panggil Senopati Kala Srenggi kemari.. cepat....!. ",Perintah Sang Prabu.


"Sendiko dawuh gusti.. ",


Segera Prajurit istana menuju Ksatrian menuju wisma senopati Kala Srenggi.


"Ampun gusti, hamba di utus Gusti Prabu Jonggrang Prayunga.Gusti Senopati di utus menghadap segera.. ",


"Baiklah, aku akan segera menghadap..", Jawab senopati Kala Srenggi.


Senopati Kala Srenggi segera bergegas menuju Istana Atas Angin.


"Ampun Gusti, Hamba menghadap. ", Kata Sang Senopati menghaturkan sembah.


"Kala Srenggi, Aku perintahkan Kepadamu untuk membunuh rakyat kerajaan pandan sebanyak-banyaknya. Buat Pagebluk diwilayah Pandan.Buat Kerajaan Pandan Kocar-kacir. ",Perintah sang Prabu.


"Kerahkan Bangsa Denawa dan bangsa lelembut untuk mengirim santet, dan merasuki rakyat Pandan. Buat mereka sakit. Pagi sakit sore mati. Sore sakit pagi mati.... biar Katong Tahu rasa.... ha ha ha.", Perintah Sang Prabu dengan Puas.


"Sendiko dawuh gusti..", Jawab Kala Srenggi.


Segera Kala Srenggi pamit meninggalkan istana.


Dia segera mengumpulkan Pasukan dedemit untuk melaksanakan tugas dari sang Prabu Jonggrang Prayungan.


Tidak menunggu lama, Pasukan Demit mulai beraksi menuju wilayah kerajaan Pandan.


Sementara itu, terjadi kehebohan di padukuhan Wanasemi dan sekitarnya.Secara tiba-tiba banyak rakyat yang merancau tidak karuan.


Pagi kerasukan Sore hari meninggal dunia. Sore sakit pagi meninggal.

__ADS_1


Suasana mencekam menghantui rakyat pedesaan di wilayah kerajaan Pandan.


Hal itu akhirnya sampai di telinga Sang Prabu Jayeng Karto. Sehingga sang Prabu mengumpulkan Para punggawa kerajaan Pandan.


"Ada kabar yang tidak mengenakkan yang aku dengar dari telik sandiku. Bahwa telah terjadi wabah di wilayah Kerajaan Pandan. Oleh karena itu Aku perintahkan Para dukun dan tabib untuk memeriksa dan mengatasi masalah ini.", Ungkap sang Prabu Jayeng Karto.


"Kami siap melaksanakan titah Paduka", Jawab Para Punggawa Kerajaan.


"Maaf Ayahanda, Ijinkan Saya dan Aki Banjar Angin membantu para tabib dan dukun. Karena saya mendengar bahwa banyak rakyat seperti terkena santet. Biarkan kami ikut memeriksa. ", Kata Pangeran Katong menyampaikan permohonan.


"Bukannya Romo melarang Ananda tetapi Romo tidak ingin peristiwa penyerangan mendadak seperti kemarin terulang lagi.Romo harap Ananda dan Aki Banjar angin tetap di kerajaan.Biarlah beberapa murid Aki Banjar Angin yang akan membantu mereka.", Ungkap Sang Raja Jayeng Karto.


"Biarlah saya dan Joko yang akan ikut Pangeran. ", Pinta Agung.


"Baiklah, mungkin benar apa yang disampaikan Kanjeng Romo. "


"Oleh karena itu, maka aku perintahkan segera berangkat ke dukuhan Wanasemi,wegil dan Pengkol. Sebagian periksa ke desa Karang tengah dan dawuhan. Jangan sampai terlambat.", Titah Sang Prabu.


"Sendiko dawuh Gusti.", Jawab mereka serempak.


Mereka segera meninggalkan ruang pisowanan. Selanjutnya mereka segera mempersiapkan diri mereka masing-masing.


Menjelang tengah hari rombongan itu berangkat menuju daerah tujuan.


Laju kuda berpacu dengan debu jalanan alam pedesaan.



Gua Kedung Putri



Kedung sungai tempat mandi Putri Citrawati

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2