
Siasat Pangeran Katong untuk memperdaya Putri Citrawati berjalan dengan mulus. Seakan berjuta setan mendukung rencana jahat Pangeran Katong dalam melampiaskan dendam cintanya. Sebuah rasa cinta yang dalam namun bertepuk sebelah tangan.
Pangeran Katong yang bersembunyi di dalam terowongan bawah tanah dapat leluasa menjelma menjadi ikan gabus dan menjelma menjadi Aryo.
Sang Putri Citrawati yang sedang mabuk asmari tidak menyadari bila kesuciannya sudah dinodai oleh Pangeran Katong.
Setiap Mandi dan berenang yang di ingat adalah bermain dengan ikan dan terbuai lamunan memadu kasih dengan Aryo.
Padahal sang Putri Citrawati berada dibawah pengaruh ilmu gendam Pangeran Katong.
Beberapa bulan kemudian.
Suatu pagi,....
Sang Putri Citrawati yang sedang bercermin sambil menyisir rambut, tiba-tiba merasa perutnya mual-mual.
"Ugh...uagh...uweeek....uweeek",Suara sang Putri Muntah.
"Ada apa tuan Putri....ada apa tuan Putri. Apa tuan Putri Masuk angin?",Tanya dayang kaget dan tergopoh-gopoh.
"Entahlah Yung...Perutku terasa mau muntah. Sejak kemarin setiap pagi terasa mual."
"Kalau begitu, biar saya panggilkan tabib istana biar di periksa.",Kata Dayang.
"Iya, Cepatlah.Aku rasanya lemas sekali."
Dayang bergegas menuju rumah kediaman tabib Istana.
setelah beberapa saat tibalah sang dayang di rumah tabib Darma seta.
" Aki Darma....aki Darma.... tolong Ki....."teriak Dayang Sunti.
"Iya... tunggu sebentar.Ini sedang memasak ramuan obat.",Jawab Aki Darma Seta dari dapur.
Sesaat kemudian,terdengar langkah tergopoh-gopoh dari ruang dapur.
"Ada apa kok kamu ngos-ngosan begitu",Tanya Tabib Darma Seta sambil membuka pintu.
"Maaf Ki. Ini darurat.Tuan Putri Citrawati sakit.Beliau sejak pagi tidak mau makan.Setiap mau makan muntah."
Dayang Sunti menjelaskan dengan panjang lebar.
" Baiklah aku akan segera memeriksa tuan putri. Kamu kembali dulu.Nanti akan saya susul. Saya akan mematikan api dulu ."
"Baik Ki. Saya balik dulu."
Dayang Sunti bergegas kembali ke Puri Kedathon yang jaraknya cukup jauh dari kediaman Tabib Darma Seta.
Sepeninggal Dayang Sunti, Ki Darma Seta segera mempersiapkan peralatan Pengobatan yang dimiliki.
__ADS_1
Diletakkannya Bahan-bahan obat didalam buntalan kain dan di ikatnya di punggung.
Bergegas Ki Darma Seta menuju kandang Kuda dan menuntun kuda andalannya keluar Kandang. Sejurus kemudian Dia melompat keatas kuda dan menyengklaknya.
Kuda berlari kencang dan berhasil sampai di Puri Kedhaton.
"Di mana Tuan Putri?.",Tanya Aki Darma Seta pada penjaga Puri.
" Tuan Putri ada di dalam. Silakan Aki Darma langsung Ke Kamar Tuan Putri."
Aki Darma Seta bergegas masuk ke dalam Puri Kedhaton.
Putri Citrawati terbaring lemas di atas Dipan.
Wajahnya tampak Pucat.
" Ampun Tuan Putri. Hamba menghadap.", Kata Aki Darma menghaturkan sembah hormat.
"Paman. Tolong periksa sakitku ini. Badanku terasa lemas sekali Ki. Sejak Pagi aku sering muntah.Setiap mau makanan terasa mual."
"Baiklah Tuan Putri. Hamba akan memeriksanya."
Tabib Dharma Seta memeriksa nadi Putri Citrawati. Sejenak Tabib Darma Seta termangu sejenak.
" Ah...tidak mungkin.Ini tidak mungkin.",Gumam sang tabib lirih.
"Ada apa Paman. Apakah sakitku sangat parah?.",Tanya Putri Citrawati cemas.
Sang Tabib memeriksa berulang-ulang. Ada perasaan bingung melanda Pikirannya.
"Akan saya buatkan ramuan untuk menyegarkan kembali tubuh tuan Putri."
Tabib Darma Seta meramu ramuan tradisional untuk menguatkan nafsu makan dan penetral rasa sakit.
Dalam hatinya berkata,"Mana mungkin Tuan Putri hamil. Tuan Putri kan belum bersuami. Apa mungkin.Ah,Sudahlah semoga Tuan Putri hanya sakit biasa saja. Mungkin saya yang salah karena sudah semakin tua."
" Ini ramuan untuk tuan Putri. Minumlah dua kali sehari. Semoga tuan Putri Citrawati lekas sembuh."
"Terima kasih Paman. Saya akan segera meminumnya."
Putri Citrawati segera meneguk ramuan tersebut.
" Hamba Pamit dulu tuan Putri.Bila ada apa-apa segera panggil hamba."
" Iya Paman. Terima kasih."
Tabib Darma Seta segera keluar dari Puri Kedhaton.
Sementara sang Putri Merasa mengantuk. Segera dia berbaring dan memejamkan mata.
__ADS_1
"Kang Mas Aryo...Tunggu aku. Jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu. Aku ikut ke duniamu kakang."
" Jangan tuan Putri. Takdir tuan Putri itu di sini. Di Purwa Carita. Dan aku tak ingin terlalu banyak mencampuri takdir Allah pada negeri ini. Bila memang itu kehendak Allah mungkin Kita akan berjumpa lagi. Selamat tinggal nimas...I Love You."
"Kang mas.....Kang mas Aryo.."
Sang Putri berteriak sekeras-kerasnya.
"Tuan Putri...Tuan Putri ...Tuan Putri....Bangun...Bangun Tuan Putri.", Ucap Dayang Sunti sambil mengguncang-guncang tubuh Putri Citrawati.
Putri Citrawati terbangun dari mimpinya.
"Ternyata aku hanya bermimpi. Biyung tolong ambilkan sayur jamur itu. Sepertinya enak."
"Baiklah Tuan Putri. Sebentar saya ambilkan sendok."
Putri Citrawati memakan sayur Jamur dan meminum kuahnya.Terasa nikmat dia meminum kuah sayur itu.
" Biyung....aku kok pingin makan mangga muda. Tolong Carikan Yung. Mungkin di pasar ada."
"Tuan Putri kok ada-ada saja. Biasanya kan tuan Putri tidak suka buah yang Masam. Ini malah mangga muda.",Kata Dayang Sunti keheranan.
"Entahlah Yung...ini juga tiba-tiba saja pingin."
"Kok seperti saya waktu ngidam anak pertama saya. Jangan-jangan tuan Putri...."
"Hamil....?.Kamu ini apaan sih. Mana mungkin saya hamil Yung. Saya kan masih perawan. Thing-thing lagi..."
" Maaf Tuan Putri, Saya hanya bercanda bukan maksud...."
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Cepat carikan..."
Dayang Sunti keluar dari Puri Kedhaton. Segera dia memanggil juru masak istana untuk mencarikan mangga muda dan membuat rujak. Walau juru masak merasa heran tetapi akhirnya mereka tetap berangkat mencari buah mangga muda.
Sementara itu Malam harinya.Di Istana kerajaan Purwacarita. Prabu Dian Gondo Kusumo yang sedang bersemedi tiba-tiba terkejut. Dalam semedinya sang Prabu kembali melihat mendung bergulung-gulung di langit Purwacarita. Semakin lama semakin pekat. Mendung tersibak muncullah banjir darah mengalir di bumi Purwacarita. Perang Dahsyat menghancurkan istana Purwacarita dan menghancurkan pegunungan Kendeng. Ledakan Dahsyat dari ajian tingkat tinggi membentuk kelokan cahaya dahsyat yang belum pernah terlihat oleh sang Prabu.
Sang Prabu terhenyak dari semedinya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Jagad dewa Bathara. Apa sudah tiba waktunya. Duh Dewa nyuwun Pangapunten."
"Air mata sang Prabu meleleh dipipi. Sang raja yang tegar itu kini menangis sesenggukan.
Tiba-tiba sang Prabu teringat dengan kisah yang di ceritakan Aryo. Setelah merasa tenang sang Prabu bergumam lirih,"Sudahlah. Apapun yang terjadi biarlah terjadi. Aku hanyalah titah jalma lumrah."
Sang Prabu bangkit dari semedinya. Dia menuju kamar pribadi raja.Dibatingkannya tubuhnya di samping Permaisuri Diyah Roro Girah.
Mata di pejamkan perlahan. Diusapnya dadanya untuk menghilangkan perih perasaannya.
@@@@To be Continue@@@
__ADS_1
(@m!√u@!$h@)