Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
45. Gosip Melanda


__ADS_3

Prabu Dian Gondo Kusumo akhirnya tertidur. Sang Prabu tampak sangat sedih dalam Bathinnya.Dalam tidurpun tampak sang Prabu gelisah.


Malam semakin larut. Suara Jangkrik dan binatang malam menjadi musik alami pengantar tidur anak manusia.


Tiba-tiba sang Prabu Dian Gondo Kusumo merasa berada di tepi sungai Purwacarita.


Dilihatnya putri kesayangannya sedang berenang di kedung yang airnya jernih.


Sang putri kesayangannya sedang asyik mandi.


Tiba-tiba muncul pusaran air yang berputar cepat.Pusaran air itu menggulung Putri Citrawati.


"Romo...tolong...tolong...!"


"Anakku...Citrawati ..."Sang Prabu Dian Gondokusumo berteriak sekencang-kencangnya.


"Kangmas...Kangmas Prabu....!"


Sang Permaisuri membangunkan Prabu Dian Gondo Kusumo.


"Rupanya aku bermimpi..." Kata sang Prabu sambil mengucek kedua matanya.


"Sudahlah Kang mas.Ayo tidur lagi.Malam masih panjang. Besuk Kang mas harus memimpin pisowanan. Jangan sampai besuk mengantuk." Kata Sang Permaisuri dengan lembut.


Sang Prabu kembali berbaring setelah minum seteguk air.


Sang Prabu tetap tidak bisa tidur. Di pejamkannya matanya untuk membuat istrinya merasa tenang. Walaupun begitu hatinya tidak bisa di pungkiri kalau masih teringat mimpi buruknya.


Keesokan harinya, tatkala sang Surya menyembul ke permukaan Bumi, Sang Prabu Dian Gondokusumo terbangun dari peraduannya.


Sang Prabu Dian Gondo Kusumo beranjak menuju halaman belakang Keraton. Sejenak Sang Prabu memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam-dalam.


"Citrawati, Citrawati. Apes temen nasibmu. Semoga engkau mampu menjalani suratan Dewata ini. Duh gusti.Paringono kuat duh Gusti."


Sang Prabu menghempaskan nafasnya perlahan-lahan. Jiwanya mulai merasa sedikit lega.


Sejurus kemudian, sang Prabu melompat tinggi ke udara membentangkan kedua lengannya bagaikan elang yang hendak menerkam mangsa.


Sang Prabu berjumpalitan di udara memperagakan jurus-jurus silat tingkat tinggi.


Angin berhembus kencang seiring gerakan jurus Tapak Badai. Kedua kaki turun ke Bumi membentuk kuda-kuda gagah.


Kuda-kuda langkah Dewa diperagakan dengan sempurna berpadu dengan pukulan dan tendangan. Pukulan dan tendangan menghujam keras ke benda sasaran latihan sang Prabu. Benda yang terpukul hancur lebur.


Sudah menjadi kebiasaan sang Prabu Dian Gondokusumo berlatih ilmu silat dan kanuragan untuk menjaga kesehatan dan ke Kekuatan ilmu kanuragannya.


Setelah keringat membasahi tubuhnya, sang prabu melangkah menuju tempat mandi sang raja. Sang Raja bersiap untuk memimpin Pisowanan.

__ADS_1


Sementara itu di Kaputren, Putri Citrawati sakitnya tidak kunjung sembuh. Tubuhnya terasa lemas. Tampak perut sang Putri sedikit membuncit.


Tabib Dharma Seta yang datang memeriksa sang Putri semakin terkejut. Dugaan sementara sang Tabib ternyata menuai kebenaran. Berdasarkan analisa ilmu ketabib an yang di pelajari nya bisa di tarik kesimpulan bahwa sang Putri sedang hamil.


"Ampun Tuan Putri. Sebelumnya hamba mohon ampun. Mungkin apa yang hamba sampaikan ini akan mengejutkan tuan Putri atau mungkin akan mengejutkan kerajaan Purwacarita."


"Paman, sampaikanlah hasil analisa paman. Apapun yang akan paman sampaikan akan saya terima dengan lapang dada."


"Maaf tuan Putri. Berdasarkan pemeriksaan hamba, Tuan Putri saat ini sedang mengandung jabang bayi. Tuan Putri sedang hamil."Jelas sang Tabib.


" Apa...???. Apa Paman. Saya hamil? apa saya tidak salah dengar. Mana mungkin aku hamil. Ini tidak mungkin. Pasti ini salah..." Kata sang Putri terkejut.


" Ampun Tuan Putri. Hamba hanya menyampaikan hasil pemeriksan hamba."


"Tidak mungkin Paman...ini tidak mungkin. Saya masih suci Paman. Saya belum bersuami...mana mungkin paman." Kata sang Putri berlinang air mata.


Tangisan sang Putri memecah kesunyian Kaputren. Para dayang yang mendengar hal itu berdatangan mendekat junjungannya.


Dihiburnya sang Putri untuk bersabar.


Dayang Sumbi mendekat sang Putri.


" Ampun Tuan Putri. Tuan Putri yang sabar menghadapi ujian Dewata. Apalagi ini belumlah suatu kebenaran. ini baru dugaan tuan Tabib Dharma Seta."


"Maafkan hamba tuan Putri. Mungkin hamba salah. Tapi hanya itu yang hamba mampu." Kata sang Tabib.


"Kalau begitu, hamba mohon ijin untuk kembali ke wisma. Semoga tuan Putri lekas sembuh."


"Iya paman. Terima Kasih."


Sang Tabib meninggalkan ruang Kaputren. Suasana Kaputren menjadi hening. Kesedihan melanda Sang Putri Citrawati.


Dibaringkannya tubuhnya diatas peraduan.Fikirannya menerawang jauh menembus langit-langit kamar.


"Apa ini yang dimaksud suratan takdir yang di sampaikan Kang mas Aryo. Suratan Takdir yang dirahasiakan Kang mas Aryo padaku. Betapa memalukan aib ini. Apa aku kuat menahan beban malu ini. Duh Gusti apa yang sebenarnya terjadi?." Gumam sang Putri.


Sang Putri Citrawati semakin larut dalam kebingungan dan kesedihan. Nampak pipinya sembab terkena lelehan air mata.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perut sang Putri semakin membesar. Berita kehamilan sang Putri mulai menyebar. Meskipun sang Prabu Dian Gondo Kusumo berusaha menutupi aib Istana. Gunjingan keadaan sang Putri menyebar dari mulut ke mulut. Menyebar bagaikan api membakar ilalang.


Di warung-warung berita kehamilan Sang Putri menjadi Tranding Topik. Gosip aib istana menimbulkan banyak spekulasi pendapat. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Ada yang mengaitkan dengan hal-hal magis.Ada pula yang sok menggunakan logika.


"Aku kok tidak percaya kalau tuan Putri hamil. Tuan Putri bukanlah orang yang hina.Tuan Putri orang beradab dan terhormat.Tidak mungkin berbuat mesum di luar nikah. Itu mustahil," Kata Parto ledeng sambil menyeruput kopi di warung kopi.


"Aku sebenarnya juga tidak percaya kang. Apa mungkin tuan Putri terkena Santet?" Kata Mbak yu Parti sang Penjual Kopi.


"Bisa jadi begitu yu. Saat ini Purwa Carita sedang banyak musuh."

__ADS_1


"Namanya juga manusia. Mungkin tuan Putri sedang khilaf.Terlena dengan sang kekasih." Sahut Kang Bejo.


"Kekasih siapa to kang Bejo. Maksudmu Tuan Aryo. Ya enggak mungkin lah. Tuan Aryo kan utusan Dewa. Tidak mungkin melakukan perbuatan tercela begitu." Bela yu Parti.


"Manusia yu. Tuan Aryo juga manusia. Kan Tuan Aryo sendiri pernah bilang kalau manusia itu tempatnya Khilaf dan dosa. Mungkin Beliau lupa ketika sedang berbuat dosa." Balas Kang Bejo ngotot.


"Yang pasti kita tidak bisa menghakimi Tuan Putri sebelum semua terbukti dengan jelas. Bagaimanapun tuan Putri adalah junjungan kita. Kita harus menjaga nama baik dan kehormatannya"


"Benar yu. Kita berdoa dan berbaik sangka saja kepada beliau." Kata Parto ledeng.


Tiba-tiba datanglah dua orang menghampiri warung tersebut.


"Kopi dua, mbak yu. Yang satu tanpa gula." Kata Sugik memesan Kopi.


"Iya Tuan. Siap."


" Kelihatannya asyik tadi ngobrolnya paman-paman. Apa ada berita heboh yang baru." Tanya Sugik.


"Ah enggak apa-apa tuan. Tuan ini dari desa mana?."Tanya Bejo.


" Kami dari desa Maja semi. Kebetulan kami singgah di desa ini. Kami mau ke Kuta raja." Jawab Supri.


"Sebaiknya Tuan-tuan tidak usah Ke Kutaraja Purwa carita. Kerajaan saat ini sedang dalam suasana berduka."Kata Bejo.


"Memang ada apa?" Tanya Sugik tidak sabar.


"Jangan Bilang-bilang ya. Tuan Putri hamil." Sahut Mbak yu Parti.


" Apa...?????.Tuan Putri hamil?.Siapa yang menghamili?." Supri terperanjat kaget.


"Entahlah tuan Ini juga baru gosip dari mulut ke mulut. Kebenaran beritanya belum jelas."


"Tidak bisa di diamkan ini. Aryo harus tahu." Kata Sugi sambil menyeruput Kopi.


"Sudah Gik. Ayo kita balik. Aku tidak selera ngopi lagi." Kata Supri beranjak berdiri.


"Yu, ini tadi bayar kopinya. Dua."


"Kok tidak di minum tuan. Apa tidak enak kopinya?."


"Enak yu...Cuma aku jadi kenyang dengar gosip menerpa teman kami. Lain kali aja kami mampir lagi." Jawab Supri.


Sugi dan Supri bergegas keluar dari warung kopi itu. Mereka berjalan cepat menuju Wisma Ganesha.


@@@Bersambung@@@@


@m!✓u@!$h@

__ADS_1


__ADS_2