
Hari ini hari Minggu. Cuaca pagi sangat cerah.Angin berhembus sepoi-sepoi menggambarkan suasana hati Aryo yang gembira. Hari ini teman-teman sekolahnya akan berkunjung kerumahnya. Sebuah kebahagian tersendiri baginya.
"Mbok, nanti aku gak angon sapi ya. Teman-temanku mau dolan kesini," pinta Aryo pada simbok.
"Yo wis le, mengko ben di angon adikmu," sahut ibuku dengan sabar dan lemah lembut.
Hati Aryo gembira karena ibunya tidak marah. Segera Aryo ke belakang rumah mencari Supri.
" Dik Pri,nanti teman-teman mau dolan kesini. Mereka mau mengajak ke Kedung Putri. Nanti ikut ya," ajak Aryo pada Supri.
"Lho kemarin kok enggak ngomong,? " tanya Supri.
"Iya.Kemarin kamu sudah terlanjur pulang. Kamu kan bawa motor. Jadi Joko gak sempat bilang sama kamu." jelas Aryo pada Supri.
"Oooo, ya mas nanti saya ikut. Aku mau ngarit dulu. Kita enggak jadi angon berarti." tukas Supri Antusias.
" Enggak ah. Sekali tempo refreshing. Mosok bergaul sama sapi terus. Lama-lama jadi kaya sapi..wkkkk, " Canda Aryo pada Supri.
"Iya mas. Nasib jadi bocah Angon Sapi. Semoga kita kelak bisa merubah nasib, "
"Ya, Saya Doakan semoga kita bisa menggapai cita-cita kita." sahut Aryo cepat.
"Ya Allah, semoga kita bisa menggapai cita-cita kami. Aamiin," Supri mengangkat tangan mengucapkan Doa.
" Amin. Wis ayo berangkat ngarit.Belum waktunya Solat. Doanya diteruskan nanti siang saja," sahut Aryo sambil bercanda.
"Ayo, berangkat... "
Aryo dan Supri berangkat menenteng keranjang dan sabit. Mereka menuju pematang Sawah di timur rumahnya. Menyeberang sungai mencari rumput yang lebat.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi ayunan sabit menebas rerumputan dengan diiringi nyanyian dua anak desa.Walau suaranya terdengar sumbang melebihi Suara Dul Sumbang dan Fals melebihi suara Iwan Fales, mereka tetap menyanyi dengan gembira.
Waktu terus berlalu tak terasa sudah jam setengah sembilan pagi.
" Kring, Kring, Kriiiiing",Suara bel sepeda berdering dihalaman rumah Aryo.
"Yo, itu siapa di luar, Coba lihat" seru ibu Aryo dari dapur.
Aryo berlari keluar.
" Alhamdulilah ya Alloh, kalian sudah datang," teriak Aryo kegirangan sambil menghampiri teman-temannya.
"Ya Allah yok.Jauh sekali rumah kau. Macam di Papua aja jalannya. Berkelok-kelok kayak ular tangga," celoteh si Joko menirukan logat si Indro warkop DKI.
"Heleh biasa aja kaleee. Tiap pagi ku lewati aku gak mengeluh..." sahut Aryo.
" Heleh bukannya enggak mengeluh yok, tapi kau sudah gak kuat mengeluh. Mau curhat pada rumput yang bergoyang juga percuma kan. Rumputnya keduluan kau babat.Kau suruh makan itu sapimu..." sahut Didik menirukan celoteh Joko.
"wkkkk..." tawa teman teman Aryo pecah.
" Iya deh,kalian betul." Kata Aryo mengalah.
" Tapi Asyik yok. Jalanmu bisa menjadi rute traveling sepeda," Sugi ikut berkomentar.
__ADS_1
" Nang, Temannya suruh masuk. kok dibiarkan di luar, " tegur nenek Aryo dari samping rumah.
" Inggih mbah..." sahut teman-teman Aryo serempak.
Mereka semua masuk. Ibu Aryo sudah menyiapkan sarapan pagi. Nasi Jagung, sayur menir dan bothok kelanding.
Selepas sarapan mereka pamit pada Ibu Aryo.
" Mau cari apa di Kedung Putri, Dolanan kok ning omahe Danyang," kata nenek Aryo tiba-tiba.
"Hati-hati ojo kakean polah nek kecatet," pesan Nenek Aryo.
"Inggih mbah..." Jawab mereka serempak lagi.
Mereka berangkat dengan jalan kaki. Sepanjang Jalan Sugi cekikikan.
" Awas di catet demit lho... " canda Didik.
"Enggak takut, kalau di catet nanti saya tip ex... nih gue bawa." balas Sugi sambil memperlihatkan tip ex dari dalam tasnya.
"Wo cah sableng, awas hati hati kalau bicara.Disini daerah wingit, " sahut Aryo memperingatkan.
"Krosak, gedebug... " Tiba-tiba ada suara mengejutkan dari balik semak- semak.
" Apa yok ? " seru Didik kaget.
"Ssttttt,.... diam !" Sugi mulai Ancang ancang dengan kuda-kuda.
Maklum Sugi seorang pendekar Cempaka Putih. Dia melihat ada bayangan hitam di balik Pohon perdu.
Tiba-tiba tubuhnya terpental di semak-semak.
Aryo melompat menghampiri tubuh Sugi yang meringis kesakitan.
Aryo menoleh kearah balik pohon. Sesosok makhluk tinggi besar dengan bulu lebat menyeringai hendak menyerangnya.
"Herrrr, auuuuuw, " seru makhluk itu tiba-tiba menyerang Aryo.
Ku hadang serangannya dengan jurus lempar tenaga dalam yang pernah ku pelajari di ML 151. Mulutku tak henti membaca ayat kursyi.Makhluk itu terpental beberapa meter dan menghilang. Bau telur busuk tercium di sekitar tempat itu.
"Kau enggak apa-apa gik?." tanya Aryo.
" Enggak apa-apa.Tadi aku terlalu ceroboh," tukas Sugi dengan cepat.
" Ayo cepat pergi dari sini. Ini wilayah demit Banyu Uyah. Demitnya Bandel-bandel." ajak Aryo pada teman-teman.
"Hebat yok Kamu tadi..." celoteh Didik.
"Enggak Dik. Yang hebat gusti Allah. Aku tadi cuma baca Ayat Kursyi kok." jawab Aryo Mengelak.
"Itu tadi apa yo. Aku tidak lihat apa pun?, " tanya Agung.
" Genderuwo yang sewot gara gara mau di tip ex Sugi..." jawab Aryo bercanda.
__ADS_1
"Wkkkk... ", Teman Aryo yang lain tertawa.
" Bagaimana lanjut petualangan atau balik. Gak takut Demit kalian.", Tanya Aryo pada teman-teman.
" Lanjut.Kami malah penasaran pada Kedung Putrinya. Benar-benar mau tak tip ex demitnya kalau macam-macam lagi. Akan ku hajar dengan ilmu Macan Putihku." sahut Sugi.
Karena yang ikut petualangan ini rata rata pernah belajar bela diri maka kejadian tadi menjadi sebuah tantangan jiwa kependekaran mereka.Jiwa pendekar anak muda yang mencari jati diri.
Mereka terus menyusuri jalan setapak menuju situs Kedung Putri. Sementara sang Surya terus merangkak diatas langit. wajah lelah mulai tampak di wajah anak anak kota yang sedang berpetualang ini.
Sejenak mereka beristirahat dibawah pohon sambil minum air di botol Aqua bekas yang di bawa Aryo.
"Jauh juga ya.Tapi asyik petualangannya..." celetuk Purwa yang sejak tadi diam.
" Iya Pur.Tapi nanti kamu akan lihat pesona alam yang luar biasa", Jawab Supri.
"Kau pernah kesana? " tanya Agung.
"Pernah beberapa kali Gung. memang bagus kok. Cukup pantas untuk obyek wisata Alam.Tetapi sampai saat ini belum ada pihak yang mau Investasi," jelas Supri.
" wooow, luar biasa analisa bisnismu Pri. Makluuuuum anak A3," kata Agung memuji.
"Aku jadi tertarik ingin mengungkap misteri yang ada di Kedung Putri." celetuk Sugi sambil meneguk air Aqua.
"Pingin melamar sang Putri Ya?," Purwa angkat bicara.
" Jangan sembrono Gik.Asah dulu ilmu mu kalau mau macam-macam disini. Tadi aja kamu keok kok." lanjut Purwa.
"Iya dech.Maaf bila ku agak Sombong. Maklum pendekar anyaran. memang ilmuku belum matang. Belum ku serap Semua ilmu Abah Suwar Bledek," jawab Sugi merendah.
Purwa adalah saudara seperguruan Sugi di Cempaka Putih tetapi perangainya selalu merendah dan tidak sombong. Sedang Sugi masih bergejolak darah mudanya. Beberapa kali Purwa menunjukkan kelemahan ilmu Sugi yang sedang in action.
" Krompyang, Pyeeeeeek... krompyang, pyeeeeek..." sayup-sayup mereka mendengar suara aneh di bawah pohon jati yang besar di seberang jalan.
"Heii.... suara apa itu tadi? " Didik berseru keras.
"Suara apaan.Enggak ada apa-apa kok. Kamu ini Halunisasi saja Dik," celetuk Purwa mulai meledek Didik.
"Halusinasi Puuuuur," sahut Aryo.
"Bercanda yok, tadi kan aku diem aja... wkk," canda Purwa sambil tertawa.
"Sttttttt... dengar baik-baik," sahut Didik.
Mereka pun mendengarkan dengan seksama.Memang sayup-sayup terdengar suara di balik pohon jati besar di seberang jalan.
"Ayo kita selidiki bersama-sama.Jangan takut. Apapun yang terjadi kita gasak bersama. Bersatu kita teguh bercerai kita... " Joko memberi semangat.
" Nikah lagi..." jawab mereka serempak.
"Salah, yang betul kita ke Pengadilan Agama." canda Joko cekikikan.
"Sudah,sudah.Ayo kita cari sumber suara tadi." kata Aryo melerai candaan mereka.
__ADS_1
Mereka mengendap-endap mendekati pohon tersebut. Suasana terasa hening dan mencekam.