Kutukan Putri Gumeng

Kutukan Putri Gumeng
14.Istana Atas Angin (3)


__ADS_3

Menjelang matahari setinggi tombok, Sang Prabu Jonggrang Prayungan memasuki ruang pengadilan dengan pengawalan Pasukan


bersenjata lengkap.


"Selamat Datang , Yang Mulia Gusti Jonggrang prayungan. Sembah sujud kami haturkan." ucapan salam semua yang hadir dengan menghaturkan sembah.


"Aku terima sembah sujud kalian.Bangunlah"titah sang Prabu.


"Pengadilan pesakitan segera dimulai. " seru Juru Pranata Acara.


"Hadapkan Semua pesakitan." titah sang Prabu.


" Kalian semua di tuduh bersalah melanggar aturan negeri Atas Angin. Aku sudah mendengar kesalahan kalian masing. " sang Raja memulai pengadilan.


"Kalian perampok bengis dan kejam. Kalian mengganggu ketentraman rakyatku. Apa kalian kira aku diam saja?. Kalau kalian kejam maka aku ini rajanya kejam." sang Prabu Jonggrang mulai menggertak.


Tampak wajah perampok mulai pucat pasi. Keringat dingin membasahi sekujur badannya.


"Ampun Gusti.Kami merampok karena terpaksa gusti.Kami orang miskin. Desa kami terkena wabah sehingga kami meninggalkan kampung kami. Disini kami terpaksa merampok untuk menyambung hidup kami. " sahut salah seorang perampok.


"Kalian dari desa mana? " tanya sang Raja


"Kami dari desa Geneng Jetak Wanger. " jawab sang perampok.


" Kalian dari Kerajaan Pandan ?. Karena aku sedang murah hati,aku ampuni kesalahan kalian dengan syarat kalian mau sumpah setia menjadi prajurit Kerajaan Atas Angin." titah sang Raja Jonggrang Prayungan.


Terdengar kasak-kusuk dari hadirin.


" Tenanglah kalian. Aku mengampuni mereka karena kita sedang membutuhkan banyak prajurit dan warga. "


"Sendiko dawuh gusti prabu. Kami siap setia mengabdi pada gusti Prabu Jonggrang Prayungan. " jawab pesakitan serempak.


"Sebagai Ujiannya, kalian tunjukkan kemampuan berkelahi kalian untuk menentukan posisi yang tepat pada kalian" sang Prabu memberi arahan.


"Kalian harus melawan jagoan andalan kerajaan. Kalau kalian menang kalian diterima sebagai prajurit. Bila kalah kalian bekerja sebagai pekatik kuda dan juru dapur" titah selanjutnya.


"Sendiko dawuh gusti. Terima kasih Gusti, "


"Sekarang kalian semua pergi ke Gelanggang Kesatrian.Prajurit kawal mereka sampai ke kesatrian, "


" Pengadilan hari ini saya cukupkan. silakan kalian bubar" titah sang Raja.

__ADS_1


"Terima kasih Gusti Prabu." sahut mereka sambil menghaturkan sembah dan keluar lapangan.


Didik dan Sugik pun ikut menuruti titah sang raja menuju Gelanggang Kesatrian.


Dengan pengawalan ketat, rombongan pesakitan digiring menuju Gelanggang Kesatrian.


Gelanggang Kesatrian yang terletak di barat kerajaan sekitar 1 kilometer.


Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di dalam gelanggang.


Tampak para prajurit sedang berlatih bersama para panglima. Latihan terhenti ketika rombongan masuk gelanggang.


Seperempat jam kemudian.


Sang Prabu Jonggrang memasuki ruang latihan di ikuti sepuluh laki-laki berotot kekar.


"Sugeng Rawuh gusti Prabu


Kami mohon titah. " teriak para prajurit dan panglima.


" Wahai kalian semua. Hari ini kalian akan mendapat tambahan tenaga prajurit. "


"Kalian bertujuh maju kedepan kalian akan hadapi jagoan kerajaan.Panglima Adhiyaksa akan menjadi penengah dan penilai. " seru sang Prabu Jonggrang Prayungan.


Pimpinan perampok maju ke depan memperagakan jurus-jurus silat kuno.


" Sebutkan nama atau julukan kalian " jelas Panglima Adhiyaksa.


" Saya Banjar angkring siap bertarung, " seru ketua rampok pada para hadirin.


" Aku Suro bejo si Tangan Besi siap melayani ilmu mu, " sahut sang jagoan sombong.


Satu, dua, Tiga...


Pertarungan berlangsung seru. Si Tangan Besi mulai di atas angin. Jurus silat sang rampok tak mampu melukai tibuhnya. Tubuhnya keras bagai besi. Setelah seperempat jam, Tubuh banjar ankring terpental keluar gelanggang.


" Pemenangnya Si Tangan Besi " seru sang Panglima.


Seri kedua berturut-turut para perampok berkelahi dengan jagoan kerajaan.


Hanya satu orang yang berhasil mengalahkan jagoan kerajaan.

__ADS_1


Tiba giliran Didik maju ke depan. Didik menghadapi Jagoan bermata satu. Tampak sangar dan menakutkan.


Tiba-tiba lawan Didik mengeluarkan tongkat dan memutarnya di tangan. Sejurus kemudian dia menyerang Didik.


"Ciaaaaat, Hup...." seru si Mata Satu.


Tongkat hampir menyerempet wajah Didik.


Didik jatuh berguling di tanah, kemudian berdiri dengan Koprol.


" Hup, Hiyaaat," teriak Didik ganti menyerang dengan jurus kombinasi tenaga dalam bantingan.


Seketika angin berhembus kencang menyerang si Mata Satu.


Tubuh si Mata Satu terangkat keatas dan terbanting ketanah dan tak bisa bergerak.


" Luar biasa, hebaaaaat.... hebaaaat kamu" seru Sang Prabu Jonggrang Prayungan.


Para prajurit dan panglima terkagum melihat peragaan ilmu Didik.


Didik Juga heran ternyata Ilmunya yang di dunia modern hanya biasa saja, disini efekny luar biasa.


Selanjutnya Sugik maju ke gelanggang.


Sugik melawan Si Jerangkong Hidup.


Tubuhnya seram kerempeng berbungkus tulang diluar.


Tiba-Tiba jerangkong Hidup melompat tinggi bersalto di udara. Kaki nya turun ke bawah menerjang tubuh Sugik. Sugik menghindar kesamping kiri dengan tetap tenang. Serangan jerangkong hanya mengenai tempat kosong.


" Kau mau main-main. Oke. Bukan hanya kamu yang bisa salto. Lihat aku juga bisa" seru Sugik sambil merapal ajian Saifi Angin.


Pusar Sugik terasa dingin menjalar keseluruh tubuh. Tubuhnya seringan kapas. Kemudian Dia melompat tinggi ke Udara. Tubuhnya melesat tinggi bagai anak panah terlepas dari busurnya.


Semua mata terbelalak melihat atraksi Sugik. Belum selesai keterkejutan mereka, tiba-tiba Sugik sudah meluncur turun dengan kaki menyerang tubuh Jerangkong Hidup.


Tubuh Jerangkong terpental keluar arena. Jerangkong sangat marah. Dia merapal mantra dan berubah menjadi ular besar.


Para Prajurit takjub dan dan takut.


"Mau ngajak Kethoprakan. Oke Siapa takut? " seru Sugik.

__ADS_1


Sugik merapal mantra Macan Putih. Beberapa saat kemudian tubuh berubah menjadi seekar macan putih. Orang-Orang ketakutan. Dua makhluk jelmaan bertarung dengan hebat


__ADS_2