
Pandangan mereka terkesiap melihat sang Putri Citrawati keluar dari Puri Kedhaton. Langkah halus semakin anggun terlihat mendekat ke taman sari Kerajaan Purwa Carita.
"Assalamu Alaikum tuan Putri Citrawati." Aryo mengucapkan salam untuk Putri Citrawati.
Sejenak Sang Putri tertegun keheranan dengan kalimat yang Aryo ucapkan.
"Bahasa apa yang kau ucapkan tadi?. Aku belum pernah mendengarnya," tanya sang Putri keheranan.
Mereka tersadar telah mengucapkan suatu bahasa yang asing di era kuno seperti ini.
" Maaf tuan Putri.Kami tidak sengaja. Kami belum terbiasa dengan bahasa di zaman ini." sahut Purwa.
"Maaf tuan Putri.Itu ucapan salam yang biasa kami ucapkan di dunia kami.Itu sebuah salam dari agama kami. Agama Islam. Maafkan saya bila tuan Putri kurang berkenan. " Aryo menjelaskan dengan penuh hati-hati.
"Islaaaaam?, agama apa itu?. Apa agama baru ?"
" Benar tuan Putri. Kelak akan tiba masanya Agama yang turun dari langit. Agama yang diturunkan tuhan semesta alam. Agama yang di bawa oleh utusan suci yang bernama Muhammad." Supri mulai angkat bicara.
"Dari salam kalian tadi terdengar begitu teduh.Dari cerita kalian aku seperti teringat dengan kisah datangnya utusan langit dalam agamaku. " sang Putri mulai antusias berbicara dengan kami.
"Benar tuan putri.Menurut buku yang kami baca tentang perbandingan agama, memang ada kesesuaian berita kenabian dalam agama Hindu dengan agama Islam. Tapi kami tiada memaksakan keyakinan kami."
"Bagaimana wilayah kami ini. Apakah juga beragama Hindu atau Islam? " tanya sang Putri semakin penasaran.
"Ampun tuan Putri.Wilayah ini di masa depan bukanlah sebuah kerajaan lagi. Tetapi wilayah ini terkubur dan kembali menjadi hutan belantara dengan desa-desa disekitar hutan. Wilayah ini berada dalam kekuasaan Negara Indonesia. Bukan lagi sebagai sebuah kerajaan. Negara Indonesia tempat kami berasal wilayahnya sangat luas. Dari ujung Sumatra sampai Irian jaya. penduduknya sebagian besar beragama Islam. " jelas Aryo Panjang lebar.
"Apa ada agama lainnya?.Apa agamaku masih ada di masa kalian?."
"Ada 6 agama dan banyak aliran kepercayaan. Akan tetapi kami rukun. Bhineka Tunggal Ika." Purwa ikut menjawab.
"Luar biasa negaramu. Aku jadi pingin pergi ke negerimu itu. Aku pingin ikut menyeberang waktu seperti kalian". sang Putri menampakkan senyum manisnya pada kami.
Hati Aryo berdesir tatkala melihat senyumnya. Walau Aryo masih sekolah dan tipe cowok pendiam, tapi kalau urusannya dengan cewek cantik, hati gak bisa mungkir.
"Aryok, mendekatlah." titah sang Putri.
__ADS_1
Hati tambah deg-degan. Perasaan semakin tak karuan.
"Bbbbbaik Tuan Putri." jawab Aryo gugup.
"Berapa Umurmu?. "
"Tujuh belas tahun tuan Putri. Kiranya ada apa dengan umur hamba?." tanya Aryo keheranan.
" Tidak apa-apa. Berarti kau seumuranku. Kamu sudah beristri di duniamu?." tanya sang Putri.
Sebuah pertanyaan yang membuat jantung Aryo seakan berhenti berdetak.
"Beb...beb... belum tuan Putri. Kami ini sebenarnya masih sekolah. masih mencari Ilmu. Jadi belum boleh menikah. Kalau boleh tahu mengapa tuan Putri menanyakan hal tersebut?."
"Hmmmmm, Gak apa-apa... barangkali ada cewek di kerajaan ini yang tertarik denganmu." jawab sang Putri Sekenanya.
"Tuan Putri bercanda ya. Saya ini wajah standart, gak ganteng mana ada yang tertarik?. Kalau saudara saya yang satu ini mungkin bisa menyaingi ketampanan para Pangeran di kerajaan ini. " balas Aryo sambil menepuk pundak Supri.
Supri matanya mendelik menghardik Aryo sambil bersungut-sungut.
Aryo membalas Supri dengan senyum mengejek.
"Bukan begitu Aryok.Siapa bilang kamu jelek. Kamu ini hanya kurang berdandan. Coba kalau kamu berdandan kau mungkin lebih gagah di banding Pangeran Katong. Sekilas wajah kamu mirip Pangeran Katong.Karena itu sejak tadi aku curiga jangan-jangan kamu itu pangeran Katong yang menyamar. " jelas sang Putri.
"Ampun tuan Putri.Apa tuan Putri masih tidak percaya dengan hamba?. "
"Aku percaya pada kalian. Tapi maukah kalian menjelaskan Takdir yang akan aku alami?." tanya sang Putri.
"Ampuan Tuan Putri.Dalam agama kami, kami dilarang mendahului takdir. sebaiknya kita jalani saja takdir kita. Walau kami tahu kisah kerajaan ini, kami hanya ingin menyelaraskan dengan takdir Tuhan."
"Baiklah, apa yang kau sampaikan memang benar. Tapi tolonglah kami agar bisa sesuai dengan kehendak Dewa." pinta sang Putri.
"Baiklah Tuan Putri. Kami siap melaksanakan." jawab mereka.
" Sekarang kembalilah kalian ke Wisma Ganesha. Jalankan Tugas dan rencana kalian. " titah sang Putri Citrawati.
__ADS_1
"Sendiko Dawuh kanjeng Putri." sahut mereka bersamaan.
Mereka menghaturkan sembah sambil berjalan mundur meninggalkan Keputren.
Aryo menolehkan wajah ke belakang. Aryo melihat senyum dekik di pipi sang Putri. Terasa ada getaran aneh menyebar di hati Aryo.
Segera Aryo menepis angan kosongnya.
"Hahhhh, Pergi kau setaaaan. Dia cewek zaman bahulak. Gak mungkin kau harapkan." suara hati Aryo menepis imaginasi liarnya.
Sang Surya pun mulai beranjak ke tengah langit. Mereka menuju wisma tamu untuk beristirahat dan makan sebelum kembali ke Wisma Ganesha.
"Ada yang lagi kasmaran nich... yeeeee." celetuk Supri dari samping Aryo.
"Hussss,...Apaan sih Pri?. Kita ini siapa? Orang terdampar. Ngapain mikir cinta cintaan segala. Emang kamu ?????."
"Emang kenapa aku?. Aku kan Cowok Setia. " tukas Supri.
"Iya.... SE....TI.... A.... setiap Tikungan Ada. Kayak Sopir. " celetuk Purwa.
" Gak apa-apa Pur.Daripada kamu JONES. " balas Supri.
"Apaan Jones?. " tanya Purwa.
"Jomblo ngenes Pur... " jawab Aryo singkat.
"Asemi... Ngapain harus ngenes Pri. Jelek-jelek Beegini aku juga pernah nembak si Ratna. Itu si cewek idola di kelas kita. Kamu tahu gak jawabnya?." tanya purwa.
"Heleh, Ya jelas di tolak ...ha.. ha. ha. " jawab Aryo singkat.
"Iya..... betuuuuuuul.... itu gara-gara kamu kok yok. " sahut Purwa sedih.
" Sebenarnya dia suka kamu.Hanya saja kamu ini tampang culun dan pengecut.Di dekati cewek langsung panas dingin.Capek deeeeeh." Purwa menepuk Jidatnya.
"Aku tahu.Tapi aku ini siapa sich Pur. cah ndheso, dekil, kampungan. Mana berani deketin si Ratna.Kalah pamor dengan xena." jawab Aryo sambil berkeluh kesah.
__ADS_1
Tak terasa langkah kami sudah sampai ke Wisma Tamu. Hidangan makanan pun sudah siap di atas meja.