
"Gu-guru ini..." ucap Cao Zhen Xin yang tak bisa menerima kenyataan tersebut.
"Zhener ini kenyataannya... Coba kau tanyakan pada guru Zheng Lian." ucap Bing Yinshi menatap Zheng Lian yang hanya membalas ucapannya dengan anggukan kepala.
"A-aku..." uca Cao Zhen Xin yang tak ingin disebut dengan murid yang tak berbakti.
"Bukankah kamu menginginkan kematian seluruh anggota keluarga Tao... Kini hanya tersisa aku saja... Jadi sekarang." ucap Bing Yinshi yang memiliki nama Tao Yinshi.
"Gu-guru..." ucap Cao Zhen Xin kembali berlutut dan mencoba menarik ucapannya.
"Pria sejati, Kultivator Sejati tidak akan pernah mengingkari ucapannya. Guru sangat bangga padamu karena kekuatanmu menggungguli gurumu sendiri... Namun kamu harus tetap menepati janjimu itu Zhener." ucap Bing Yinzhi membuat pedang es dan meletakkannya didepan Cao Zhen Xin.
"...." Cao Zhen Xin terdiam seribu bahasa.
Bahkan mulutnya tak bisa ia gerakan sama sekali, hanya bola matanya saja yang bergerak menatap Zheng Lian yang juga hanya diam. Bing Yinshi yang tak ingin mengecewakan ambisi muridnya kemudian mengambil pedang tersebut dan hendak bunuh diri dengan cara menusukan pedang es tepat dijantungnya.
Namun usaha tersebut sia sia, karena Cao Zhen Xin menghentikannya dengan cara menahan mata pedang es tersebut menggunakan tangannya. Darah merah sedikit keemasan yang tak lain darah Naga keluar dari luka telapak tangan goresan pedang Es. Darah tersebut membanjiri pedang es dan terus menetes kearah tanah.
"Gu-guru kumo...." ucap Cao Zhen Xin sambil menangis.
"Zhener! Sejak kapan kau cengeng! Kamu adalah Kultivator sejati dan tentunya guru ingin kau selalu bersikap seperti ini! Tegas tidak pernah mengingkari janjimu..." ucap Bing Yinshi mencoba mengerahkan tenaganya untuk menancapkan pedang esnya kearah jantungnya.
"Zheng Lian ini keputusanku! Bantu aku melepaskan genggaman tangan Zhener..." ucap Bing Yinshi yang terus menahan air matanya agar tidak keluar.
Zheng Lian dengan berat hati kemudian menotok peraliran darah Cao Zhen Xin sehingga Cao Zhen Xin mematung. Seketika Bing Yinshi melepaskan pedangnya dari genggaman Cao Zhen Xin.
Jleeeeeb! Bing Yinshi menggenggamkan pegangan pedang es pada Cao Zhen Xin yang diarahkan tepat dijantungnya. Setelah itu Bing Yinshi berjalan maju membiarkan pedang es menancap dan terus menusuk hingga tepat dijantungnya. Terlihat Cao Zhen Xin yang tidak dapat bergerak karena peraliran syaraf serta titik darahnya tersebut hanya bisa diam mematung.
"Zhener guru bangga padamu..." ucap Bing Yinshi terakhir kali kemudian membiarkan pedang tersebut masih menancap dijantungnya.
Setelah mengucapkan kata terakhir, Bing Yinshi kemudian jatuh berlutut dan akhirnya Bing Yinshi tewas ditangan Cao Zhen Xin.
"Arghhhh! " teriak Cao Zhen Xin.
__ADS_1
Baaaaaamsss! Suara ledakan dari dalam tubuhnya terdengar yang diartikan ia melepas totokan syaraf serta darahnya secara paksa. Setelah melepaskannya, ia segera memeluk tubuh Bing Yinshi dengan tangisan tersedu sedu.
Zheng Lian terdiam, ia sungguh tidak bisa menyalahkan siapapun saat ini. Hatinya sakit melihat kakak seperguruannya mati didepannya, apalagi yang membunuhnya muridnya dan murid Bing Yinshi sendiri. Seketika ia memejamkan matanya untuk mencoba menghiklaskan semua yang telah terjadi.
"Gu-guru..." teriak Cao Zhen Xin menggema.
Setelah membuka matanya, Zheng Lian menepuk bahu Cao Zhen Xin dengan perssaan yang sulit ia gambarkan.
"Zhener... Ini sudah keputusannya, ingatlah pesan guru Yinshi padamu. " ucap Zheng Lian memberikan senyuman palsunya.
"Ta-tapi...." ucap Cao Zhen Xin ingin menyangkal.
"Tidak ada kata tapi Zhener... Semua ini sudah kehendak gurumu sendiri." ucap Zheng Lian mencoba menenangkan suasana tersebut.
Cao Zhen Xin merasa sangat bersalah, amarah dan kebenciannya terhadap keluarga Tao kini telah sirna, yang tergantikan dengan perasaan sedih, kesepian dan salah yang begitu besar dihatinya.
Selang beberapa menit, Cao Zhen Xin membuat peti mati menggunakan elemen tanahnya. Perlahan ia menarik pedang es yang menancap tepat dijantung Bing Yinshi, setelah memasukan tubuh Bing Yinshi kedalam peti mati, Cao Zhen Xin menatap Zheng Lian dengan tatapan memohon.
"Tentu Zhener... Apapun keputusanmu guru pasti akan mendukungnya." uca Zheng Lian.
Setelah itu, Cao Zhen Xin ketempat mayat She Mei dan She Yang, ia melakukan hal yang sama pada kedua mayat tersebut. Setelah memasukan ketiga mayat orang penting dihidupnya, Cao Zhen Xin kemudian memasukannya kedalam cincin ruangnya.
"Zhener guru akan menemanimu ke sekte Cahaya Suci. " ucap Zheng Lian.
"Baik guru..." ucap Cao Zhen Xin kemudian membuat segel tangan.
Swuuuush! Asap putih keluar dari dalam tubuhnya, setelah itu Bing Long mengantarkan keduanya menuju sekte Cahaya Suci. Waktu enam jam telah berlalu, Cao Zhen Xin dan Zheng Lian akhirnya tiba disekte Cahaya Suci. Wajahnya yang pucat dan penuh penyesalan terus ia perlihatkan.
"Hormat pada tuan muda..." ucap para murid.
Cao Zhen Xin hanya mengangguk, diikuti oleh Zheng Lian, setelah itu mereka berdua berjalan menuju aula sekte Cahaya Suci.
Sesampainya.
__ADS_1
"Gege..." ucap Lylia yang ingin mengetahui kabar paman dan kakaknya.
Lidah Cao Zhen Xin merasa kelu ingin memberitahu yang sebenarnya. Seketika matanya menatap kearah biksu Wangyan dan guru Zheng Lian secara bergantian. Zheng Lian hanya mengangguk, namun berbeda dengan biksu Wangyan yang dapat melihat jelas kesedihan dan pengelasan diwajah Cao Zhen Xin.
"Amithaba... Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kau ceritakan semuannya saja Zhen." ucap Biksu Wangyan.
Cao Zhen Xin mengangguk, setelah itu ia menatap She Luan dengan tatapan bersalah.
"Luaner aku gagal menyelamatkan kakak dan pamanmu.. A-aku me-minta maaf." ucap Cao Zhen Xin terbata bata.
Deeeeegh! Jantung She Luan berdetak kencang mendengar pengakuan Cao Zhen Xin.
"Gege apa maksudmu." ucap She Luan.
Swuuuuush! Tiga peti mati muncul dari kehampaan, seketika tubuh She Luan bergetar hebat dan tentunya air matanya tiba tiba mengalir deras.
"Kakak! Paman! " ucap She Luan kemudian berlari dan mencoba melihat tebakannya yang ada didalam peti mati tersebut.
"Gege.... Kakakku kenapa..." ucap She Luan langsung tak sadarkan diri.
Sontak Cao Zhen Xin langsung menghilang dan muncul dibelakang She Luan serta memeluk tubuhnya.
Swuuuuush! Keponakan biksu Wangyan muncul dan langsung menggantikan posisi Cao Zhen Xin, setelah itu ia membawanya kekamar yang diberikan untuk She Luan.
Cao Zhen Xin yang merasa sangat bersalah menatap biksu Wangyan dengan tatapan lemah.
"Zhener aku tahu kamu merasa bersalah... Namun waktu tidak bisa diputar dan diulangi, jadi belajarlah dari kesalahanmu itu." ucap biksu Wangyan memberikan nasehatnya.
Cao Zhen Xin mengangguk lemah, setwlah itu ia meminta biksu Wangyan untuk mencarikan tempat kuburan khusus disekte Cahaya Suci. Tentu biksu Wangyan tidak menolaknya, mereka pun akhirnya menguburkan ketiga mayat tersebut ditempat pemakaman suci milik sekte Cahaya Suci.
Tertulis pada batu nisan milik Bing Yinshi.
"Tao Yinshi atau Bing Yinshi.... Murid tidak berbakti Cao Zhen Xin." tulisan tersebut diukir sendiri oleh Cao Zhen Xin.
__ADS_1