
"Bagaimana senior tahu? " tanya Cao Zhen Xin heran.
"Haha kita itu sudah berjodoh sejak lama, sudahlah kita bahas ditempatku saja... dan untuk paman Jie mari ikuti aku. Serta untuk yang lain silahkan bersihkan sisa pertempuran ini. " ucap Zhu kemudian mengibaskan tangannya kearah Cao Zhen Xin dan Di Jie.
"Baikk! " jawab mereka semua kompak.
Swuuuush! Setelah mereka menjawabnya, Cao Zhen Xin, Zhu, dan Di Jie kemudian menghilang tertelan kehampaan. Mereka bertiga muncul disebuah altar kuno yang memiliki gambar segel kunci aneh.
"Senior segel apa ini." ucap Cao Zhen Xin tak berhenti penasaran melihat banyaknya segel yang ada didinding altar kuno tersebut.
"Ini semua segel pengurung yang aku ciptakan sendiri. Walaupun terdengar hanya kurungan, tapi tentu kamu sudah melihat salah satu segel yang sempat aku gunakan waktu tadi. " ucap Zhu tersenyum.
Cao Zhen Xin mengangguk, kemudian ia mengamati semua segel rumit yang ada dinding tersebut. Namun tiba tiba, tubuhnya gemetar merasakan aura yang sangat mengerikan keluar dari mulut goa yang berada disamping altar kuno tersebut.
"A-aura apa ini..." ucap Cao Zhen Xin hampir tak sadarkan diri.
Setelah itu kalung dilehernya bersinar dan menetralkan aura tersebut hingga Cao Zhen Xin merasa sedikit lebih baik. Begitu juga dengan Di Jie, namun untungnya Zhu langsung melindungi Di Jie dengan aura sucinya.
"Hahahaha inikah bocah lemah yang ditakdirkan untuk membunuhku!" ucap seorang pria paruh baya menggema dari dasar goa.
Sontak tubuh Di Jie yang mengenal Yang Jian langsung gemetar mendengar suaranya saja.
"Tenanglah." ucap pelan Zhu.
"Se-senior siapa dia..." ucap Cao Zhen Xin langsung melesat kearah Zhu dengan perasaan ngeri mendengar suara penuh tekanan tersebut.
"Zhu bodoh, biarkan aku saja yang memberitahunya.." ucap sosok tersebut yang tak lain Yang Jian.
Cao Zhen Xin menatap Zhu dan Di Jie secara bergantian.
"Tenanglah, dengarkan saja dan tidak usah kau ambil hati Zhen. " ucap Zhu.
Cao Zhen Xin mengangguk.
"Bocah cilik tengil, untuk apa kau jauh jauh kesini, kamu mencari Zhu tidak ada gunanya, karena Benuamu sendiri sedang mengalami kekacauan bukan? " tanya Yang Jian.
Deeeegh! Jantung Cao Zhen Xin berdetak kencang. Melihat ekspresi keterkejutan diwajah Cao Zhen Xin, Zhu langsung menepuk bahu Cao Zhen Xin, serta Di Jie.
Swuuuush! Ketiganya menghilang, merasakan tiga aura yang telah menghilang, sontak Yang Jian memaki Zhu yang sebenarnya ia ingin menjatuhkan mental Cao Zhen Xin.
__ADS_1
"Arrghh! Dasar bocah tak tahu diri! " teriak Yang Jian dari dalam goa.
Ketiganya muncul diatas bukit gundul tanpa pepohonan satupun.
"Senior ini..." ucap Cao Zhen Xin terkejut melihat pemandangan sekitarnya.
"Tidak usah kau pikirkan, aku tahu kamu telah mengetahui apa yang terjadi di Benua ini pada masalalu. Sekarang aku akan memberitahu padamu kenapa tiga Buddha utama menugaskanmu untuk mencariku." ucap Zhu kemudian menjelaskan panjang lebar.
Cao Zhen Xin mendengarkan cerita Zhu hingga akhir, dan ia tersadar kini ia harus kembali menunda pencarian kakaknya yang telah hilang selama delapan belas tahun ini.
"Se-senior apakah...." ucap Cao Zhen Xin terpotong.
"Maaf Zhen ini takdirmu." ucap Zhu sedikit mendesah pelan.
Cao Zhen Xin terdiam, kemudian ia malah teringat ucapan Yang Jian yang memberitahu padanya bahwa Benua Tinggi sedang mengalami kekacauan.
"Apakah kamu memikirkan ucapan Yang Jian? " tanya Zhu.
Cao Zhen Xin mengangguk pelan.
"Aku tau perasaanmu itu, namun jika aku mengatakan bahwa ucapannya hanyalah omong kosong yang dapat menjatuhkan mentalmu, apa yang akan kamu lakukan? " tanya Zhu.
Cao Zhen Xin hanya bisa terdiam seribu bahasa. Perasaannya sungguh dilema.
"Apa syaratnya Senior? " ucap Cao Zhen Xin.
"Kamu harus bisa menggabungkan enam elemen yang ada ditubuhmu. Selain itu, kamu juga akan menerima hak yang sepatutnya kamu terima. " ucap Zhu membuat Cao Zhen Xin kembali heran.
"Penggabungan enam elemen? " tanya Cao Zhen Xin heran.
"Benar, tenang saja aku tau kamu seorang jenius bahkan diatas jenius itu sendiri, jadi bagimu hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bukan." ucap Zhu.
"Paman Jie.." ucap Zhu menatap Di Jie yang kebingungan.
Zhu hanya tersenyum menatap Di Jie yang ia anggap sebagai orang tua angkatnya, karena sejak kecil ia selalu bersamanya bahkan disaat pembantaian telak yang dilakukan oleh Yang Jian, Di Jie yang selalu berada disampingnya.
"Bisakah paman menuruti permintaan kecilku ini? " tanya Zhu.
"Tentu Zhuer, paman pasti sebisa mungkin akan menurutinya. " jawab Di Jie yang sedikit heran dengan tingkah Zhu tersebut.
__ADS_1
"Aku hanya ingin paman pergi dari Benua ini dan hidup bebas tanpa ada beban pikiran, apakah paman mau? " tanya Zhu serius.
"Zhuer kau.." ucap Di Jie terkejut pada permintaan Zhu.
"Paman..." ucap Zhu tersenyum kecut melihat Di Jie yang tiba tiba menghilang.
"Senior apa kalian berdua memiliki masalah? " tanya Cao Zhen Xin heran mendengarkan perdebatan singkat tersebut.
"Tidak, namun aku ingin paman Jie hidup bebas tanpa... Ah sudahlah, lebih baik kamu segera berlatih. " ucap Zhu mengalihkan ucapannya.
Tak ingin menanyakan hal yang bersifat rahasia, Cao Zhen Xin hanya mengangguk. Setelah itu ia duduk bersila dan menunggu perintah Zhu.
"Sekarang, masukilah lautan dantianmu, ingatlah pesanku ini. " ucap Zhu memberitahukan pada Cao Zhen Xin tata cara penggabungan enam elemen tersebut.
Cao Zhen Xin yang cerdas kemudian mengikuti apa yang diperintahkan Zhu. Swwuuush! Rohnya memasuki lautan dantian yang sangat luas, setelah itu ia melihat keenam elemen yang melingkar dengan teliti.
"Enam elemen sebenarnya satu, namun mereka terus ingin menonjolkan diri dan menunjukan kekuatan mereka sehingga mereka berpisah dengan lambang berbeda. " gumam Cao Zhen Xin memaknai kata kata tersebut.
"Mereka adalah satu, jadi...." ucap Cao Zhen Xin mengerti kata kata yang sebenarnya sulit diartikan.
Swuuuuung! Tangannya membuat segel tangan yang sangat rumit, setelah jadi segel tersebut bergetar dan melesat mengurung keenam elemen tersebut.
"Penggabungan! " teriak Cao Zhen Xin memaksa keenam elemen tersebut agar bergabung menjadi satu.
Dhuaaaaar! Ledakan yang membuat gelombang lautan dantiannya bergejolak terjadi. Tak hanya itu, fisik nyata dan rohnya tiba tiba terluka sangat parah.
"Uughh! Apa yang terjadi..." ucap Cao Zhen Xin.
Setelah itu ia mencoba mengingat nasehat Zhu.
"Api, air, es, tanah, petir, angin, mereka hanya dapat bersatu jika pemiliknya memiliki hati suci, bersih, tanpa memiliki rasa dendam. " ucap Cao Zhen Xin terkejut karena ia telah mendalami arti tersebut ketika berlatih bersama tiga Buddha.
Swuuuuung! Ia kembali membuat segel tangan rumit, setelah segel tersebut berhasil ia buat, ia kemudian melepaskannya perlahan dan terfokus pada arti yang ia pahami tersebut. Pikirannya ia kosongkan, hanya ada pikiran positif yang kini terus berputar dipikirannya. Hingga tiba tiba aura rohnya terasa sangat agung, tak hanya itu bola matanya yang tadinya hitam kini perlahan bertitik warna enam elemen yang berbeda.
Swuuuush!
###
Maaf satu lagi, dan kurasa episode ini rada gimana. Author baru aja faksin jadi rada ngantuk dan lemes.
__ADS_1
Nek wong jowo ngomong.
"Klambrak klumbruk kaya kumbahan teles."