
Dao Yu yang kini bersama Cao Zhen Xin kini menjadi canggung, apalagi yang tadinya mereka kira Cao Zhen Xin tidak memiliki ranah kultivasi.
"Katakanlah apa yang ingin kalian katakan." ucap Cao Zhen Xin terus menggunakan ilmu meringankan tubuhnya membuka percakapan pada Dao Yu dan rekannya.
"Tu-tuan sebenarnya anda berasal dari mana? " tanya Dao Yu memberanikan diri.
"Yang jelas aku bukan berasal dari keluarga terpandang." jawab Cao Zhen Xin terus melesat.
Dao Yu dan rekannya hanya saling pandang.
"Zeer, apakah kau percaya padanya? " tanya telepati Dao Yu pada Fao Ze.
"Aku tidak tahu pasti, yang pasti jika berurusan dengannya sepertinya bukan hal baik. " jawab Fao Ze kemudian mengikuti lesatan Cao Zhen Xin.
Disela sela menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Cao Zhen Xin yang mengerti apa mereka rundingkan hanya tersenyum simpul.
"Mungkin kalian salah mengira, karena aku hanya bersandiwara menjadi kejam. " ucap Cao Zhen Xin dalam hati.
Swuuuush! Swuuuush! Mereka terus melesat dan hingga tak terasa perjalanan menuju kota Xong memerlukan waktu yang cukup lama.
"Sebenarnya berapa umur kalian? " tanya Cao Zhen Xin.
"Ka-kami berumur dua puluh tahun." ucap Dao Yu tersenyum kecut. Karena wajahnya yang memang terlihat tua.
Cao Zhen Xin mengangguk dan terus melanjutkan perjalanannya.
"Tu-tuan setidaknya kita memerlukan waktu tiga puluh menit untuk sampai dikota Xong, apakah kita akan beristirahat dihutan ini? " tanya Dao Yu.
"Apa kalian lelah? " tanya Cao Zhen Xin menghentikan terbangnya.
"Ti-tidak tuan.." jawab Dao Yu dan rekannya kompak sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika tidak maka kalian bisa lanjutkan perjalanan kalian, aku hanya ingin istirahat sebentar." jawab Cao Zhen Xin.
Dao Yu, Fao Ze, dan dua rekannya mengangguk, mereka kemudian memberikan cincin ruang milik keluarga Mi yang telah mereka pungut.
"Itu ambil saja untuk kalian berempat, aku harap kalian segera menjadi kuat. " ucap Cao Zhen Xin yang tidak membutuhkannya.
Karena bagaimanapun ranahnya ditingkat Dewa Agung tingkat lima.
"Tu-tuan..."
__ADS_1
"Jika kalian menolak aku sangat kecewa pada kalian... Anggap saja sebagai imbalan mengantarkanmu kekota Xong. " ucap Cao Zhen Xin.
"Terimakasih tuan. " ucap mereka semua kompak dan memberikan hormat pada Cao Zhen Xin.
Mereka berempat kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka. Berbeda dengan Cao Zhen Xin yang menatap kearah salah satu pohon besar dibagian timur, senyumnya yang aneh ia perlihatkan.
Swuuuuuush! Tubuhnya menghilang lalu muncul dibelakang pria paruh baya yang ternyata mengikuti perjalanannya sejak berada di kota King.
"Senior kenapa anda mengikuti saya? " tanya Cao Zhen Xin sambil menepuk pundak pria tersebut.
"Ha-hantu..." ucap terkejut pria tersebut.
Cao Zhen Xin tidak tertawa, namun ia melihat jubah pria tersebut yang bermotif naga hitam.
"Apakah dia tetua sekte Naga Hitam. " ucap Cao Zhen Xin dalam hati.
"Ka-kamu..." ucap pria tersebut menghela napas setelah sadar didepannya adalah pemuda yang sebenarnya ia cari.
Cao Zhen Xin menaikan alisnya melihat pria yang ada didepannya seperti memiliki kepentingan padanya.
"Senior katakan saja..." ucap Cao Zhen Xin kemudian dapat membaca pikirannya.
Cao Zhen Xin mengangguk dan mendengarkan cerita Ding Hao dengan serius. Wlaupun ia sudah tau apa pikirannya, namun ia masih mendengarkan cerita Ding Hao dengan baik.
"Emmm jadi benar apa yang aku pikirkan.. Senior maafkan kecurigaanku terhadapmu. Aku Zhen Xin juga meminta maaf pada Senior karena Pedang Nirwana Maut aku yang meminta pada Senior Ding Yin untuk menyimpannya. " ucap Cao Zhen Xin membungkukkan badannya.
"Zhen mungkin ini sudah takdir... Sebenarnya aku juga telah mengikutimu dari lambat laun dan tentunya sepak terjang yang dilakukan olehmu.. Namun aku merasa aku...."
"Senior tidak usah sungkan, tenang saja.. Aku akan membantu senior. " ucap Cao Zhen Xin.
Wajah Ding Hao berubah menjadi senang. Akhirnya ia memiliki harapan untuk merubah sifat kakaknya yang tiba tiba menjadi kejam.
"Terimakasih Zhen.." ucap Ding Hao membungkukkan badannya.
Namun segera dihentikan oleh Qi milik Cao Zhen Xin.
"Aku ingin mengetahui apakah senior Ding Yin masih dapat mengenali Senior? " tanya Cao Zhen Xin.
"Terkadang mengenali, dan terkadang sama sekali tak mengenalku, bahkan para tetua sekte." ucap Ding Hao cepat.
"Masalah ini semakin rumit.." ucap Cao Zhen Xin mengetahui perubahan Ding Yin, apalagi Duan Xi yang pernah bertempur dengannya .
__ADS_1
"Maksud Zhen? " tanya Ding Hao.
"Senior jika anda mengikuti ku hingga sekte Cahaya Suci, apakah senior melihatku bertempur dengan Duan Xi? " tanya Cao Zhen Xin.
Ding Hao tersenyum malu.
"Tentu Zhen, apalagi saat itu aku menyamar sebagai biksu botak." ucap sedikit becanda Ding Hao.
Cao Zhen Xin mendengar hal tersebut langsung tertawa terbahak bahak, karena penuturan yang diucapkan oleh Ding Hao seperti tidak menyukai tingkah para biksu yang dikenal kesuciannya.
"Jika iya bukankah pedang yang digunakan oleh Duan Xi sama dengan pedang yang aku berikan pada Senior Ding Yin? " tanya Cao Zhen Xin.
"Ahhh benar benar..." jawab Ding Hao cepat.
"Jadi Senior Ding Yin kini telah dikendalikan oleh roh yang ada didalam pedang hitam itu.. Hanya saja aku takut jika roh iblis itu tak mau keluar dari dalam tubuh senior Yin. " ucap Cao Zhen Xin.
Ding Hao mengangguk mengerti arah pembicaraan Cao Zhen Xin.
"Mungkin aku sudah ikhlas jika memang hanya itu caranya.. Karena jujur saja saat ini kami para tetua bahkan para murid banyak sekali yang mengeluh dan menderita. Bahkan jika kami keluar dari sekte tanpa izin, kami akan diberikan hukuman berat, bahkan kematian. " ucap Ding Hao.
Cao Zhen Xin mengangguk.
"Senior aku memiliki rencana..." ucap Cao Zhen Xin.
Cao Zhen Xin menjelaskan semua rencananya tanpa ia tutup tutupi.
"Ta-tapi aku takut jika Ding Yin melihatku kembali kesekte aku akan terkena hukuman darinya. Karena aku tidak izin pada saat keluar dan mencari mu..." ucap Ding Hao.
"Senior tenanglah... Jika hukuman yang diberikan oleh Senior Yin adalah kematian untuk senior.. Aku akan menyelamatkan Senior dan tentunya aku langsung berusaha menyadarkan Senior Yin. " ucap Cao Zhen Xin mencoba meyakinkan Ding Hao.
Ding Hao terdiam.
"Baiklah aku akan setuju.." ucap Ding Hao membulatkan tekadnya.
Cao Zhen Xin mengangguk kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Xong untuk mendaftar sebagai murid baru di sekte Naga Hitam. Disela sela perjalanannya, Ding Hao kemudian berpamitan pada Cao Zhen Xin.
"Senior tunggu. Ini giok pesan, aku harap Senior selalu memberiku kabar mengenai Senior Yin. " ucap Cao Zhen Xin.
"Baik! " jawab Ding Hao cepat.
Swuuuuush! Mereka berdua melesat berlawanan arah.
__ADS_1