
Cao Zhen Xin yang ingin melanjutkan kultivasinya tiba tiba menghentikan tindakannya setelah merasakan cincin ruangnya bergetar.
"Zhen kami baru berhasil mengumpulkan tiga puluh persen jumlah murid dan tetua yang berada dipihak kita. " tulisan Ding Hao.
"Senior tidak perlu terburu buru, lebih baik membutuhkan sedikit waktu dari pada cepat namun beresiko. " balas Cao Zhen Xin.
Cao Zhen Xin tiba tiba terpikirkan ranah kultivasi Ding Yin.
"Seberapa kuat kini ranah kultivasi Senior Yin. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin sambil keembalu memasukan sumber daya yang ingin ia serap kedalam Cincin ruangnya.
Karena ia membutuhkan informasi lebih banyak mengenai Ding Yin, Cao Zhen Xin meminta Ding Hao untuk segera menemuinya diasrama.
Selang beberapa menit Ding Hao bersama tetua Li Ying, serta tetua Hu San memasuki kamar Cao Zhen Xin.
"Hormat pada senior..." ucap Cao Zhen Xin menangkupkan tinjunya.
Hu San, Li Ying yang sudah mengerti siapa Cao Zhen Xin membalas hormat Cao Zhen Xin dengan menangkupkan tinjunya.
"Zhen apa ada yang bisa kami bantu? " tanya Cao Zhen Xin.
"Senior... Aku membutuhkan beberapa informasi mengenai Senior Yin." ucap Cao Zhen Xin berterus terang.
"Informasi? Memang apa yang kamu perlukan Zhen.." tanya Ding Hao heran.
"Mengenai ranah Kultivasinya... Dan apakah kalian sudah tau siapa saja yang ada dipihaknya disekte ini? " tanya Cao Zhen Xin.
"Zhen kami benar tidak bisa mengukur ranah kultivasinya sama sekali..." ucap Ding Hao menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi mengenai pihak yang membantu Ketua Yin setidaknya ada delapan tetua divisi utama, dua tetua divisi menengah, dan tiga tetua divisi luar... Sedangkan untuk para murid setidaknya delapan ratus ribu yang terdiri dari divisi utama, menengah, serta luar." timpal Hu San.
"Tuan Zhen itupun belum pasti jumlah yang mengikuti ketua Yin entah dari murid ataupun tetua yang masih kami duga mereka memilih netral." timpal Li Ying.
Cao Zhen Xin mengangguk.
"Berapa kekuatan yang berhasil kalian kumpulkan.." tanya Cao Zhen Xin.
"Saat ini enam tetua divisi utama termasuk kami... Satu tetua divisi tengah dan tiga tetua divisi luar. Jika para murid kami berhasil mengumpulkan sekitar seratus ribu murid dari tiga divisi tersebut. " ucap Ding Hao.
__ADS_1
"Heeem masalah ini sepertinya akan panjang.." ucap Cao Zhen Xin sambil mengelus elus janggutnya.
"Senior aku harap dibagian tetua yang mau bekerjasama dengan kita harus benar benar bukan mata mata dari bagian Ketua Yin.. Karena jujur saja aku ingin mengetahui dahulu ranah milik Senior Yin.."
"Apakah senior bertiga dapat mempertemukan ku dengan Senior Yin? " tanya Cao Zhen Xin.
Ketiganya saling pandang dan kemudian mengangguk secara bersamaan.
"Zhen itu hal yang mudah, namun kamu harus mengikuti tugas yang diberikan oleh ketua Yin.." jawab Ding Hao.
"Tugas ya... Emmm baiklah, namun aku meminta beberapa murid dipihak kita untuk mengikuti rencanaku.. Apakah kalian bisa mencarikan setidaknya sepuluh murid yang bisa dipercaya? " tanya Cao Zhen Xin serius.
"Itu hal yang mudah Zhen.. Namun lebih baik murid terpercaya kami saja yang akan mengikuti segala rencanamu." ucap Ding Hao lagi.
Setelah membahas hal lainnya, Cao Zhen Xin akhirnya membubarkan pertemuan tersebut. Setelah itu ia segera menuju pusat misi yang biasa diberikan oleh sekte.
Sesampainya..
"Sungguh pembantaian... Apa apaan misi ini.. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin terkejut melihat semua misi yang tertera.
"Tuan muda..." ucap telepati seorang pemuda mengejutkan Cao Zhen Xin.
"Tuan muda kami utusan tetua Ding Hao, Li Ying, serta Hu San. " ucap telepati salah satunya.
"Baiklah.. Tunggu aku memilih salah satu misi yang sekiranya tidak terlalu membahayakan nyawa kita. " ucap Cao Zhen Xin kemudian bergegas ketetua yang menjaga aula misi sekte.
"Heem Dewa Agung tingkat satu..." ucap dalam hati Cao Zhen Xin menatap tetua yang sedang memilih berkas.
Tetua tersebut menatap Cao Zhen Xin dengan dingin.
"Kamu milih tugas apa? " ucap tetua tersebut sambil memberikan banyaknya kertas misi yang bisa Cao Zhen Xin pilih.
Cao Zhen Xin memilah milih misi yang sekiranya tidak perlu adanya pertumpahan darah serta membahayakan nyawa murid yang mengikutinya.
"Sayang sekali semua misi ini penuh dengan pertumpahan darah.." ucap dalam hati Cao Zhen Xin sambil membalik balikan semua kertas sambil meneliti satu persatu.
Tetua yang menjaga heran melihat alis pemuda tampan didepannya berubah ubah.
__ADS_1
"Bocah kau mau misi yang bagaimana? Semua misi saat ini hanya membunuh warga desa ataupun dikota kecil maupun besar... Jadi segeralah pilih salah satu misi itu.." ucap kesal tetua tersebut.
Cao Zhen Xin yang mendengarkannya langsung memilih saja pembantaian misi didesa Fao Zi. Desa terpencil dibagian pojok selatan sekte Naga Hitam.
"Oooh jika kamu memilih misi ini maka aku akan memanggilkan beberapa tetua untuk menemanimu." ucap Tetua tersebut akan mengirim pesan, namun segera dihentikan oleh Cao Zhen Xin.
"Tunggu tetua! Aku rasa itu tidak perlu.. Bukankah didesa kita ditugaskan untuk membunuh dan merampok harta mereka. " ucap Cao Zhen Xin heran.
Tetua tersebut menggelengkan kepalanya dengan malas.
"Apa kau ingin mati oleh pendekar yang ada di desa tersebut.." ucap dingin tetua tersebut.
Cao Zhen Xin terdiam kemudian memikirkan rencana kedepannya.
"Ba-baiklah tetua, aku akan menerima saranmu. " ucap Cao Zhen Xin yang telah memiliki ide.
"Apa kamu juga memiliki rekan untuk menemani misimu? " tanya tetua tersebut kemudian sambil mengirim pesan pada tetua yang akan menemani Cao Zhen Xin.
"Ada... Hei temanku mari.." ucap Cao Zhen Xin melambaikan tangannya kearah sepuluh murid yang diutus oleh Ding Hao, Li Ying serta Hu San.
Kesepuluh murid tersebut berbaris rapi dibelakang Cao Zhen Xin.
"Baiklah sekarang isi formulir identitas ini.. Setelah itu kalian temui ketua sekte dikediamannya untuk meminta tanda tangan darinya." ucap tetua tersebut memberikan sebelas kertas formulir identitas.
Cao Zhen Xin mengangguk, dalam hatinya ia sebenarnya ingin menghancurkan semua misi dengan elemen apinya, bahkan menghancurkan tempat tersebut. Tapi apa boleh buat, ia sendiri belum mengetahui keseluruhan kekuatan yang ada di sekte Naga Hitam, terutama Ding Yin.
Rombongan Cao Zhen Xin pun akhirnya menuju kediaman Ding Yin. Disela sela perjalanannya, Cao Zhen Xin hatinya benar benar panas melihat para murid yang berlatih jurus mereka menggunakan target manusia hidup yang sepertinya tawanan sekte.
"Benar benar kejam..." ucap dalam hati Cao Zhen Xin.
Tangannya mengepal erat melihat kejadian panas tersebut.
"Tuan muda.. Reaksimu melihat latihan mereka membuat mereka mencurigai anda.. Jadi lebih baik bersikap acuh tak acuh." ucap telepati salah satu murid.
"Ehhh... Maaf maaf aku terbawa suasana. " ucap telepati Cao Zhen Xin.
###
__ADS_1
Author paketane abis jadi satu episode dulu ya.. Soalnya nda bisa mikir dirumah orang tua karena punya adik pada brisik jadi ga fokus.