
Swuuuuush! Keduanya melesat berlawanan arah. Traaaaang! Suara benturan selendang dengan pedang emas memekikan telinga terdengar.
"Senjata tingkat Dewa. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin kemudian menghindari serangan selendang yang kembali hampir mengenai tubuhnya.
"Selendang Darah! " teriak Xie Lu mengeluarkan jurusnya.
Cao Zhen Xin langsung mundur dan menghindari selendang Xie Lu yang tiba tiba membabi buta bergerak menyerang kearahnya. Ujung selendang yang tiba tiba menjadi runcing membuatnya harus segera menghindar dan menghindar.
"Apa kau hanya bisa menghindar. " provokasi Xie Lu.
"Kata siapa. " ucap Cao Zhen Xin menghilang lalu muncul dibelakang Xie Lu sambil mengayunkan pedang emasnya.
Dhuuaaar! Daya kejut yang lebih mengerikan terjadi saat dua senjata tingkat Dewa berbenturan. Xie Lu terpental kebelakang sejauh sepuluh meter, sedangkan Cao Zhen Xin tak bergeming sedikitpun dari pijakannya.
"Pemuda itu benar benar mendominasi, bahkan mampu mengungguli ranah milik saudara Lu apakah dia masih manusia. " ucap Xie Vu.
"Tenanglah, aku rasa ranah Kultivasinya sama dengan kita, ia mungkin tak ingin memamerkannya. " ucap Xie Wei.
"Saudara Ling menurutmu bagaimana? " tanya Xie Vu yang heran sejak awal Xie Ling hanya diam saja.
"Eehh menurutku benar ucapan saudara Wei. " ucap Xie Ling.
Meskipun sedikit curiga Xie Vu akhirnya melupakan tingkah aneh Xie Ling tersebut.
Diatas langit.
Pertempuran masih sangat sengit. Namun dengan jelas luka goresan pedang mulai terlihat ditubuh Xie Lu.
Dhuuaar! Sriiiiiing! Slaaaaash! Selendang Xie Lu terbelah menjadi dua.
"Arrghhh! Apakah kalian tidak ingin membantuku. " teriak Xie Lu menatwp kearah enam saudaranya.
__ADS_1
Mereka berenam saling pandang sejenak. Gelengan kepala terlihat oleh Xie Vu.
"Saudara Lu bukankah itu urusanmu." ucap Xie Wei.
Mendengar tersebut Xie Lu benar benar marah pada keenam saudaranya.
"Sudah dengarkan? Mereka berenam memang menginginkan kematianmu. " ucap Cao Zhen Xin muncul didepan Xie Lu sambil mengayunkan pedangnya.
Slaaaaaaash! Lengan kiri Xie Lu terlepas dari tubuhnya. Tidak melihat keberadaan Cao Zhen Xin, Xie Lu yang merasa ngilu diarea lengannya langsung memfokuskan pikirannya.
"Aku disini. " ucap Cao Zhen Xin kemudian mengayunkan pedangnya.
Seuliet energi pedang yang keluar dari ayunan pedang Cao Zhen Xin melesat kearah Xie Lu. Xie Lu yang terkejut langsung menutup tubuhnya menggunakan energi Qi miliknya.
Dhuaaar! Ledakan sangat dahsyat terjadi, asap hitam membumbung tinggi diatas langit. Cao Zhen Xin yang tidak merasakan aura kehidupan Xie Lu menatap keenam saudara Xie lainnya.
"Giliran kalian tapi nanti. " ucap Cao Zhen Xin yang tak mungkin membunuh keenamnya sekaligus.
Swuuuuush! Tubuhnya lenyap dan muncul didepan Dao Yu serta tiga rekan lainnya. Keenam saudara Xie lainnya bengong, Xie Lu benar benar telah tewas tanpa membuat luka, setidaknya cedera ditubuh Cao Zhen Xin.
"Sekarang kalian naiklah, dan lanjutkan tahap kedua dengan berhati hati, karena mereka bukan menginginkan kalian tapi nyawa kalian. " ucap Cao Zhen Xin telepati kepada mereka semua.
Sontak tubuh mereka bergetar mendengar hal tersebut.
"Tenanglah, kalian harus pandai menyembunyikan rasa takut itu, karena aku pasti akan berusaha membebaskan kalian dari dunia ini. " ucap Cao Zhen Xin.
Semuanya terdiam, dan anggukan kepala pelan terlihat. Melihat hal tersebut Cao Zhen Xin merasa lebih tenang. Karena kini misinya membunuh keenam saudara Xie lainnya.
Setelah semuanya berhasil menaiki tangga, dan otomatis berhasil melewati seleksi tahap awal. Cao Zhen Xin dan para peserta lainnya muncul dihadapan keenam saudara Xie yang ternyata sedang membuat rencana lainnya. Kalung dileher para peserta pun tiba tiba menghilang tanpa mereka ketahui penyebabnya.
"Selamat untuk kalian semua telah berhasil melewati tahap pertama. Sekarang tahap kedua, kalian akan saling bertarung hingga jumlah kalian saat ini berkurang hingga lima puluh persen dari total jumlah peserta saat ini." ucap Xie Vu.
__ADS_1
"Untuk aturan ditahap kedua ini tidak ada aturannya, karena ditahap kedua ini kalian diperbolehkan membunuh pada setiap peserta yang kalian tantang. " ucap Xie Vu menatap Cao Zhen Xin.
Deeegh! Para peserta yang memiliki ranah dibawah surga tingkat dua langsung jantungnya berdetak kencang. Bahkan beberapa diantara mereka mencoba melawan, namun tiba tiba tubuhnya meledak menjadi kabut darah tanpa mengetahui apa penyebabnya.
"Siapa yang kuat dia yang akan bertahan. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin menatap para peserta yang wajahnya pucat pasi.
Cao Zhen Xin memikirkan sebuah rencana yang dapat menggagalkan tahap kedua, namun tak mungkin ia dapat melakukannya kecuali membunuh keenam saudara Xie secara bersamaan.
"Sepertinya aku hanya bisa diam dan melihat pembantaian didunia kecil ini.." ucap dalam hati Cao Zhen Xin gelisah.
"Penyeleksian tahap kedua dimulai! " teriak Xie Vu.
"Pilihlah lawan kalian masing masing! " ucap lagi Xie Vu.
Para peserta riuh dan langsung mencari lawan yang lebih lemah dari mereka. Namun tidak ada sama sekali yang mau memilij Cao Zhen Xin yang sudah jelas mereka ketahui kekuatannya.
"Ini semakin sulit saja. " ucapnya lirih penuh rasa bersalah.
Tatapannya kini tertuju pada peserta yang mulai melakukan pertempuran hidup dan mati diatas panggung. Meskipun perhatiannya ia teralihkan pada pertempuran, tapi pikirannya sebenarnya sedang menyusun cara agar tahap kedua ini dapat ia gagalkan. Pembunuhan terus terlewati, dan Cao Zhen Xin tak berhenti berpikir. Hingga pertempuran duel para peserta terus ia saksikan didepan matanya. Jalan pikirnya telah buntu, karena jika ia melawan keenam saudara Xie tak mungkin ia memenangkannya.
"Saudara Vu, sepertinya ia sejak tadi mencari cara agar para peserta tidak saling membunuh." ucap telepati Xie Wei.
"Benar apa katamu, hanya ada satu cara menggagalkan rencana ini, yaitu membunuh kita berenam, namun hal tersebut tak akan pernah terjadi. Jadi kita bisa merasa lega. " balas Xie Zhi.
Pertempuran terus terjadi, mereka yang lemah sudah pasrah dan tentunya tinggal menunggu kematian mereka. Mereka hanya bis lesu menatap pertandingan yang bagaikan ladang pembantaian tersebut. Rasa menyesal mereka perlihatkan diwajah lesu mereka. Berbeda dengan mereka yang lebih kuat, mereka terus membantai dan membunuh yang lemah.
Tak terasa peserta terus berkurang hingga benar benar telah berkurang enam puluh persen dari seluruh peserta awal. Cao Zhen Xin yang mengalami pikiran buntu terus mencoba menenangkan pikirannya. Bola matanya terus bergerak dan melirik peserta tersisa yang jelas akan terbunuh.
"Seandainya ranah kultivasiku berada di Kaisar Dewa satu mungkin mereka berenam sudah bukan lawanku. " ucap marah Cao Zhen Xin dalam hati.
"Kematian kalian akan aku balaskan nanti saat ada disekte Naga Hitam, jadi damailah dialam kematian. " ucap Cao Zhen Xin memejamkan matanya.
__ADS_1
#
itsmemana