
Sesampainya..
"Kalian berasal dari divisi mana? " tanya penjaga gerbang tak ramah.
Salah satu murid utusan Li Ying maju dan memberikan plat emas yang menunjukan mereka berasal dari divisi utama.
"Baiklah silahkan masuk dan tunggu diruang tunggu milik ketua Yin." jawab datar penjaga gerbang membuka pintu.
Mereka bersebelas memasuki gerbang tersebut hingga melangkahkan kakinya tiba di ruangan tunggu. Selang beberapa menit menunggu, sebuah aura yang sangat mengerikan, yang membuat bulu kuduk mereka berdiri rasakan.
"Aura gelapnya bahkan tidak disembunyikan oleh Senior Yin. " ucap Cao Zhen Xin dalam hati sambil berpura pura bergidik ngeri seperti kesepuluh murid utusan.
Sosok Ding Yin akhirnya muncul dengan perbedaan yang sangat mencolok. Terlihat dua tanduk dikeningnya yang berwarna hitam, dan bola matanya sedikit kemerahan.
"Kaisar Dewa tingkat lima..." ucap dalam hati Cao Zhen Xin sedikit terkejut.
"Apakah kamu ingin menyelesaikan misi sekte." ucap Ding Yin.
Cao Zhen Xin memimpin kesepuluh lainnya dengan memberikan hormat, serta kepala yang sedikit menunduk.
"Benar Se.... Ketua Yin! " jawab Cao Zhen Xin yang hampir salah kata.
Ding Yin mengangguk, kemudian ia mengeluarkan sebelas pedang hitam yang memiliki aura iblis pekat kepada Cao Zhen Xin.
"Gunakan pedang ini untuk membunuh para warga. Setelah itu jarah semua harta didesa itu.." ucap lagi Ding Yin memberikan sebelas pedang hitam.
Cao Zhen Xin menerimanya dengan senang hati. Setelah itu ia membagikan dan menyimpan pedang hitam tersebut.
"Tetua Lai Heng, dan tetua Xao Hie kemari..." ucap tetua Ding Yin merasakan aura dua tetua dipihaknya menuju kediamannya.
Swuuuuush! Swuuuush! Dua tetua yang bernama Lai Heng dan Xao Hie muncul dibelakang Cao Zhen Xin.
"Hormat pada Ketua Yin." ucap mereka berdua penuh hormat.
"Kalian berdua dampingi murid ini... Ingatlah untuk berhati hati karena didesa yang akan kalian jarah nanti tidak memungkinkan pendekar desa tersebut yang telah lama menghilang akan menghambat misi kalian. " ucap Ding Yin.
"Baik ketua! " jawab mereka berdua kompak.
__ADS_1
"Sekarang kalian kembali keasrama dan persiapkan segala hal yang dibutuhkan... Siang nanti kalian akan menjalankan misi tersebut. " jawab Ding Yin menghilang dari pandangan.
"Baik Ketua! " jawab mereka semua menundukan kepala.
"Siapa namamu bocah? " tanya Lai Heng.
"Zhen dan mereka teman temanku.." jawab datar Cao Zhen Xin.
"Baiklah setelah kalian mempersiapkan diri datanglah ke tempat kediaman kami. " ucap Lai Heng mengangguk dan ikut menghilang dari pandangan.
Cao Zhen Xin mengangguk, setelah itu mereka bersebelas keluar dari kediaman Ding Yin. Disela sela perjalanan menuju asrama, Cao Zhen Xin meminta mereka untuk segera kekamarnya.
Sesampainya..
"Tuan Zhen..." ucap mereka sedikit ragu sambil mengeluarkan pedang hitam yang terus mencoba merusak hati baik mereka.
Cao Zhen Xin mengangguk, meskipun ia tidak merasakan apa yang dirasakan mereka. Namun ia tahu interaksi pedang tersebut terhadap kesepuluh murid utusan.
"Kemarikan pedang tersebut.." ucap Cao Zhen Xin membuat segel tangan rumit.
"Tuan apakah kita benar benar akan memb..." ucap salah satunya terhenti.
"Tidak... Aku memiliki rencana lain untuk menggantikan mayat misi tersebut.. Namun aku harap kalian dapat bekerja sama dengan baik.." jawab Cao Zhen Xin memotong.
Mereka bersepuluh akhirnya bernafas lega, karena bagaimana pun mereka tidak mungkin membunuh orang yang tidak bersalah. Cao Zhen Xin kemudian memberikan pesan terhadap Ding Hao.
"Senior aku ingin yang ada dipihak Senior segera mengambil seluruh misi yang ada... Namun usahakan tetua yang mendampingi mereka juga ada dipihak Senior. Sebelum keberangkatan, mohon tetua master formasi dipihak Senior segera menyegel aura negative yang keluar dari pedang yang diberikan oleh Senior Yin. Setelah itu untuk tidak membuat pihak sekte curiga, para murid dan tetua membunuh hewan iblis, maupun siluman jahat untuk menggantikan nyawa manusia biasa.." kirim pesan pada Ding Hao.
Setelah itu Cao Zhen Xin menatap kesepuluh murid utusan dengan santai.
"Apakah kalian sudah bersiap? " tanya Cao Zhen Xin.
Namun tiba tiba wajahnya menjadi heran melihat kesepuluh murid sepertinya terlihat ragu.
"Katakanlah..." ucap Cao Zhen Xin.
"Tuan Zhen tapi tetua yang mendampingi kita..." ucap salah satu murid memberanikan diri.
__ADS_1
"Tenanglah... Saat ini kita hanya mengikuti misi, setelah sampai ditempat yang dituju kita akan melakukan perubahan rencana yang dibuat oleh sekte." jawab Cao Zhen Xin santai.
"Meskipun umurnya lebih muda dariku tapi pola pikirnya sungguh mengagumkan. " ucap dalam hati kesepuluh murid divisi utama tersebut.
Cao Zhen Xin yang dapat membaca pikiran mereka hanya bisa tersenyum.
"Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan." jawab Cao Zhen Xin.
"Baik.." jawab mereka semuanya kompak.
Mereka bersebelas kemudian memasukan pedang mereka kedalam Cincin masing masing. Mereka menuju kediaman Lai Heng dengan tenang sambil menatap ribuan para murid yang berlatih maupun sedang bercanda.
Sesampainya.
"Ooh kukira kalian tidak akan datang secepat ini.." ucap Lai Heng yang disetujui Xao Hie.
"Lebih cepat lebih baik tetua! " jawab mereka kompak.
"Baguslah aku suka dengan sifat tegas kalian.. Namun aku harap kalian juga mengutamakan kekejamannya. " ucap Xao Hie.
Mereka akhirnya keluar dari sekte menuju desa Fao Zhi bersama. Didalam perjalanan mereka, Cao Zhen Xin selalu berbincang lewat telepati kepada sepuluh murid utusan. Tak bisa ia pungkiri wajah mereka yang tegang karena takut rencana mereka terbongkar.
"Kalian tidak usah terlalu takut.. Aku akan bertanggung jawab jika ada masalah terkait dua tetua ini." ucap Cao Zhen Xin terus menenangkan mereka semua.
Namun kedua tetua sedikit heran mengenai kesebelas murid yang mereka dampingi selalu diam disela sela menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
"Lai Heng kenapa mereka seperti orang asing yang belum mengenal." ucap telepati Xao Hie.
"Entahlah tapi aku rasa mereka sepertinya gugup mengenai misi yang mereka ambil.. Jadi biarkan mereka membiasakan diri." balas Lai Heng.
Cao Zhen Xin yang tak sengaja membaca pikiran mereka kemudian kembali berbincang menggunakan telepatinya.
"Ingatlah biasakan perbincangan disela sela perjalanan, mereka sepertinya sudah curiga. Karena itu jangan panggil aku dengan sebutan tuan Zhen. Panggil saja namaku.." ucap Cao Zhen Xin kemudian mencoba mengenal kesepuluh murid utusan.
Swuuuuush! Swuuuuush! Swuuuuush! Mereka terus melesat menggunakan ilmur meringankan tubuh mereka. Perjalanan mereka sedikit membuat mereka risih mengenai kultivator atau orang lain yang juga menuju kearah selatan langsung minggir dan tak berani sama sekali menatap rombongan mereka.
"Sungguh sekte yang mulai ditakuti. " ucap dalam hati Cao Zhen Xin hanya bis menggelengkan kepalanya.
__ADS_1