Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Mengincar Sang Bunga


__ADS_3

Barra meminta beristirahat di kamar tamu. Rumah Barra yang cukup luas dengan tiga kamar memang lebih terasa nyaman dibandingin rumah yang Ayahnya tinggali bersama Mursidah saat ini. Namun tak semerta-merta membuat Mawar nyaman karena rasa canggung akan hubungannya dengan Barra yang dulunya terjalin sebagai saudara sepupu kini berubah menjadi Ayah dan anak. Terlebih melihat sikap ibunya yang seakan tidak suka akan kehadirannya membuat Mawar berpikir harus tinggal dimana lagi yang bisa membuatnya nyaman dan menerima kehadirannya dengan senang hati.


Mawar membaringkan tubuhnya menghilangkan rasa penat di hati dan pikirannya atas peristiwa yang sudah terjadi pada dirinya beberapa hari ini. Netranya memandang langit-langit kamar seraya berpikir kenapa Tuhan tidak memberikan kehidupan sempurna seperti Tuhan menciptakan fisiknya yang di inginkan banyak lelaki dan membuat iri perempuan lain. Andai saja Mawar boleh memilih, Ia akan lebih memilih kehidupan yang sempurna dan bahagia dibanding anugerah kecantikan yang ia miliki. Namun manusia bisa berbuat apa selain menerima takdir yang Maha Kuasa.


Beberapa menit berlalu, Tanpa di sadari Mawar terlelap tidur hingga tidak mendengar ketika Mona datang menyusul ke kamar.


Melihat Mawar sudah tidur, Mona kembali ke kamar dan menghampiri Barra yang baru keluar dari kamar mandi.


"Barra, Kamu beneran mengizinkan Mawar tinggal disini seberapa pun yang Mawar inginkan?"


"Ya tentu saja, Kenapa kamu terlihat keberatan dia kan putrimu?"


"Bukan begitu Barra, Kalau Mawar tinggal di sini bagaimana dengan Lily, Kasihan dong dia tinggal sendiri?"


"Kalau begitu suruh Lily tinggal bersama kita sekalian."


Mendengar itu, Mona bukannya merasa senang, Justru malah semakin merasa khawatir jika anak-anak gadisnya tinggal bersama suami mudanya.


"Loh kok malah diam, Hubungi Lily katakan suruh tinggal dengan kita."


"Aku rasa itu tidak perlu, Lily sudah besar biarkan dia menjadi mandiri."


"Kalau begitu terserah kamu saja."


Melihat Barra yang sudah berpenampilan rapi, Dari belakang Mona melingkarkan kedua tangannya di bahu Barra, Ia bergelayut manja dan mencondongkan tubuhnya ke samping menatap wajah suami mudanya "Apakah kita akan keluar makan malam?"

__ADS_1


Barra melepaskan kedua tangan Mona dan memutar tubuhnya hingga posisi mereka kini saling berhadapan.


"Hanya Aku."


Mendengar itu Mona langsung mengerucut sedih.


"Kenapa hanya kamu, Kenapa tidak mengajak ku, Memangnya kamu mau makan malam dengan siapa?" tanya Mona penuh curiga.


"Dengan teman-teman kantor, Dan memang gak ada yang bawa istri juga." ujar Barra yang fokus merapikan pakaiannya tanpa menoleh kepada Mona. Hal itu membuat Mona cemburu dan juga curiga.


"Tidak biasanya kamu serapi ini?" tanya Mona.


"Kata siapa, Dari dulu kamu juga tau Aku orangnya rapi."


Barra tersenyum dan menatap Mona.


"Sudahlah, Jangan curiga berlebihan, Aku berangkat dulu, Nanti kemaleman." hanya mencubit kecil dagu Mona, Barra berlalu pergi meninggalkan kamar.


Mona hanya bisa diam tanpa bisa menghentikan Barra yang pergi tanpa dirinya untuk ke sekian kalinya. "Apakah Barra mulai bosan dengan ku?" batin Mona menarik nafas dalam-dalam.


•••


Seminggu di rumah Barra, Kondisi Mawar sudah membaik, Rasa trauma nya pun sudah hilang sehingga Ia juga sudah kembali sekolah seperti biasanya. Setelah jam sekolah selesai, Mawar kembali pulang ke rumah Barra dengan nyaman karena ibunya tidak menunjukan rasa cemburunya meskipun di belakang mereka Mona selalu siaga mengawasi gerak-gerik keduanya. Hal itu terbukti ketika Barra ingin mengantar Mawar ke sekolah sekalian ia berangkat kerja, Mona selalu melarangnya dengan berbagai macam alasan. Hingga pada suatu malam, Mawar terbangun karena mendengar suara benda terjauh. Karena merasa penasaran Mawar beranjak bangun dan membuka pintu secara perlahan. Dengan hanya menimbulkan kepalanya, Mawar mengintai mencari-cari suara apa yang ia dengar.


Rasa penasarannya hilang setelah netranya tertuju pada vas bunga yang pecah di bawah meja yang tak jauh dari kamarnya. Melihat itu Mawar berinisiatif memunguti satu persatu pecahan vas bunga tersebut hingga tanganya terhenti ketika menyentuh sepatu yang tiba-tiba muncul di depannya.

__ADS_1


Mawar pun mengangkat kepalanya perlahan menelusuri sosok yang memakai sepatu di depannya, Setelah kepalanya menengadah sempurna, Mawar melihat Barra yang rupanya berdiri di hadapannya.


"Kak Barra." lirih Mawar.


"Bangunlah Mawar," ucap Barra mengulurkan tangannya pada Mawar.


Melihat uluran tangan Barra, Tanpa rasa curiga Mawar memegang tangan Barra dan kembali berdiri berhadapan dengannya. Namun suasana menjadi menegangkan ketika dengan mata memerah Barra terus menatap tajam Mawar seakan ingin menerkamnya.


"Kak Barra, Apa Kakak baik-baik saja?"


"Aku akan baik jika kamu mau menolongku." ujarnya penuh misteri.


"Menolong Kakak? Maksudnya?"


"Ikut dengan ku!" Barra langsung menarik tangan Mawar masuk kedalam kamarnya.


"Kak Barra mau ngapain, Kenapa kita ke kamar?" tanya Nawar yang mulai takut.


"Aku sudah menahan ini sejak kedatangan mu, Tapi ibumu selalu saja mengawasi kita, Sekarang Ibu mu sudah tidur nyenyak karena makanan yang sudah ku campur dengan obat tidur. Jadi sekarang... Hanya kita berdua, Ayo Mawar... Habiskan malam bersama ku, Aku sudah tidak tahan lagi ingin menghi*ap madu mu."


"Apa yang Kak Barra katakan, Kak Barra sudah menikah dengan ibu, Sudah menjadi Ayah ku."


"Perse'tan dengan seratus itu, Jika Aku bisa tidur dengan istri Om ku, Kenapa tidak bisa dengan sepupuku?" seperti orang mabuk, Barra terus mencoba mendekati Mawar yang terus menghindar dan melemparkan beberapa barang ke arahannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2