Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Terkejut


__ADS_3

Sebelum mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah Fandi,


Begitu jam pelajaran selesai, Mawar segera pergi meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah lama, Ia ingin tau terlebih dahulu apakah Lily masih suka membawa Raka pulang atau tidak.


Tanpa mempedulikan Fandi yang tengah mengambil motornya, Mawar yang melihat Angkot melintas, Segera menghentikan angkot tersebut, Mawar sengaja tidak meminta izin terlebih dahulu pada Fandi karena Mawar yakin Fandi akan mengizinkannya pergi, Terlebih ke rumah lama yang kemungkinan akan ada Raka di sana.


Namun pengaruh Bu Hana cukup kuat sehingga Mawar berniat meninggalkan rumah Pak Fandi dan mencari tempat untuk ia tinggali sekalipun ia harus kembali ke rumah lama dan tinggal bersama kakaknya, Karena dari ketiga rumah yang bisa ia datangi, Hanya rumah lama lah yang terbilang paling nyaman untuk nya.


Sementara Fandi yang baru mengeluarkan motornya dari garasi sekolah, Di hentikan oleh Bu Hana yang juga ingin mengambil motornya.


"Pak Fandi..."


"Ya..."


"Nanti malam kan malam Minggu..."


"Lalu?"


"E... Pak Fandi kan libur memberikan les, Jadi bisakah kita keluar bersama?"


"Tidak."


Bu Hana langsung terhenyak mendengar jawaban singkat Fandi yang tanpa basa-basi.


"Bu Hana, Sudah seringkali Aku nengatakan, Jangan pernah mengharapkan apapun dari ku." ujar Fandi dengan sikap dinginnya.


"Setidaknya beri Aku kesempatan sekali saja," ucap Bu Hana sedikit memaksa.

__ADS_1


"Aku minta maaf Bu Hana, Tapi Aku tidak bisa, Lagipula Aku sudah memiliki kekasih." ujar Fandi yang menjalankan motornya dengan ayunan kaki melewati Bu Hana.


"Apakah itu Mawar?" pekik Bu Hana.


Fandi yang mendengarnya mematikan nesin motornya dan menoleh ke belakang. "Itu bukan urusan mu." jawab Fandi dan kembali menyalakan motornya kemudian pergi meninggalkan Bu Hana.


"Sombong sekali dia. Berkali-kali menolak ku dan sekarng malah nemilih bocil itu! Lihat saja apa yang bisa ku lakukan untuk memisahkan mu dari Mawar." batin Bu Hana menatap punggung Fandi dengan dendam.


Sesampainya di gerbang, Fandi tidak melihat Mawar di tempat biasa ia menunggunya, Karena Fandi pikir Mawar ngambek karena ia kelamaan berbincang dengan Bu Hana, Fandi pun menyusuri jalan seperti yang ia lakukan ketika pertama kali Mawar cemburu kepada Bu Hana. Namun hingga cukup jauh ia menelusuri jalan yang mungkin Mawar lewati, Fandi tidak juga menemukan Mawar.


"Kemana Mawar pergi, Apa dia menggunakan angkot untuk pulang?" batin Fandi.


Fandi pun bergegas pulang untuk memastikan itu. Namun begitu sampai rumah pintu masih terkunci, Tidak ada tanda-tanda Mawar telah pulang, Untuk memastikan itu, Fandi masuk kedalam dan meneriksa kamar Mawar, Tapi benar saja, Nawar tidak ada di kamarnya. Hal itu membuat Fandi khawatir dan coba menghubungi Mawar.


Tuuuttt.... Tuuuttt.... Tuuuttt....


"Kemana Mawar pergi?" ucap Fandi yang semakin merasa khawatir.


Sementara Mawar yang telah sampai depan rumahnya, Melangkah tegang ke depan pintu. Ia merasa ragu untuk mengetuk pintu, Berpikir ulang tentang keputusannya.


Setelah cukup lama berpikir, Mawar tidak jadi mengetuk pintu dan berniat pergi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan Lily dari dalam rumah.


"Rakaaaa... Rakaaaa... Aku belum selesai bicara, Jangan tutup telponnya!"


Mendengar itu, Mawar kembali lagi dan langsung membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


Ckleekkk...

__ADS_1


Lily terkejut mendengar suara pintu terbuka. Ia menoleh dan melihat Mawar yang sudah lama tidak ia temui.


"Mawar..."


"Kak Lily..."


Lily langsung memeluk Mawar dan menangis di pundaknya.


Mawar yang merasa bingung, mencoba tenang dan mengusap-usap punggung kakaknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Mawar.


"Raka... Hiks... Hiks... Hiks..."


"Apa yang terjadi dengan Raka?"


"Tidak ada yang terjadi dengannya, Dia baik-baik saja tapi Aku..." Lily terus menangis di sela-sela ceritanya.


"Apa? Apa yang terjadi Kak, Katakan dengan jelas?"


"Mawar... Aku... Aku hamil..."


Bagai tersambar petir di siang hari, Mawar langsung melepaskan pelukannya. "Hamil?" tanya Mawar memastikan.


Lily mengangguk-anggukkan kepalanya dengan derai air mata.


Ia baru saja memberitahukan tentang kehamilannya pada Raka. Namun Raka menyangkal itu dan menutup ponselnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2