
Mawar mengernyitkan keningnya melihat Fandi yang memejamkan mata. Merasa bingung dengan apa yang Fandi lakukan, Mawar melihat pada diri sendiri. "Tidak ada yang aneh." batin Mawar.
Namun Fandi tidak kunjung membuka mata sehingga Mawar membuatnya tersentak.
"Pak Fandi!"
"Hah!" sontak Fandi membuka mata dan melihat Mawar yang yang menatapnya penuh selidik.
"Apa yang sedang Pak Fandi lakukan, Kenapa pekan mata seperti itu, Emang ada yang salah dengan Mawar?"
"A-e... T-tidak!" jawab Fandi gugup.
"Terus kenapa Pak Fandi gugup?"
"S-siapa yang g-gugup?"
"Itu gugup, Jangan-jangan Pak Fandi beneran suka sama Mawar yah? Hayo ngakuuu..."
"Apaan sih kamu, Jangan kepedean deh, Aku ke sini mau nyuruh kamu masak, Cepetan Aku sudah sangat lapar!" tegas Fandi yang kemudian pergi.
Mawar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasa gatal.
Kenapa Pak Fandi tiba-tiba menyuruhnya masak, Padahal selama ini kalau tidak beli, Pak Fandi sendiri yang memasak untuknya.
"Ahh daripada pusing mikirin lebih baik Aku ke dapur saja."
Mawar pun pergi ke dapur dan melihat Fandi tengah mengeluarkan ayam, Udang, Sayuran serta mie putih dari dalam kulkas.
__ADS_1
"Kenapa berdiri saja di situ, Cepatlah kemari." tegas Fandi yang melihat Mawar hanya berdiri di pintu.
Setelah Mawar mendekatinya, Fandi menyuruh Mawar memasak apa yang sudah ia siapkan.
"Cepat kerjakan ini," ucap Fandi sembari memberikan wadah bumbu kepadanya.
"Tapi Pak..."
"Tapi apa?"
"Mawar kan gak bisa masak,"
Fandi menarik nafas dalam-dalam dan mengambil kembali wadah bumbu dari tangan Mawar.
"Ya sudah bersihkan sayur itu, Biar Aku yang bikin bumbunya."
Mawar mengangguk dan mengerjakan apa yang Fandi suruh.
Sesekali netranya menatap Mawar yang tengah fokus mencuci sayuran dan juga udang. Bibirnya tersenyum melihat kebersamaan mereka di dapur. "Seperti pasangan yang baru menikah saja." batin Fandi menggelengkan kepala menertawakan pikirannya sendiri.
Seketika tawanya terhenti saat Mawar memekik kecil.
"Aowhhh..."
"Mawar!" Fandi langsung berlari mendekati Mawar yang meringis kesakitan.
Mawar yang terlihat sudah menghi'sap jari telunjuknya termangu menatap Fandi.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Mawar begitu melepaskan jari telunjuknya.
"E... Tadi kamu berteriak, Kenapa?"
"Oh ini, Ketusuk kepala udang, Kenapa, Pak Fandi khawatir yaa...?" goda Mawar.
"Ahh sial, Bisa-bisanya Aku di godain gadis kecil sepertinya." batin Fandi.
"Hayo ngakuuu..."
"Iya khawatir, Takut di penjarain kaya Indra," ucap Fandi menutupi alasan sebenarnya.
Mendengar itu, Mawar jadi teringat peristiwa saat Indra mencoba memaksakan kehendaknya. Kemudian Raka, Barra dan juga keempat pria yang tak di kenal yang juga berusaha melakukan hal yang serupa, Membuat Mawar cemas mengingat kini dirinya hanya tinggal berdua dengan Fandi.
"Mawar... Ada apa? Kenapa kamu berkeringat?" tanya Fandi yang melihat wajah cemas Mawar.
"A-e... T-tidak Pak, A-aku hanya merasa pusing."
"Kamu sakit?"
"T-tidak, Aku hanya ingin istirahat, Bolehkah Aku pergi ke kamar?" tanpa menunggu jawaban dari Fandi, Mawar langsung pergi meninggalkan dapur.
"Ada apa dengan Mawar, Kenapa tiba-tiba dia terlihat takut?" Fandi merasa bingung karena memang sama sekali tidak tahu apa yang membuat Mawar tiba-tiba berubah sikap.
Tidak mau ambil pusing karena perutnya yang sudah begitu lapar, Fandi pun meneruskan masak sendiri.
Sementara Mawar di kamar merenung memikirkan nasibnya yang tak seberuntung teman-teman sekolahnya, Memiliki keluarga lengkap, Rukun dan bahagia.
__ADS_1
Andai saja ia di beri pilihan, Ia akan lebih memilih memiliki keluarga utuh yang bahagia daripada memiliki kecantikan yang sempurna hingga di juluki bunga desa.
Bersambung...