
Mawar yang mengira Fandi tidak akan mengajaknya makan terlebih dahulu merasa bingung karena setengah perjalanan Fandi menghentikan motornya di pinggir jalan.
"Kok berhenti Pak?"
"Kamu gak lihat itu ada rumah makan?"
Mawar menoleh ke samping kanan melihat rumah makan sederhana yang cukup ramai pengunjung.
"Tadi katanya gak mau makan?"
"Emang tadi Aku bilang gak mau?"
"Ya nggak sih, Tapi tadi Pak Fandi diam saja, Kirain mau langsung pulang gak makan dulu."
"Nggak lah, Ntar anak orang kelaparan lagi. Dah cepetan turun."
Mawar tersenyum dan turun dari motor, Kemudian mengikuti Fandi yang jalan terlebih dahulu di depannya.
Setelah memesan makanan, Fandi mengeluarkan ponsel dari kotaknya dan memberikannya pada Mawar.
"Nih mulai sekarang kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi Aku, Nomerku sudah ku simpan di situ."
Mawar mengambil ponsel tersebut dan melihat daftar kontak yang hanya tersimpan satu nomor saja.
"Orang ganteng" Mawar mengernyitkan keningnya ketika membaca kontak dengan nama tersebut, Kemudian menatap Fandi dan menutup mulutnya untuk menahan tawanya.
"Kenapa tertawa, Emang ada yang salah?"
__ADS_1
Mawar menggelengkan kepalanya dan tak dapat menahan tawanya hingga ia tertawa lepas.
Melihat itu Fandi temangu menatap Mawar, Baru kali ini ia menatap Mawar tertawa lepas. Sebuah momen yang jarang sekali Fandi lihat sejak kabar perceraian kedua orang tuanya beredar luas di sekolah.
Menyadari tatapan Fandi, Mawar menghentikan tawanya dan mengalihkan pandangannya sejenak. Kemudian Mawar kembali menatap Fandi yang masih tak melepaskan pandangannya.
"M-maafkan Aku Pak, Jangan menatapku seperti itu."
"Teruslah tertawa seperti itu, Aku menyukainya."
"Apa?!"
"A-e... Tidak, Maksud ku teruslah tertawa, Kamu memang dari dulu murid yang tidak pernah mau mengakui ketampanan ku."
Mawar kembali tertawa lepas hingga tawanya terhenti saat seseorang menyenggolnya.
Dengan rasa terkejut Mawar menoleh ke belakang. Melihat orang yang menabraknya. Dan alangkah terkejutnya Mawar melihat orang itu adalah Lily, Kakaknya.
"Kak Lily..."
Lily tersentak dan menoleh ke arah Raka yang berdiri di sampingnya.
"Jadi selama ini kamu pergi dari rumah pergi bersamanya?" tanya Lily sembari melirik Fandi dengan sinis.
Fandi hanya menatap Lily dengan tenang, Ia tau sikap Lily masih berkaitan dengan perasaanya yang selalu ia abaikan meskipun beberapa kali Lily mengirimkan surat cinta kepadanya.
"Tidak Kak, Sebelumnya Aku tinggal bersama Ayah, Lalu tinggal bersama ibu, Tapi karena ada masalah jadi..."
__ADS_1
"Kamu memang pembawa masalah Mawar! Jadi dimana pun kamu tinggal pasti akan selalu terjadi masalah!"
Mawar menundukkan kepalanya. Merasa sedih dengan apa yang Lily katakan.
"Hati-hati saja Pak Fandi... Jika Pak Fandi tidak ingin mendapat masalah, Maka jauhilah Mawar, Karena dia hanya cantik di luarnya saja, Tapi hatinya penuh duri yang akan melukai setiap orang yang berada di sekitarnya. Sama seperti namanya!" setelah memaki Mawar, Lily menggandeng tangan Raka untuk mencari tempat duduk.
Di saat bersamaan pesanan mereka datang.
Pelayan menghidangkan makanan dan mempersilahkan mereka menikmati. Namun Mawar yang masih sedih akan kata-kata kakaknya hanya berdiri menatap kosong makanan yang ada di meja.
"Mawar... Jangan dengarkan ucapan kakak mu, Sekarng duduklah, Kita makan."
"Tapi yang di katakan Kak Lily benar, Dimanapun Aku berada, Masalah akan selalu menyertai ku," ucapnya sedih.
"Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, Jadi bukan karena ada tidaknya kamu, Apa kamu pikir setelah kamu menjauh dari Ayah dan ibu mu mereka tidak akan pernah mendapat masalah?"
Mawar menggelengkan kepala, Antara tidak tau dan membenarkan jika dirinya jauh dari mereka maka masalah tidak akan datang menghampiri mereka.
"Bagaimana jika suatu saat Aku menimbulkan masalah di kehidupan Pak Fandi?"
Fandi menarik nafas dalam-dalam dan melangkah mendekati Mawar. Kemudian memegang kedua bahunya dari belakang dan membuatnya duduk.
"Tidak perlu memikirkan apa yang belum terjadi, Sekarang makan karena Aku sudah lapar sekali."
Mendapat perlakuan demikian Mawar merasa tenang. Ia menatap Fandi yang langsung menyantap makanannya dengan lahap.
Baru saja Mawar sedikit mengulas senyum dan ingin menyantap makanannya, Tanpa sengaja netranya tertuju pada Lily yang tengah menatapnya sinis dari kursi tak jauh dari mereka duduk.
__ADS_1
Bersambung...
📌 Kenapa nih makin banyak yang favorit makin sedikit yang komen? Kan jadi kurang semangit 😌