
Fandi masih mencengkeram pergelangan tangan Mawar untuk meminta penjelasan darinya. Entah kenapa hatinya begitu terbakar melihat kebersamaan Mawar dan Aryo yang di matanya begitu mesra.
"Katakan Mawar!"
"Akan ku katakan tapi tidak sekarang."
"Kenapa, Kamu belum memikirkan alasannya?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Mawar menaikan sedikit dagunya memberinya isyarat ada seseorang di belakangnya.
Fandi menoleh ke belakang dan melihat Bu Hana yang berjalan ke arahnya. Sontak Fandi langsung melepaskan cengkraman tangannya dan menenangkan hatinya yang masih terasa panas.
"Pak Fandi... Mawar, Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Bu Hana begitu sampai di depan mereka.
"E... Hanya tanya pelajaran hari ini Bu, Permisi." Mawar langsung pergi masuk ke kelas membuat Fandi kembali resah dan ingin segera menyusulnya. Dan gerak gerik itu di perhatikan oleh Bu Hana.
"Pak Fandi...?"
"E-ya?"
"Pak Fandi kelihatan cemas, Apa pak Fandi baik-baik saja?"
"Ya, Aku baik-baik saja, Kalau begitu Aku duluan ya..." Fandi bergegas meninggalkan Bu Hana, Menghindari Bu Hana bertanya lebih jauh lagi.
Begitu masuk kelas Fandi kembali di buat cemburu melihat Aryo yang duduk di meja, Dekat bangku Mawar.
__ADS_1
Melihat Fandi menatapnya tajam, Mawar yang tengah tertawa lebar langsung terdiam dan menepuk lengan Aryo untuk pergi dari hadapannya.
"Husttt! Pergi sana!" tegas Mawar sembari memberi isyarat.
Aryo yang paham dengan isyarat tersebut menoleh ke belakang dan langsung turun dari meja kemudian kembali ke bangkunya.
Fandi masih menatap Mawar tajam seolah masih menuntut penjelasan darinya. Hingga sepanjang pelajaran berlangsung Fandi juga tidak begitu fokus seperti biasanya. Fokusnya hanya tertuju pada Mawar hingga jam istirahat tiba dan semua murid telah keluar, Fandi masih duduk di kursinya. Hingga pada saat Mawar bangkit dari bangkunya baru Fandi beranjak bangun dan menghentikannya.
"Kamu belum menjelaskannya Mawar!"
Belum sempat Mawar membuka mulut untuk menjelaskan. Seorang siswi datang memanggil Pak Fandi. Sontak Pak Fandi kembali melepaskan tangan Mawar dan sedikit salah tingkah.
"Maaf Pak, Pak Fandi di tunggu kepala sekolah."
Fandi hanya mengangguk pasrah dan bergegas meninggalkan Mawar tanpa penjelasan yang ia harapkan.
Begitu Mawar keluar, Para siswi menatap Mawar penuh curiga seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar yang merugikan mereka. Terlihat juga siswi yang memanggil Pak Fandi tengah berbisik kepada siswi lainnya sambil menatap Mawarnya sinis.
Setelah jam pelajaran selesai. Mawar berniat menunggu Pak Fandi di tempat biasa. Namun mengingat kejadian tadi pagi, Mawar meminta Aryo untuk menemaninya.
Aryo memang siswa yang konyol dan menyenangkan sehingga Mawar nyaman dan percaya dengannya. Berbeda dengan siswa lain yang mendekatinya hanya karena menyukai dirinyanya.
"Aku anterin sekalian yuk..." ujar Aryo.
"Nggak lah tungguin Aku nemuin angkot aja." saut Mawar beralasan.
"Kenapa sih kan enak gak bayar, Gak pake nunggu?"
"Nggak mau ngerepotin aja."
__ADS_1
"Apa bedanya, Nggak mau ngerepotin tapi sekarang lagi ngerepotin, Minta di tungguin."
"Ya elah bentar doang, Besok Aku jajanin deh." rayu Mawar.
"Beneran yah jajanin." saut Aryo bersemangat.
"Iya, Cilok dua ribu."
"Ya elah cilok doang, Kirain mau beliin mie ayam atau Bakso, Lah ini cuma cilok..."
Mawar tertawa-tawa mendengar jawaban Aryo.
Dan lagi-lagi Fandi melihat hal itu dari kejauhan sehingga membuatnya semakin merasa kesal terhadap Mawar.
Tawa Mawar terhenti ketika melihat Pak Fandi, Ia langsung menyuruh Aryo pergi supaya tidak mengetahui jika ia akan pulang bersama Pak Fandi. Namun Aryo yang tiba-tiba di suruh pergi merasa bingung dengan sikap Mawar.
"Kenapa Mawar, Kan angkotnya belum ada?"
"Gak papa, Bentar lagi juga ada."
"Tau darimana, Emang kamu pake Angkot on-line?"
"Jangan banyak tanya, Cepat pergi." Mawar memakaikan helm kepada Aryo agar cepat pergi dari sana, Karena Pak Fandi sudah semakin dekat.
Meskipun masih merasa bingung. Namun Aryo mengikuti perintah Mawar untuk pergi. "Ya udah lah, Bye..." dengan melaju cepat Aryo meninggalkan Mawar, Dan di saat bersamaan Pak Fandi sampai di hadapan Mawar.
"Kenapa kamu menyuruhnya pergi?" tanya Fandi dengan wajah serius.
"Bukankah seharusnya begitu, Pak Fandi tidak ingin kan orang lain mengetahui kedekatan kita, Apalagi sampai ada yang tau kita tinggal bersama?"
__ADS_1
Fandi terdiam. Awalnya ia memang menginginkan hal itu, Tapi setelah melihat kedekatan Mawar dengan pria lain kenapa hatinya ingin semua orang tau jika Mawar bukan hanya sekedar murid didiknya.
Bersambung...