
Setelah jam pelajaran selesai, Mawar langsung meninggalkan sekolah tanpa menunggu Fandi yang tengah mengambil motornya.
Meskipun mereka sudah membuat kesepakatan agar Mawar menunggu di tempat Fandi menurunkannya saat berangkat, Namun karena merasa kesal, Mawar terus berjan tanpa mau menunggu di tempat yang di janjikan.
"Kemana Mawar, Sudah di bilangin suruh nunggu di sini malah gak ada." gumam Fandi yang sudah sampai di tempat yang mereka janjikan.
Fandi melihat-lihat ke ujung jalan, Kemudian berinisiatif menelusuri jalan untuk menemukan Mawar, Rasa khawatir dan tak habis pikir kenapa Mawar bersikap demikian terus bermain di pikirannya.
Hingga pada akhirnya Fandi melihat Mawar yang tengah melangkah di tepian jalan.
"Mawar..."
Mawar hanya menoleh sesaat.
Melihat Fandi yang manggilnya, Mawar kembali melangkah tak mempedulikannya.
"Mawar... Kamu kenapa sih, Kok kaya ngambek gitu."
"Dasar gak peka banget sih, Pake nanya lagi kenapa." gumam Mawar sambil mempercepat jalannya.
"Mawar... Kok malah makin cepet sih?"
__ADS_1
Mawar tak menghiraukan perkataan Fandi. Justru dengan setengah berlari Mawar menghindari kejaran Fandi. Merasa di abaikan, Fandi menghentikan motornya di tepi jalan dan berlari mengejar Mawar.
Fandi menggapai tangan Mawar dan menariknya hingga tubuh mereka bertabrakan.
"Hah!" Mawar membulatkan matanya melihat dirinya yang tak berjarak lagi dengan Fandi, Bahkan saking dekatnya Mawar dapat merasakan detak jantung Fandi yang terasa begitu cepat.
"Kamu ini kenapa? Dan mau pergi kemana kamu, Rumah ku di sana!" hardik Fandi sembari menunjuk tikungan ke arah rumahnya.
Mawar menurunkan pandangannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa kali ini hatinya begitu kesal melihat kedekatan Pak Fandi dan Bu Hana, Padahal selama ini ia melihatnya biasa saja.
"Sekarang malah diem, Mau nangis?"
Mendengar itu Mawar kembali kesal dan melepaskan kedua tangan Fandi dari lengannya.
Mendengar itu Fandi terhenyak sesaat, Hingga tak menyadari Mawar yang kembali melangkah pergi meninggalkannya. Kemudian bibirnya tersenyum memahami apa yang Mawar katakan.
"Jadi bocah kecil itu sedang merasa cemburu." Fandi tersenyum lebar kemudian mengangkat kepalanya dan melihat Mawar yang sudah jauh pergi meninggalkannya.
"Dasar bocah..." Fandi menggelengkan kepalanya dan kembali untuk mengambil motornya.
Merasa Fandi tidak lagi mengejarnya, Mawar menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.Dan benar saja, Fandi tidak lagi mengejarnya.
__ADS_1
"Pak Fandi nyebelin banget sih! bukannya berusa jelasin malah pergi begitu saja!" Mawar menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Kemudian ia menepi ke atas jembatan sambil terus berbicara sendiri mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Udahan ngomelnya?"
Mawar langsung menoleh ke belakang dan melihat Fandi di atas motornya. Fandi melemparkan senyum sembari menaikturunkan kedua alisnya.
Masih berlaga ngambek, Mawar kembali berbalik badan membelakangi Fandi.
Tidak mau berdebat di pinggir jalan, Tanpa bicara lagi Fandi langsung menarik tangan Mawar untuk duduk di motornya.
"Ngambeknya di rumah aja," ucap Fandi sambil melingkarkan kedua tangan Mawar di pinggangnya.
"Pegang yang erat jika tidak mau terjatuh."
Belum sempat Mawar menarik kembali tangannya, Fandi melajukan motornya sehingga Mawar langsung memeluk erat tubuh Fandi.
Merasakan pelukan dari Mawar, Fandi tersenyum menikmati, Meskipun ia tidak bisa melihat wajah Mawar yang tersembunyi di balik punggungnya. Namun Fandi dapat merasakan degupan jantung Mawar yang terasa begitu kencang.
"Gila, Jadi begini rasanya meluk cowok." batin Mawar sambil menatap punggung Fandi yang tegap.
Tidak berhenti sampai disitu, Mawar juga menghirup aroma tubuh Fandi yang begitu menggoda indra penciumannya.
__ADS_1
Bersambung...