
Bu Hana merasa heran melihat Fandi keluar dari belakang sekolah sembari merapikan pakaiannya. Karena rasa penasarannya Bu Hana memanggil nama Pak Fandi beberapa kali. Namun Fandi tidak mendengarnya dan berlalu begitu saja. Kemudian Bu Hana bergegas menyusulnya tapi langkahnya terhenti ketika melihat Mawar yang juga keluar dari belakang sekolah dengan gerak gerik mencurigakan.
"Apa mereka ketemuan?" batin Bu Hana yang kemudian berpikir jauh mengenai apa yang Pak Fandi dan Mawar bisa lakukan.
Tidak mau rasa penasaran terus mengganggu pikirannya, Bu Hana bergegas mendekati Mawar.
"Mawar..."
"E-bu Hana..." seketika itu juga Mawar menjadi tegang dan menundukkan kepalanya.
"Ngapain kamu ke belakang sekolah?"
"E-nggak ada Bu, Cuma ingin sendiri aja."
"Sendiri atau sama Pak Fandi?"
"E... Pak Fandi? Kenapa bisa sama Pak Fandi? Memmang Pak Fandi dari belakang sekolah juga?"
"Jangan berpura-pura Mawar, Saya sudah sering mendengar desas desus tentang mu dan Pak Fandi dari anak-anak."
Mawar terdiam, Takut salah menjawab yang nantinya akan merugikan mereka berdua.
"Dengar ya Mawar, Kamu itu masih kecil, Fokuslah untuk belajar, Jangan sampai kamu bertindak sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri, Pak Fandi itu sudah dewasa, Sudah banyak pengalaman dalam percintaan jadi jangan terlalu di anggap serius jika Pak Fandi bersikap baik padamu." Bu Hana sengaja mengatakan itu agar Mawar merasa ragu pada Fandi. Dan benar saja, Perkataan itu membuat Mawar terdiam merenungi apa yang baru saja Bu Hana katakan.
•••
Sepulang Sekolah, Fandi di buat heran dengan sikap Mawar yang sepanjang perjalanan tak banyak bicara seperti biasanya.
Mawar hanya bicara jika di tanya, Itupun hanya menjawab dengan singkat, Jika tidak di tanya maka Mawar hanya diam saja.
Sampai rumah pun Mawar masih diam saja dan langsung pergi ke kamarnya. Membuat Fandi semakin heran dan penasaran apa yang terjadi dengannya.
"Mawar..." Fandi segera mengejar Mawar yang hampir menutup pintunya.
"Ada apa dengan mu, Kenapa kamu tiba-tiba diam seperti ini, Bukankah tadi di sekolah semuanya baik-baik saja?"
"Aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat."
__ADS_1
"Ada yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada." jawab Mawar yang langsung menutup pintu rapat-rapat.
"M-Mawar..." Pak Fandi ingin mengetuk pintunya. Namun ia mengurungkannya dan membiarkan Mawar di dalam kamarnya.
Hingga malam menjelang, Mawar tidak juga keluar dari kamarnya.
Fandi yang sudah menunggunya di ruang makan, Beranjak dari duduknya untuk memanggil Mawar di kamarnya. Namun sampai beberapa kali Fandi mengetuk pintu, Mawar tidak juga menjawab apalagi membukakan pintu, Hal itu membuat Fandi khawatir.
"Mawar... Apa kamu baik-baik saja?"
"Mawar jangan bikin Aku khawatir Mawar, Buka pintunya!"
Tidak juga mendapat jawaban dari Mawar, Fandi bersiap mendobrak pintu kamar Mawar. Namun di saat bersamaan Mawar membuka pintu hingga menabrak tubuh Mawar sehingga keduanya terjatuh di lantai.
"Aowhhh..." ringis Mawar yang kepalanya terbentur lantai.
Bukan hanya itu, Tubuh mungilnya juga terimpa oleh Fandi yang justru diam menatap Mawar.
Mawar yang mengingat kata-kata Bu Hana segera bangkit dan berjalan membelakangi Fandi yang masih terduduk di lantai.
Fandi yang masih merasa penasaran dengan perubahan sikap Mawar, Bergegas bangkit dan mendekatinya.
"Sebenarnya ada apa dengan mu Mawar? Kenapa sejak pulang sekolah kamu diam saja?" Fandi memutar tubuh Mawar hingga menghadapnya. Namun Mawar terus menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Fandi.
"Mawar! Lihat Aku, Aku sedang bertanya pada mu!" dengan kesal Fandi mencengkeram wajah Mawar dan membuat kepalanya mendongak menatapnya.
"Ada apa dengan mu? Katakan jika kamu memiliki masalah!"
Mawar menggelengkan kepalanya tidak dapat bicara karena cengkraman tangan Fandi yang cukup kuat, Menyadari hal itu, Fandi langsung menurunkan tangannya.
"Sekarang katakan?"
"Beberapa hari lagi ujian akhir semester..."
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadiii... Aku pikir, Aku harus lebih banyak belajar untuk menghadapi ujian."
"Lalu apa hubungannya dengan kamu mendiamkan ku?"
"Ada, Karena jika Aku di dekat Pak Fandi, Aku tidak bisa berpikir tentang pelajaran."
"Lalu?"
"Aku ingin sampai ujian selesai, Kita jaga jarak terlebih dahulu."
"Bagaimana mau jaga jarak Mawar, Kita tinggal bersama, Setiap hari kita berangkat bersama, Berada dalam satu kelas yang sama, Satu rumah yang sama, Mana tahan jika tidak saling bicara."
"Kita tetap bisa saling bicara tapi seperlunya saja, Jangan deket-deket dulu..."
"Kenapa?" Fandi memotong ucapan mawary dan melangkah mendekati Mawar, Membuat Mawar melangkah mundur hingga mentok di dinding.
"Kamu tidak tahan jika Aku mendekati mu?" pertanyaan yang menggoda dari Fandi membuat Mawar gugup dan berdebar kencang.
"A-e... B-bukan begitu Pak, A-aku hanya ingin fokus belajar."
Melihat mimik wajah Mawar yang begitu tegang serta bicaranya yang gemetar membuat Fandi tersenyum.
"Ya baiklah, Aku paham, Baru begini saja kami sudah begitu tegang, Bagaimana kalau lebih, Bisa-bisa nilai ujian mu telor ayam semua."
dengan gemasnya Fandi mengacak-acak rambut Mawar dan menarik tangannya.
"Mau kemana Pak?"
"Makan, Apa jika kita jaga jarak kamu tidak perlu makan?"
Mawar menggelengkan kepalanya dan mengikuti Fandi yang terus menggenggam tangannya hingga ke meja makan.
"Duduklah." dengan penuh perhatian Fandi menarik kursi dan mempersilahkan Mawar duduk. Setelah itu Fandi duduk di depannya dan menyajikan makanan untuk Mawar dan dirinya.
"Bagaimana Aku bisa menghindarinya jika sikap Pak Fandi seperti ini, Apa Aku harus pergi dari rumah ini?" batin Mawar menatap Fandi yang tengah tersenyum kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1