
Lily yang seharusnya mengikuti ujian kenaikan kelas tidak dapat mengikuti akibat keterpurukannya. Selama seminggu ini ia hanya menangis tak tau apa yang harus di lakukan. Pernah ia mendatangi rumah Raka, Namun Orang tuanya dengan tegas menyangkal itu dan lebih percaya dengan apa yang Raka katakan. Lily yang hanya seorang diri tidak mampu melawan keluarga Raka yang kompak menyerangnya. Hanya tangis sesal yang Lily dapatkan atas pergaulan bebasnya.
"Aku tidak punya pilihan lain." Lily bergegas bangkit dari duduknya dan meninggalkan rumah. Ia menuju rumah Barra berniat mengadu kesedihannya pada sang ibu. Biar bagaimanapun hanya kepada ibulah seorang anak mengungkapkan keluh kesahnya.
Sesampainya di sana, Lily menghentikan langkahnya di depan pintu ketika mendengar pertengkaran Barra dan ibunya.
"Sudah sering ku katakan, Jangan pernah pertanyakan apapun! Suka-suka Aku mau pulang tengah malam, Pulang pagi atau tidak pulang sekalipun, Itu tidak ada urusannya dengan mu!"
"Selama ini Aku sudah diam Barra, Tapi..."
"Tapi apa? Apa kesabaran mu sudah mulai habis, Baguslah jika kamu tidak tahan lagi dengan ku, Karena Aku juga sudah muak dengan mu yang sangat membosankan!"
Setelah tidak lagi mendengar pertengkaran, Lily pun membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, Lily terdiam melihat ibunya yang tengah menangis di sofa.
Tanpa sengaja Mona melihat Lily yang sudah berdiri di depan pintu. Mona pun segera menghapus air matanya dan mendekati Lily.
"Lily..."
"Ibu..."
Mereka berpelukan dan sama-sama menangis meratapi masalahnya masing-masing.
"Kenapa kamu menangis nak?" tanya Mona.
Lily terus menangis menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Lily... Bicaralah, Apa yang terjadi?"
"Ibuuu... Aku hamil."
"Apa!? Hamil?"
Lily menganggukkan kepala dengan wajah yang terus tertunduk.
"Jika saja waktu itu kamu mendengarkan ibu, Pasti ini tidak akan terjadi Lily..."
"Maafkan Aku ibu..."
"Baiklah, Sekarang kita tinggal cari solusinya, Katakan apa kamu sudah memberitahu pacar mu jika kamu hamil?"
Sontak Mona dan Lily menoleh kepada Barra yang tengah menuruni anak tangga.
"Jadi kamu hamil?" tanya Barra ketika sampai di depan Lily.
"E-I-iya Kak." jawabannya ragu.
"Hhhhuuuuffffttt... Aku tidak habis pikir, Ibu dan anak sebelas dua belas." ujar Barra yang kemudian berlalu pergi.
"Barra tunggu!"
Barra yang sudah sampai depan pintu, Kembali menoleh menatap mereka.
__ADS_1
"Bisakah jika Lily tinggal bersama kita?"
Barra terdiam menatap Lily, Dalam hatinya ia sudah begitu bosan hidup bersama Mona. Namun ia teringat akan jasa Heru yang merawatnya sejak kecil hingga ia bisa mapan seperti sekarang.
"Barra..."
"Tinggal lah semau kalian," ucap Barra yang kemudian melangkah pergi.
Setelah pulang sekolah Bu Hana melihat Fandi membonceng Mawar. Karena rasa penasarannya ingin tau kemana mereka akan pergi, Bu Hana pun membuntuti mereka dari jarak yang cukup jauh.
"Jika Pak Fandi mau mengantar Mawar pulang, Lalu untuk apa mereka mampir makan siang?" gumam Bu Hana yang melihat Fandi menghentikan motornya di sebuah rumah makan.
"Ini benar-benar makin mencurigakan." batin Bu Hana yang terus memata-matai mereka. Hingga mereka keluar dari rumah makan, Bu Hana segera membungkukkan badannya agar tidak terlihat oleh mereka.
Setelah itu Bu Hana kembali mengikuti Fandi hingga saat tiba di belokan gang, Bu Hana yang tau persis jika gang itu menuju rumah Fandi tak dapat percaya dengan apa yang ia lihat.
"Jadi gosip yang selama ini Aku dengar benar jika pak Fandi dan Mawar berpacaran?" batin Bu Hana.
Bu Hana pun turun dari motor dan bersembunyi untuk mengintai mereka masuk ke dalam rumah.Masih tidak yakin dengan kenyataan di depan mata, Bu Hana pun menunggu mereka hingga malam. Namun hingga malam kian larut mereka tidak lagi keluar dari dalam rumah.
"Apa jangan-jangan mereka tinggal bersama?" batin Bu Hana.
Bersambung...
📌 Add FB Author I'tsmenoor yah, kalian boleh protes dan teror Author di sana jika gak update2 🤣
__ADS_1