Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Marah


__ADS_3

Keesokan harinya, Fandi menurunkan Mawar di tempat biasa dan langsung meninggalkannya. Namun tidak seperti hari-hari biasanya, Kali ini langkah Mawar di hentikan oleh Raka yang tiba-tiba muncul di depan Mawar hingga membuatnya nyaris tertabrak oleh motor yang Raka kendarai.


Mawar memejamkan mata dan mundur beberapa langkah menghindari motor Raka. Sementara Raka hanya tersenyum smirk dan turun dari motornya.


"Hai Mawar... Apa kamu merasa takut?"


"Raka... Ngapain kamu pagi-pagi kemari?"


"Aku merindukan mu Mawar, Setiap hari Aku menunggu di rumah mu, Tapi ku tidak juga pulang, Kenapa Mawar, Bukankah kamu belum memenuhi rasa penasaran mu?" Raka mengedipkan mata untuk menggoda adik dari kekasihnya itu.


"Raka! Jangan pernah menemui ku, Selain Aku tidak sudi menatap wajah mu, Aku juga tidak ingin gara-gara pria seperti mu Kak Lily semakin membenci ku!"


"Berani-beraninya kamu menghina ku!" dengan kasar Raka mencekik leher Mawar hingga membuat gadis kecil itu tak dapat berbicara sepatah katapun.


"Sekarang ikut dengan ku!" Raka menyeret tangan Mawar dan memintanya naik ke atas motor.


"Lepasin... Raka... Lepas!" Mawar terus memberontak meskipun tenaganya tak mampu melawannya.


"Raka! Lepassss...."


Raka yang tidak sabar lagi membopong tubuh Mawar untuk naik ke jok belakang. Namun pada saat ia ingin naik, Seseorang menarik kembali tangan Mawar hingga turun dari motor Raka.


"Mawar!"


"Aryo!" Mawar begitu terkejut mematap Aryo teman sekelasnya.

__ADS_1


"Kamu tidak papa?"


Mawar hanya menggeleng pelan, Dan kembali melihat Raka yang juga melihatnya.


Dengan kesal, Raka kembali turun dari motor dan menarik kembali tangan Mawar. "Berraninya kau menghalangi ku!"


"Kenapa tidak? Ini terjadi di depan mata ku, Apa Aku harus diam saja?" tanya Aryo yang menarik balik Mawar ke sisinya.


"Anak kecil sok mau jadi pahlawan!" tanpa ba bi bu Raka langsung menonjok perut Aryo.


"BHUGGG..."


"Aryooo..." teriak Mawar yang langsung berlari menahan tubuh Aryo yang terpental beberapa langkah ke belakang.


"Aku tidak papa Mawar, Teriaklah meminta tolong agar seseorang datang menolong kita."


"Dasar pengecut!" pekik Aryo melihat motor Raka yang melaju dengan kencang.


"Apa bedanya dengan mu yang menyuruh ku berteriak minta tolong bukannya melawan dan menghajarnya sendiri?"


"Hehehe..." Aryo hanya menggaruk-garuk kepalanya tak bisa menjawab pertanyaan Mawar.


"Sudahlah, Ayo kita berangkat, Nanti kita telat."


Mereka pun jalan beriringan.

__ADS_1


Dan di sepanjang jalan mereka berbincang dan tak jarang mereka tertawa dengan gurauan satu sama lain hingga di gerbang sekolah.


Tanpa sengaja, Fandi yang bersiap memasuki kelas melihat Mawar yang baru sampai bersama Aryo tertawa lepas berjalan menuju kelas yang sama tanpa melihat dirinya.


"Kenapa Mawar baru sampai?" batin Fandi.


"Dan bagaimana bisa Mawar bersama Aryo, Aku kan menurunkannya di tempat biasa." batinnya lagi.


Berbagai macam pertanyaan bermain di pikirannya hingga ia tersentak oleh suara Aryo yang menyapanya.


"Selamat Pagi Pak Fandi..."


"A... E... Ya, Selamat Pagi."


Mawar hanya tersenyum tipis dan mengikuti Aryo yang telah memasuki kelasnya. Namun baru saja Mawar sampai pintu, Fandi kembali menarik tangan Mawar keluar hingga membuat gadis kecil itu terkejut.


"Pak Fandi?"


"Kenapa baru sampai, Dan bagaimana bisa kamu datang bersama Aryo? Apa kamu janjian dengan nya?!" tanya Fandi yang nyaris tak membuka mulutnya karena tidak ingin murid lain mendengarnya.


Mawar menggeleng pelan menatap Pak Fandi yang terlihat begitu marah.


"Lalu apa Mawar?!"


Dari kejauhan, Bu Hana memperhatikan Fandi yang bicara begitu dekat dengan Mawar. Saking dekatnya siapapun yang melihat pasti akan menilai jika mereka menjalin hubungan lebih tak sekedar guru dan murid.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2