
Sekuat tenaga Mawar menahan pintu supaya Raka tidak bisa masuk. Namun apalah daya Mawar, Tubuh mungilnya tak mampu mengimbangi kuatnya tenaga Raka.
BHRAAKK...!!!
"Ahhh...!!! Mawar kembali terpental. Sementara Raka yang berhasil masuk langsung melancarkan aksinya dengan menyeret tubuh Mawar ke tempat tidur.
"Tolo... Mmmm..." Raka langsung membungkam mulut Mawar yang mencoba berteiak.
Dengan satu tangan kiri membungkam mulut Mawar, Netranya mencari-cari sesuatu di sekitarnya. Melihat ada Syal tak jauh darinya, Raka meraih syal tersebut dan mengikatkan ke mulut Mawar.
"Erghhh... Erghhh..." Mawar terus mencoba memberontak dengan memukul-mukul bahu Raka serta sesekali memberinya tendangan. Namun Raka yang sudah seperti kerasukan setan tak beralih sedikitpun dari posisinya.
Setelah selesai mengikat mulut Mawar, Raka yang menduduki kedua kaki Mawar, membuka pakaian kemudian menci'umi Mawar yang sudah semakin tak berdaya, Kedua tangannya pun tidak tinggal diam dan segera menurunkan celananya.
Matanya menatap tajam ke arah bawah seolah sudah tidak sabar lagi menyantap hidangan di depan matanya. Ketika tahan jahanam itu ingin menyibak dress yang Mawar kenakan, Sebuah benda berat menghantam kepalanya.
BHUG...!!!
"Aaaaa..." Mawar yang melihat Raka akan tumbang di atasnya segera bergeser. Ia menoleh ke samping dan melihat Pak Fandi sudah berdiri di sana dengan helm di tangannya.
"Pak Fandi..."
__ADS_1
"Mawar..." Fandi langsung membuang helm yang digunakan untuk memukul Raka, Kemudian meraih tangan Mawar dan menuntunnya turun dari ranjang.
Dengan rasa yang masih ketakutan, Mawar memeluk Fandi sembari melihat Raka yang masih memegangi kepalanya.
"Kurrrang ajar!" teriak Raka yang kemudian bangkit menyerang Fandi. Dengan sigap Fandi menangkis serangan Raka dan meminta Mawar menepi.
Perkelahian pun terjadi dengan sengit dan berimbang antara keduanya. Secara bergantian Raka dan Fandi jatuh tersungkur dan bangkit untuk kembali bertarung.
"Berrraninya kau datang kemari dan menyentuh Mawar!" hardik Fandi mencengkeram kerah baju Raka dengan begitu kesalnya.
"Kenapa tidak, Kamu saja berani membawanya tinggal bersama mu, Pasti kalian sudah berhubungan layaknya suami istri kan?"
"Berrani bicara kotor lagi Aku akan memanggil polisi untuk menyeret mu dari sini!"
"Hegh! Lakukan saja jika kamu ingin Aku mengatakan pada semua warga jika kamu dan Mawar telah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan, Oh atau mungkin kamu sekalian mau bilang pada polisi biar mereka grebeg dan mengamankan kalian berdua?"
Mendengar itu Fandi terdiam dan menatap Mawar.
Melihat kesempatan itu, Raka mendorong tubuh Fandi dan menertawakan Fandi yang seolah tak berkutik.
"Jika rahasia kalian ingin tetap aman maka jangan pernah berani-berani melaporkan ku ke polisi!" setelah mengatakan itu, Raka mendorong tubuh Fandi dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Fandi hanya diam tak memiliki pilihan lain. Ia tidak ingin semua orang tau mereka tinggal bersama dan menimbulkan masalah besar untuk keduanya.
Setelah Raka pergi, Mawar mendekati Fandi yang masih mematung di tempatnya. "Pak Fandi terluka," ucap Mawar sedih.
"A-e... Aku tidak papa Mawar, Kamu sendiri bagaimana, Apa ada yang terluka?" dengan penuh rasa khawatir, Fandi meneliti seluruh tubuh Mawar.
"Aku tidak papa Pak, Pak Fandi yang terluka karena ku,"
Fandi memegang ujung bibirnya yang berdarah, Serta tulang pipinya yang terasa sakit karena memar. "Ini... Tidak papa Mawar, Nanti juga sembuh sendiri."
Mawar langsung memeluk Fandi dan menangis tersedu-sedu hingga membasahi pakaian yang Fandi kenakan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika Fandi tidak datang menolongnya.
"Semua sudah berlalu Mawar," ucap Fandi sembari memeluk tubuh Mawar, Sementara tangan kanannya mengusap-usap punggung Mawar untuk menenangkan anak didiknya itu.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Pak Fandi tidak kembali, Aku takut sekali," Mawar terus menangis menumpahkan kesedihannya.
"Bagaimana mungkin Aku tidak kembali, Kamu begitu berarti untuk ku, Sehingga perasaan ku tidak enak dan menuntunku kembali pulang, Dan benar saja bahaya sedang mengancam mu?" Fandi memegang kedua sisi wajah Mawar dan menengadahkan wajahnya agar menatapnya.
Keduanya menjadi hening, Saling menatap satu sama lain seolah tengah meyakinkan diri masing-masing jika mereka memiliki perasaan yang sama, Perasaan yang spesial, Lebih dari sekedar guru dan murid.
Bersambung...
__ADS_1