Layunya Bunga Desa

Layunya Bunga Desa
Tawaran


__ADS_3

Sekitar kurang dari satu jam akhirnya kepala desa datang mengajak serta Pak Lurah dan perangkat Desa lainnya.


Namun sebelum kedatangan mereka Ayah Fandi sudah kembali meracuni pikirannya supaya tidak mau menikahi Mawar. Dan benar saja saat Fandi di hadapkan oleh pertanyaan Pak Lurah, Fandi menolak pernikahan itu meskipun dengan ragu-ragu. Namun Mawar bersikeras agar Fandi bertanggung jawab.


Mendengar Mawar yang bersikeras ingin menikah dengan putranya. Ayah Fandi beranjak masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian ia kembali keluar dengan membawa koper berisikan uang pecahan seratus ribu.


"Ini kan yang kamu inginkan?" tanya Ayah Fandi menyodorkan uang itu kepada Mawar.


Para perangkat Desa melihat Mawar menunggu jawaban darinya. Begitupun dengan Revan yang dengan setia mendampingi adik tirinya itu.


"Aku tidak menginginkan ini." tegas Mawar menutup koper tersebut.


"Kamu bisa pikir-pikir dulu Mawar, Kamu bisa menggunakan uang ini untuk lanjutkan pendidikan mu maupun membantu keuangan keluarga mu, Daripada kamu menikah tapi tidak bahagia," ujar Pak Lurah.


"Ingat Mawar, Laki-laki kalau sudah tidak suka, Tidak bisa di paksa, Jika kalian para wanita memaksanya maka hanya penderitaan yang akan kalian dapatkan." sambung kepala desa.


Fandi terdiam menatap Mawar yang juga tengah menatapnya.


Rasa cinta dan hasutan dari Ayahnya terus bertarung dalam pikirannya.


"Jika masih kurang, Ambil kunci mobil ini, Yang penting jangan pernah meminta kami untuk menerima mu menjadi anggota keluarga kami!" tegas Ayah Fandi.

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan itu menatap Mawar menunggu jawaban apa yang akan Mawar berikan.


Setelah beberapa menit Mawar berpikir akhirnya Mawar memberikan jawaban yang lagi-lagi membuat semua orang tercengang.


"Aku katakan sekali lagi, Meskipun Aku miskin Aku tidak akan menerima apapu selain pertanggungjawaban Pak Fandi!"


"Kamu tidak bisa memaksa putra ku! Kalian melakukannya atas suka sama suka, Jadi jika Fandi tidak mau menikahi mu, Itu bukan suatu kesalahan!"


"Jelas itu suatu kesalahan, Pak Fandi sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan ku!"


Suara Mawar yang tidak kalah tinggi, Membuat Ayah Fandi semakin murka, Ia memerintahkan para perangkat Desa untuk membawa Mawar pergi dan diskusi dengan perangkat Desa dimana Mawar tinggal.


"Lalu apa yang harus ku lakukan, Namaku sudah tercemar karena perbuatannya! Kita lihat saja sejauh mana gadis tidak tau diri ini terus mempermalukan dirinya sendiri!"


Pak Lurah dan yang lainnya mulai beranjak dari duduknya. Tak terkecuali dengan Revan. Namun tidak dengan Mawar yang masih terdiam menatap Fandi.


Fandi yang mengingat masa-masa indah yang sudah mereka lewati bersama mulai merasa luluh dan meminta agar Ayah nya mengizinkannya untuk berbicara dengan Mawar. Namun dengan tegas Ayah menolak keinginan Fandi dan menarik Fandi masuk.


"Pak Fandi..." lirih Mawar yang langsung berdiri seakan ingin melangkah untuk mengejarnya. Namun Revan memegang tangan Mawar untuk menghentikannya.


"Sudah cukup Mawar," ucap Revan.

__ADS_1


Mendengar hal itu Mawar hanya bisa menatap Fandi yang juga terus menatapnya hingga Fandi menghilang dari pandangannya.


Setelah itu Revan mengajak Mawar keluar dari rumah Fandi, Mendekati para perangkat Desa yang tengah berdiskusi.


Melihat Mawar datang, Mereka mengajak Mawar pulang karena sesuai perintah Ayahnya Fandi, Mereka akan menemui perangkat Desa setempat.


Mawar yang masih bersikeras ingin menikah dengan Fandi dan meyakini Fandi masih mencintainya, Juga menyetujui apa yang Ayah Fandi inginkan, Ya itu di selesaikan antar kepala Desa.


Tiga jam berselang, Mereka sampai di rumah Mawar, Heru yang lagi-lagi terkejut melihat kedatangan Mawar yang kini membawa beberapa orang bersamanya, Melangkah mendekati mereka.


"Mawar..."


"Selamat sore Pak." sapa Kepala Desa.


"Sore, Ada apa yah rame-rame, Mawar siapa mereka?"


Pak lurah pun memperkenalkan diri dan menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak Fandi. Heru menjadi begitu terkejut mendengar cerita itu. Ia tidak habis pikir Mawar yang dulu tidak pernah macam-macam, Memiliki pribadi yang baik kini menjadi begitu berani hingga melibatkan para petinggi Desa.


Bersambung...


Maaf ya kemarin gak sempet nulis 🙏

__ADS_1


__ADS_2