
Setelah cukup lama mereka terdiam. Keduanya tersentak dan memalingkan wajahnya satu sama lain. Kemudian keduanya mengikis jarak dan saling membelakangi karena merasakan kecanggungan yang sama.
"A-e... Akan ku ambilkan air hangat untuk mengompres luka mu." ujar Mawar yang kemudian pergi ke dapur mengambil wadah. Kemudian Mawar menuangkan air termos dan mencari handuk kecil di kamarnya. Setelah itu ia kembali dan menyuruh Fandi untuk duduk di depannya.
"Aku tidak melihat obat, Jadi sementara pake ini dulu, Aku harap Pak Fandi akan merasa lebih baik," ucap mawar yang kemudian mulai mengompres bagian wajah Fandi yang lebam.
Fandi hanya diam menatap Mawar, yang fokus mengompres wajahnya. Setelah memalingkan pandangannya tanpa sengaja Fandi melihat pergelangan tangan Mawar yang memar.
"Mawar tangan mu?"
"Oh ini..." Mawar tidak melanjutkan ucapannya mengingat bagaimana Raka merenggut kesucian nya.
"Maafkan Aku mawar, Kemarilah gantian Aku yang mengompres mu."
Mawar mengulurkan tangannya dan membiarkan Fandi mengompresnya. Kali ini Mawar yang terus menatap Fandi tanpa berkedip hingga pada saat Fandi mengangkat kepalanya menatap Mawar. Mawar langsung memalingkan wajahnya kesana kemari menyembunyikan kegugupannya.
"Apa kamu menatap ku?"
"Hanya melihat saja, Bukankah tadi Pak Fandi juga melihat ku?"
__ADS_1
Pertanyaan balik Mawar, Membuat Fandi terdiam.
"Selalu saja gadis kecil ini berhasil membuatku mati kutu." batin Fandi.
"Hhuffft... Ya, Baiklah, Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"
"Maksud Pak Fandi?"
"Ya maksud ku, Sikap yang akan kamu ambil untuk Raka, Apakah kamu akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Indra?"
"Aku belum tau, Tapi jika Aku harus melaporkannya maka Aku harus keluar dari rumah Pak Fandi agar Raka tidak ada alasan untuk mengancam kita."
"Ya sudah, Kalau begitu Mawar ke kamar dulu ya Pak, Udah malem." dengan perasaan yang sama sedihnya, Mawar pergi ke kamar.
Di dalam kamar Mawar menangis mengingat perkataannya yang ingin meninggalkan rumah namun Pak Fandi hanya diam saja seolah setuju jika dirinya pergi.
"Yah mungkin ini yang terbaik untuk Pak Fandi, Lagi pula Aku sudah terlalu banyak merepotkannya." batin Mawar yang kemudian tidur memeluk gulingnya.
Keesokan harinya, Mawar bangun lebih awal dan menunggu Fandi di meja makan. Melihat Mawar telah bersiap dengan barang-barang yang sudah ia kemasi, Fandi termangu menatap Mawar.
__ADS_1
"Jadi Mawar akan benar-benar pergi?" batin Fandi.
Melihat Fandi yang terus menatap barang-barang yang akan ia bawa, Mawar menjelaskan dan meminta izin untuk membawa semua barang pemberiannya.
"Itupun jika Pak Fandi tidak keberatan." ujar Mawar mengakhiri penjelasan.
"Aku tidak peduli dengan semua barang-barang ini Mawar, Aku hanya mencemaskan mu." kata-kata itu hanya sampai di tenggorokannya. Ntah kenapa mulutnya sulit sekali mengakui jika dirinya tidak ingin Mawar pergi.
"Tapi jika Pak Fandi keberatan Aku tidak akan membawanya." lanjut Mawar yang melihat Fandi hanya diam saja.
"A-e... Tidak masalah."
Mawar terhenyak mendengar jawaban Pak Fandi yang terlihat tidak ingin mencegahnya pergi.
"Kenapa Aku mengatakan itu sih." sesal Fandi dalam hati ketika melihat Mawar sedih.
"Ya sudah, Kalau begitu setelah pulang dari sekolah Mawar tidak pulang ke sini lagi, Pak..." lagi-lagi Mawar merasa kecewa karena Fandi tidak juga memberi jawaban apalagi mencegahnya agar tetap tinggal.
Bersambung...
__ADS_1